
Gubernur Kaltim, Rudy Ma
SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) terus memperluas peluang investasi untuk mempercepat perubahan struktur perekonomian daerah yang selama ini banyak ditopang sektor sumber daya alam.
Salah satu langkah yang ditempuh melalui penyelenggaraan Mahakam Investment Forum (MIF) 2026, yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan, hingga calon investor dari dalam dan luar negeri.
Forum investasi tersebut berlangsung di Fugo Hotel Samarinda, Rabu (21/10/2026), dengan mengangkat tema “Trade, Tourism, Investment, and Industry: Enhancing East Kalimantan Economic Transformation”.
Melalui kegiatan ini, Pemprov Kaltim berupaya mendorong pengembangan empat sektor strategis, yakni perdagangan, pariwisata, investasi, dan industri, sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi yang lebih beragam dan berkelanjutan.
Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, menyampaikan bahwa daerahnya memiliki keunggulan ekonomi yang cukup besar untuk menarik minat investor. Selain kekayaan sumber daya alam, posisi Kaltim yang strategis dalam perekonomian nasional menjadi salah satu daya tarik utama.
Menurutnya, potensi investasi di Kaltim tidak hanya terbatas pada sektor pertambangan, tetapi juga mencakup berbagai bidang usaha yang masih memungkinkan untuk dikembangkan lebih jauh.
“Kalimantan Timur memiliki banyak sektor potensial untuk dikembangkan, mulai dari batu bara, minyak dan gas bumi, perkebunan kelapa sawit, pertanian, perikanan, manufaktur, hingga komoditas unggulan lainnya,” ujar Rudy.
Ia menjelaskan, peluang tersebut semakin terbuka seiring pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), yang diproyeksikan menjadi pusat pemerintahan baru sekaligus representasi kemajuan Indonesia.
Kehadiran IKN dinilai dapat meningkatkan kebutuhan berbagai fasilitas dan layanan penunjang, sehingga membuka kesempatan investasi pada sektor perdagangan, industri, pariwisata, jasa, hingga logistik.
Tidak hanya mengandalkan potensi sumber daya alam, Kaltim juga memiliki sejumlah kawasan strategis yang dapat menjadi pusat pengembangan kegiatan industri.
Rudy menyebut, keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan tiga kawasan industri menjadi modal penting untuk mempercepat pertumbuhan investasi, terutama pada kegiatan hilirisasi komoditas daerah.
Salah satu kawasan yang memiliki prospek pengembangan adalah KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK). Kawasan tersebut dinilai berpotensi memperkuat industri pengolahan sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil sumber daya alam.
Selain Maloy, wilayah Teluk Balikpapan juga dipandang memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi pusat aktivitas ekonomi dan investasi.
Dukungan fasilitas pelabuhan peti kemas internasional turut menjadi keunggulan Kaltim dalam memperlancar arus distribusi barang dan memperluas jaringan perdagangan.
Dengan konektivitas logistik yang semakin baik, produk-produk unggulan daerah diharapkan mampu menjangkau pasar lebih luas dan memiliki daya saing yang lebih kuat.
Di bidang perkebunan, pengembangan industri pengolahan kelapa sawit juga menjadi perhatian pemerintah daerah.
Kaltim telah memiliki fasilitas pengolahan yang memungkinkan hasil perkebunan dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi, seperti olein untuk minyak goreng serta biodiesel.
Penguatan industri hilir tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap penjualan komoditas dalam bentuk bahan mentah.
Sementara itu, Kota Bontang turut menjadi salah satu wilayah yang dinilai memiliki prospek investasi menjanjikan, terutama untuk pengembangan industri serta kegiatan usaha minyak dan gas bumi.
Peluang pengembangan kawasan ekonomi khusus di Bontang juga menjadi bagian dari potensi yang dapat dijajaki untuk memperluas kegiatan ekonomi daerah.
Rudy mengungkapkan, aktivitas sektor minyak dan gas bumi di wilayah tersebut diharapkan mengalami perkembangan lebih signifikan dalam beberapa tahun mendatang.
“Insyaallah, pada 2028 hingga 2029, kegiatan di sektor minyak dan gas bumi bisa semakin dipercepat sehingga tingkat produksinya mencapai hasil yang optimal,” ungkapnya.
Meski sektor migas dan pertambangan masih memiliki peran penting, Rudy menekankan bahwa arah pembangunan ekonomi Kaltim ke depan harus semakin beragam.
Pemerintah daerah mendorong penguatan industri hilir, ekonomi biru, dan ekonomi hijau sebagai bagian dari upaya menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya bergantung pada aktivitas ekstraktif.
Untuk mewujudkannya, keterlibatan investor, perbankan, dan dunia usaha dinilai sangat diperlukan. Kerja sama lintas sektor menjadi kunci agar berbagai potensi investasi dapat ditindaklanjuti menjadi kegiatan usaha yang produktif.
Penyelenggaraan MIF 2026 sendiri merupakan hasil kolaborasi Pemprov Kaltim bersama Bank Indonesia, sektor perbankan, Otorita IKN, pemerintah kabupaten/kota, pemilik proyek, serta sejumlah mitra strategis lainnya.
Forum tersebut diharapkan menjadi sarana mempertemukan pemilik proyek dengan calon investor sekaligus membuka kesempatan terjalinnya kemitraan bisnis baru.
Melalui kerja sama tersebut, pemerintah daerah berharap realisasi investasi dapat terus meningkat, kegiatan industri semakin berkembang, dan kesempatan kerja bagi masyarakat Kaltim semakin luas.
Selain mengejar pertumbuhan ekonomi, investasi yang masuk juga diharapkan memberikan kontribusi terhadap pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kegiatan MIF 2026 turut dihadiri sejumlah perwakilan negara sahabat, di antaranya perwakilan Republik Rakyat Bangladesh untuk Indonesia, Abu Hasan Rida, serta Konsuler Kedutaan Besar Tunisia, Nouri Nehli.
Hadir pula Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji, Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim Sri Wahyuni, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim Jajang Hermawan, serta Deputi Bidang Pendanaan dan Investasi Otorita IKN Sudiro Roi Santoso.
Selain itu, forum tersebut diikuti jajaran asisten, staf ahli, kepala perangkat daerah di lingkungan Pemprov Kaltim dan pemerintah kabupaten/kota, instansi vertikal, lembaga perbankan, perusahaan daerah, asosiasi, serta sejumlah organisasi terkait.
Dengan memperkuat sinergi antara pemerintah dan dunia usaha, Mahakam Investment Forum 2026 diharapkan mampu mempercepat masuknya investasi sekaligus menjadi penggerak transformasi ekonomi Kalimantan Timur menuju pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (*Yud)