
Hj Niqmah, nenek dari kedua korban, Rabu (14/10/2026).(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Tak ada jalan keluar bagi 2 bocah bersaudara itu ketika kobaran api semakin membesar dan mengepung rumah mereka di Jalan Kartini, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Rabu (14/10/2026) dini hari.
Di tengah kepanikan, sang kakak yang masih berusia 7 tahun disebut berusaha menyelamatkan adiknya yang baru berusia 4 tahun.
Namun, upaya itu tak seperti yang diharapkan.
Kedua anak tersebut akhirnya ditemukan di dalam kamar dalam kondisi saling berpelukan.
Keduanya dinyatakan meninggal dunia dalam peristiwa kebakaran yang juga menyebabkan ayah mereka, Hamri Nur, mengalami luka bakar.
Kisah memilukan itu terungkap setelah warga dan petugas melakukan pencarian di tengah puing-puing rumah yang terbakar.
Ketua RT 61, Muhammad Ahyat mengatakan, sejak awal kebakaran, warga sebenarnya berusaha membantu keluarga Hamri (Ayah korban).
Namun, kobaran api yang cepat membesar membuat upaya penyelamatan menjadi sangat sulit.
Dan saat itu, kondisi Hamri itu tidak sepenuhnya sehat.
Ia diketahui sebelumnya mengalami stroke ringan.
"Orangtuanya sebelumnya memang sudah sakit, stroke ringan. Ketika api sudah menjalar, dia berusaha keluar dengan dibantu istrinya. Kami juga tidak menyangka kalau anaknya masih tertinggal di dalam," ujar Ahyat kepada KutaiRaya.com, Rabu (14/10/2026).
Bahkan, Hamri sempat berusaha kembali untuk menyelamatkan kedua anaknya.
Namun, kondisi rumah yang sudah terbakar membuat langkahnya terhenti.
Punggung Hamri terkena percikan api saat berusaha menyelamatkan keluarganya.
Di saat yang sama, api terus membesar dan membuat kondisi di dalam rumah semakin sulit untuk ditembus.
Menurut informasi yang diterima Ahyat, sang kakak yang berusia 7 tahun sempat terbangun ketika mendengar keributan akibat kebakaran.
Anak tersebut kemudian berusaha menyelamatkan adiknya.
Ia membangunkan adiknya yang berusia 4 tahun untuk bisa melarikan diri dari kobaran api, namun mengingat api semakin membesar, sang kakak mengambil keputusan untuk melindungi sang adik dari kobaran api dengan cara memeluknya.
Waktu demi waktu terus berjalan, kondisi rumah yang terbakar membuat mereka tidak berhasil menyelamatkan diri.
"Kakaknya sudah bangun dan ingin mengamankan adiknya. Begitu adiknya bangun, langsung dipeluk. Rencananya mau dibawa keluar, tetapi kondisi api sudah menghalangi mereka," tuturnya.
Pencarian terhadap kedua anak tersebut terus dilakukan setelah api berhasil dikendalikan.
Sekitar pukul 03.00 WITA, keluarga dan warga mendapatkan kepastian mengenai keberadaan keduanya.
Keduanya ditemukan berada di dalam kamar, tepatnya di bawah kasur, dalam kondisi saling berpelukan.
Kabar tersebut menjadi pukulan berat bagi keluarga korban.
Dua anak yang sehari-hari dikenal aktif mengaji itu harus pergi dalam usia yang masih sangat muda.
Bagi warga sekitar, kedua korban bukanlah sosok yang asing.
Mereka dikenal sebagai anak-anak yang rajin mengikuti kegiatan keagamaan bersama keluarga.
Ahyat mengatakan, rumah keluarga Hamri selama ini juga sering digunakan untuk kegiatan majelis taklim setiap hari Selasa.
Di rumah tersebut, warga biasanya berkumpul untuk mengikuti kegiatan pengajian yang diikuti bapak-bapak maupun ibu-ibu.
"Setiap Selasa ada kegiatan majelis taklim. Ada santri, ibu-ibu dan bapak-bapak yang ikut mengaji," tutur Ahyat.
Kedua korban semasa hidup, aktif mengaji di TPQ Al-Iman.
Korban yang berusia 7 tahun diketahui bersekolah di SD 002 Tenggarong.
Ia dikenal sebagai anak yang aktif dan rajin mengikuti kegiatan mengaji bersama adiknya.
Sebelum tragedi tersebut, kedua anak tersebut masih sempat mengikuti kegiatan mengaji pada Selasa sore, namun beberapa jam sebelum rumah mereka dilalap api.
Hal yang senada disampaikan nenek korban, Hj Niqmah.
Ia masih mengingat jelas momen terakhir bersama cucu-cucunya.
Ia menuturkan, kedua cucunya merupakan anak yang baik, penurut dan rajin mengaji.
"Semasa hidup, kedua cucu saya luar biasa. Ngajinya sudah bagus. Kalau bapaknya ada majelis, mereka pasti ikut," ucapnya.
Bahkan ia masih mengingat percakapan sederhana dengan kedua cucunya mengenai rencana sunat.
Keduanya pernah bertanya kapan mereka akan disunat.
Niqmah pun menjawab bahwa waktunya belum tiba dan meminta mereka bersabar.
