
Rektor Unmul (tengah beralmamatwr kuning) foto bersama. Selasa (20/10/2026).(Foto: Dok. Humas Unmul)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com): Universitas Mulawarman (Unmul) menjadi tuan rumah pembukaan Konsortium University Universitas Borneo (KUUB) International Convention 2026 yang mempertemukan 21 Perguruan Tinggi (PT) dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Kegiatan yang berlangsung di Crystal Room Hotel Mercure Samarinda ini, menjadi momentum memperkuat kolaborasi pendidikan tinggi di kawasan Borneo.
Rektor Universitas Mulawarman sekaligus Deputi Chairman KUUB, Prof. Dr. Ir. H. Abdunnur, M.Si., IPU., ASEAN Eng. mengatakan, kerja sama lintas negara melalui konsorsium tersebut perlu diarahkan pada pengembangan pendidikan, riset, dan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurut Abdunnur, keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur turut membuka peluang, sekaligus tantangan bagi perguruan tinggi untuk mengambil peran lebih besar.
Kampus di kawasan Borneo diharapkan mampu berkontribusi melalui pengembangan ilmu pengetahuan, penyiapan sumber daya manusia, serta dukungan terhadap pembangunan berkelanjutan.
“Dengan hadirnya IKN di Kalimantan Timur, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk ikut mengambil bagian dalam pembangunan. Kita tidak hanya menjadi penonton, tetapi harus berkontribusi melalui ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi,” ujar Abdunnur.
Menurutnya, pembangunan IKN membutuhkan dukungan akademisi, terutama dalam memperkuat tata kelola pemerintahan yang baik atau good governance.
Maka itu, perguruan tinggi perlu membangun kolaborasi yang mampu menghasilkan rekomendasi dan solusi berdasarkan kajian ilmiah.
Abdunnur juga menekankan pentingnya kesiapan generasi muda daerah agar mampu mengambil peluang dari perkembangan IKN.
Mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan di ruang kelas, tetapi perlu meningkatkan kompetensi, memperluas wawasan, dan membangun kemampuan bersaing di tingkat regional maupun internasional.
“Generasi muda, khususnya mahasiswa di Kalimantan Timur dan kawasan Borneo, harus mempersiapkan diri setinggi-tingginya. Peluang ke depan semakin besar, sehingga kompetensi dan kualitas sumber daya manusia harus terus ditingkatkan,” katanya.
Menurutnya, KUUB menjadi salah satu wadah strategis untuk mendukung upaya tersebut.
Melalui jaringan perguruan tinggi lintas negara, mahasiswa dan dosen dapat memperoleh kesempatan memperluas pengalaman akademik, membangun jejaring, serta mengembangkan riset bersama.
“Melalui KUUB, kita ingin membangun kolaborasi yang lebih konkret antarkampus di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Potensi setiap universitas harus saling melengkapi agar kerja sama ini menghasilkan manfaat yang lebih besar,” ucapnya.
Konvensi KUUB 2026 juga menghadirkan sejumlah agenda strategis, mulai dari Borneo International Integrity Summit, Borneo Youth Leadership Summit, hingga Student Chapter Launching dan Annual General Meeting (AGM).
Rangkaian tersebut dirancang untuk memperkuat integritas kelembagaan, kepemimpinan mahasiswa, serta arah pengembangan konsorsium pada periode berikutnya.
Chairman KUUB, Dr. Shahrul Razid Sarbini, dalam sambutannya turut mengulas perjalanan konsorsium yang dimulai pada 2023 di Kuching, Malaysia.
Sejak itu, kolaborasi berkembang melalui pertemuan di sejumlah kota di kawasan Borneo hingga penyelenggaraan konvensi di Samarinda.
Pada kesempatan ini, KUUB juga melakukan penyerahan Declaration of Understanding (DoU) secara simbolis kepada 4 anggota baru sebagai bagian dari perluasan jejaring kerja sama.
Selain forum akademik dan pertemuan tahunan, agenda juga mencakup aksi sosial mahasiswa di sejumlah sekolah di Samarinda.
Pada hari kedua, delegasi dijadwalkan mengikuti AGM serta kegiatan sosial mahasiswa di 4 sekolah.
Rangkaian konvensi kemudian ditutup pada 22 Oktober 2026 melalui kunjungan langsung ke kawasan IKN untuk melihat perkembangan pembangunan infrastruktur ibu kota baru.
Kehadiran pimpinan perguruan tinggi dari berbagai institusi di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam memperkuat posisi KUUB sebagai jejaring kerja sama pendidikan tinggi di kawasan Borneo.
Melalui penyelenggaraan konvensi ini, Unmul berharap kolaborasi antarkampus tidak berhenti pada pertemuan formal, tetapi berlanjut dalam program riset bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, serta pengembangan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan pembangunan kawasan Borneo dan IKN.
“Harapan kami, kerja sama yang terbangun melalui KUUB bisa diwujudkan dalam kegiatan nyata, mulai dari penelitian bersama hingga pertukaran mahasiswa dan dosen. Dengan begitu, perguruan tinggi di Borneo dapat saling menguatkan dan berkontribusi bagi kemajuan kawasan, termasuk mendukung pembangunan IKN,” ucap Abdunnur. (Abi)