• Selasa, 27 Oktober 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kepala Dinkes Samarinda, Ismid Kusasih. Senin (26/10/2026).(Foto: Abi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com): Ancaman gangguan pernapasan akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda memperkuat kesiapsiagaan pelayanan medis.

Puskesmas di wilayah yang terdampak karhutla, terutama Palaran dan Makroman, menjadi perhatian dalam upaya mengantisipasi peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Kepala Dinkes Samarinda, Ismid Kusasih mengatakan, tenaga medis yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Bencana Pemerintah Kota Samarinda tetap disiagakan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat di tengah kondisi udara yang belum sepenuhnya membaik.

Langkah ini dilakukan seiring tingginya aktivitas masyarakat di luar ruangan yang meningkatkan risiko terpapar polusi udara.

Berdasarkan rekapitulasi penanganan medis pada 1–23 Oktober 2026, kelompok usia produktif dan pelajar mendominasi pasien ISPA di Samarinda.

“Kalau dilihat dari kelompok usianya, masyarakat usia produktif memang memiliki jumlah penduduk yang besar. Mereka juga lebih banyak beraktivitas di luar rumah, baik untuk bekerja maupun bersekolah,” ujar Ismid, Senin (26/10/2026)

Dinkes Samarinda meminta tenaga kesehatan, mulai dari dokter hingga perawat, meningkatkan kesiapsiagaan pelayanan, khususnya di wilayah yang aktivitas karhutlanya cukup tinggi.

Puskesmas Palaran dan Puskesmas Makroman menjadi dua fasilitas kesehatan yang mendapat perhatian karena berada di wilayah dengan dampak karhutla yang menonjol.

Ismid menegaskan, kesiapsiagaan tenaga medis merupakan bagian dari tanggung jawab pelayanan kesehatan dalam Satgas Bencana Pemkot Samarinda.

Sehingga masyarakat tetap dapat mengakses layanan kesehatan ketika mengalami gangguan pernapasan maupun keluhan lain yang diduga berkaitan dengan paparan asap.

“Tenaga medis, mulai dari dokter sampai perawat, tetap siaga di daerah yang kasus karhutlanya marak. Pelayanan harus tetap berjalan karena ini bagian dari tugas kami dalam Satgas Bencana,” tuturnya.

Kesiapsiagaan tersebut menjadi penting karena paparan asap dapat memicu gangguan saluran pernapasan, terutama bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.

Dominasi pasien ISPA dari kelompok usia produktif dan pelajar menjadi perhatian Dinkes Samarinda.

Selain jumlah penduduk yang besar, tingginya mobilitas harian membuat kelompok ini lebih sering terpapar kondisi udara di luar ruangan.

Aktivitas bekerja, perjalanan menuju tempat kerja atau sekolah, hingga kegiatan belajar di luar gedung dapat meningkatkan durasi paparan ketika kualitas udara memburuk.

Meskipun demikian, data ini tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh kasus ISPA disebabkan oleh karhutla.

Gangguan pernapasan dapat dipengaruhi berbagai faktor, sementara paparan asap merupakan salah satu risiko yang perlu diwaspadai.

Maka itu, masyarakat diminta mengurangi paparan polusi sebisa mungkin, terutama ketika kabut asap terlihat semakin pekat.

Selain memperkuat kesiapan pelayanan medis, Dinkes Samarinda mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan perlindungan diri saat beraktivitas di luar ruangan.

Penggunaan masker menjadi salah satu langkah yang dianjurkan untuk membantu mengurangi paparan partikel pencemar.

Masyarakat juga perlu membatasi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak ketika kondisi udara memburuk.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap disiplin menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Ini salah satu upaya untuk mengurangi risiko paparan yang dapat memicu gangguan pernapasan,” ucap Ismid. (Abi)



Pasang Iklan
Top