
Lapas Narkotika Kelas IIA Samarinda latih 58 WBP mwnjadi kader kesehatan, Rabu (4/11/2026).(Foto: Dok. Humas Lapas Narkotika Kelas IIA Samarinda)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com): Keterbatasan ruang gerak di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) membuat kesadaran menjaga kesehatan menjadi kebutuhan penting.
Terlebih, lingkungan hunian bersama memiliki risiko penularan penyakit, apabila pencegahan dan deteksi dini tidak berjalan optimal.
Menyikapi hal ini, Lapas Narkotika Kelas IIA Samarinda membekali 58 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dengan pelatihan kader kesehatan.
Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari, pada 4–5 November 2026 di Aula Dalam Lapas.
Puluhan peserta merupakan perwakilan dari masing-masing kamar hunian.
Mereka dipersiapkan menjadi penggerak edukasi kesehatan, sekaligus membantu meningkatkan kesadaran warga binaan terhadap risiko penyakit menular.
Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Samarinda, Puang Dirham mengatakan, pelatihan tersebut merupakan tindak lanjut program Direktorat Jenderal Pemasyarakatan tahun 2026.
Program itu berkaitan dengan dukungan pemeriksaan kesehatan gratis, terapi antiretroviral (ARV), serta pengembangan kader kesehatan di lingkungan pemasyarakatan.
Menurut Puang, keberadaan kader kesehatan di setiap kamar hunian diharapkan mampu memperluas jangkauan edukasi.
Sehingga informasi mengenai pencegahan penyakit tidak hanya bergantung pada petugas kesehatan.
"Sebagai kader kesehatan, saudara-saudara memiliki tanggung jawab dan peran penting dalam membantu meningkatkan kesadaran kesehatan di lingkungan hunian," ujarnya.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti setelah pelatihan usai.
Para kader diminta meneruskan informasi kepada rekan sesama warga binaan, terutama mengenai pencegahan tuberkulosis (TBC), HIV/AIDS, dan penerapan perilaku hidup sehat.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan perwakilan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kalimantan Timur dan Utara, yakni Kepala Bidang Pengamanan, Deny Fajariyanto bersama stafnya, Budiman.
Deny mengapresiasi pelaksanaan pelatihan yang melibatkan warga binaan secara langsung dalam upaya membangun lingkungan pemasyarakatan yang sehat.
Menurutnya, menjaga kesehatan bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas medis.
Seluruh penghuni Lapas juga perlu mengambil bagian melalui kesadaran, kepedulian, dan penerapan kebiasaan hidup sehat.
"Menjaga kesehatan merupakan tanggung jawab bersama. Kami berharap para peserta mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh, memahami materi, serta menjadi contoh dalam menerapkan perilaku hidup sehat," ucapnya.
Ia juga mendorong peserta menyampaikan informasi kesehatan yang benar kepada sesama warga binaan.
Peran tersebut dinilai penting agar edukasi dapat menjangkau lebih banyak penghuni.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai berbagai penyakit menular, mulai dari TBC, HIV/AIDS, demam berdarah, hepatitis, diare, infeksi menular seksual hingga skabies.
"Kami ingin para kader memahami jenis penyakit tersebut, cara penularannya, serta langkah-langkah pencegahan agar bisa menyampaikan informasi yang benar kepada warga binaan lainnya,” tuturnya.
Selain mengenali jenis penyakit dan langkah pencegahannya, peserta juga mempelajari tugas serta tanggung jawab kader kesehatan.
Pembekalan turut mencakup strategi komunikasi agar mereka mampu menyampaikan informasi kesehatan secara tepat kepada rekan sesama warga binaan.
Peserta tidak hanya menerima materi secara teori, tetapi juga mengikuti praktik melalui metode role play.
Sebelum pelatihan dimulai, mereka mengikuti pre-test.
"Setelah seluruh materi disampaikan, dilanjutkan dengan post-test untuk mengukur sejauh mana pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan,” ucapnya. (Abi)