
Plt. Kepala Dispar Kukar Awang Agus Dharmawan.(Dok. Andri/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Penguatan seni dan budaya daerah menjadi salah satu strategi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dalam mengembangkan sektor pariwisata berbasis kearifan lokal. Upaya tersebut diwujudkan melalui Program ke-8 Kukar Idaman Terbaik, yakni Penguatan Penggiat Seni dan Budaya Daerah.
Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar menyambut baik program tersebut karena dinilai memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui kegiatan seni dan budaya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispar Kukar, Awang Agus Dharmawan, mengatakan program tersebut sejalan dengan arah pembangunan pariwisata daerah yang ingin menjadikan potensi seni dan budaya sebagai salah satu daya tarik unggulan.
“Saat program ini disampaikan ke Bupati, kami langsung menyambut dengan baik karena sejalan dengan arah pembangunan pariwisata Kukar,” ujarnya, Kamis (5/11/2026).
Menurutnya, selama ini para pelaku seni telah memberikan kontribusi besar dalam menjaga dan melestarikan identitas budaya Kukar. Namun, keberadaan mereka masih membutuhkan dukungan yang lebih kuat, baik dari sisi pembinaan maupun kelembagaan.
“Program ini sangat relevan dengan upaya kami di dinas, karena tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga memberi ruang tumbuh bagi pelaku seni lokal,” tambahnya.
Melalui program tersebut, Dispar Kukar mendorong sejumlah bentuk dukungan bagi penggiat seni, mulai dari pembinaan rutin, penyediaan sarana pendukung kegiatan, penguatan legalitas sanggar, hingga pelatihan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.
Selain pelestarian, pengembangan seni dan budaya juga diarahkan agar terintegrasi dengan destinasi wisata. Salah satu potensi yang disiapkan adalah revitalisasi Pulau Kumala sebagai pusat pertunjukan seni, budaya, dan kuliner yang merepresentasikan keberagaman Nusantara.
Awang menjelaskan, optimalisasi Pulau Kumala diharapkan dapat memperkuat posisi Tenggarong sebagai pusat sejarah dan kebudayaan di Kalimantan Timur.
“Pulau Kumala akan difungsikan kembali secara optimal sebagai etalase budaya Kukar, sekaligus mendukung Tenggarong sebagai pusat sejarah dan budaya di Kalimantan Timur,” terangnya.
Ia juga mendorong agar pengembangan pusat kegiatan seni dan budaya tidak hanya terpusat di ibu kota kabupaten, tetapi dapat diperluas hingga seluruh kecamatan. Dengan demikian, pemerataan aktivitas kebudayaan dan penguatan identitas lokal dapat berjalan lebih optimal.
Meski demikian, Awang menekankan pentingnya perencanaan yang matang serta petunjuk teknis sebagai pedoman pelaksanaan program. Hal ini diperlukan agar seluruh kegiatan tetap berorientasi pada pelestarian dan pemberdayaan seni budaya daerah.
“Karena seni budaya ini sangat luas dan fleksibel, maka perlu ada petunjuk teknis sebagai panduan pelaksanaan agar tidak melenceng dari tujuan utama,” jelasnya.
Ia menilai seni dan budaya memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan pariwisata. Pertunjukan seni, misalnya, dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat di sekitar destinasi.
“Seni dan budaya ini bukan hanya soal pertunjukan, tetapi potensi ekonomi yang bisa dimaksimalkan jika dikelola dengan baik,” ungkapnya.
Melalui Program Penguatan Penggiat Seni dan Budaya Daerah, Dispar Kukar berharap semakin banyak pelaku seni yang mendapatkan ruang untuk berkarya dan berkembang. Sinergi antara pemerintah, komunitas seni, dan masyarakat diharapkan mampu menjadikan seni budaya sebagai kekuatan dalam membangun pariwisata Kukar yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing. (Adv/Dri)