Percakapan sederhana itu kini menjadi kenangan yang begitu berharga bagi keluarga.
"Terakhir kemarin sore masih mengaji, masih ikut majelis taklim," katanya.
Saat kebakaran terjadi, kedua orang tua korban berada di rumah. Namun, situasi berlangsung sangat cepat.
Sebelum itu, dalam keluarga Hamri, ia memiliki 4 orang anak, anak pertama saat ini tengah melakukan pendidikan keagamaan di Pulau Jawa, dan ketiga anaknya ikut bersama Hamri di rumah.
Berdasarkan informasi Niqmah, salah satu anak Hamri yang selamat dari tragedi itu, sempat keluar setelah mendengar keributan.
Sementara Hamri dan istrinya berusaha menyelamatkan diri.
Dalam kondisi tersebut, Hamri kemudian menyadari bahwa dua anaknya masih berada di kamar.
Ia berusaha kembali masuk untuk mencari mereka.
Namun, kobaran api dan bagian rumah yang terbakar membuat usaha penyelamatan menjadi sangat sulit.
Rumah yang sebagian besar berbahan kayu membuat api dengan cepat membesar.
Warga pun berusaha memberikan pertolongan dari luar sambil menunggu proses pemadaman.
Namun, kondisi api yang sudah membesar membuat tidak semua bagian rumah dapat dijangkau dengan mudah.
Peristiwa itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan warga Jalan Kartini.
Di tengah musibah tersebut, tersimpan kisah tentang dua saudara yang dalam situasi genting tetap bersama.
Sang kakak berusaha membawa adiknya keluar, namun keduanya akhirnya ditemukan dalam pelukan satu sama lain.
Kisah tersebut menjadi bagian paling memilukan dari kebakaran yang terjadi saat warga tengah terlelap.
Kini, rumah yang sebelumnya menjadi tempat berkumpul keluarga dan warga untuk mengaji telah berubah menjadi puing-puing.
Namun bagi keluarga Hamri, kenangan tentang dua anak yang rajin, aktif dan penurut akan terus hidup sebagai bagian dari keluarga yang mereka cintai.
Kedua korban telah dilakukan proses pemakaman.
Kedua korban dimakamkan di Jalan Jafar Seman, Kelurahan Baru, Kecamatan Tenggarong.
Sementara itu, Kapolsek Tenggarong, AKP Nahrawi membenarkan adanya kebakaran di Jalan Kartini, Gang Karya, yang menyebabkan sejumlah rumah terbakar dan 2 anak meninggal dunia.
Ia mengatakan, salah satu orangtua korban juga mengalami luka bakar dan masih menjalani perawatan di Rumah Sakit AM Parikesit Tenggarong Seberang.
"Memang benar tadi malam terjadi kebakaran di Jalan Kartini, Gang Karya. Ada beberapa rumah yang terbakar dan ada korban yang meninggal dunia, 2 orang anak kecil. Orangtuanya mengalami luka bakar dan saat ini masih dalam perawatan di rumah sakit," ujar Nahrawi.
Terkait penyebab kebakaran, polisi belum dapat memastikan sumber api.
Penyelidikan masih dilakukan oleh Satreskrim Polres Kukar bersama Polsek Tenggarong untuk mengetahui asal mula kebakaran.
"Dugaan sementara belum diketahui. Masih dalam penyelidikan," tuturnya.
Ia juga membenarkan informasi bahwa kedua korban ditemukan dalam posisi seperti berpelukan.
Namun, kepolisian belum dapat menjelaskan secara pasti bagaimana kronologi keduanya berada di dalam kamar karena orangtua korban masih menjalani perawatan.
"Kami belum tahu karena orangtuanya masih dalam kondisi luka bakar dan menjalani perawatan. Kami belum bisa berkomunikasi dengan orangtuanya," ujarnya.
Ia mengemukakan, korban ditemukan setelah proses pemadaman selesai dan keluarga melaporkan adanya anggota keluarga yang belum ditemukan.
Kemudian polisi melakukan pengecekan bersama pihak terkait hingga akhirnya kedua korban ditemukan dan dievakuasi.
Atas kejadian tersebut, ia mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama di tengah kondisi cuaca kering.
Masyarakat diminta memastikan kompor dalam keadaan mati ketika meninggalkan rumah.
Sambungan listrik dan perangkat yang tidak digunakan juga perlu diperiksa untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Polsek Tenggarong juga rutin melakukan patroli, khususnya di kawasan permukiman padat penduduk pada malam hari.
Patroli tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan, sekaligus mengantisipasi berbagai potensi gangguan di tengah masyarakat.
Kabar meninggalnya 2 anak dalam kebakaran tersebut turut mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Kukar.
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
Ia mengaku prihatin karena kebakaran tersebut tidak hanya mengakibatkan kerugian materi, tetapi juga merenggut nyawa dua anak yang masih sangat muda.
"Kami turut berbelasungkawa atas terjadinya kebakaran tadi malam, apalagi sampai merenggut korban jiwa. Ada 2 orang anak, usia 7 tahun dan 3 tahun, dan orangtuanya hari ini akan dioperasi di Rumah Sakit AM Parikesit karena mengalami luka bakar sekitar 75 persen," ujar Aulia.
Ia mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di lingkungan rumah.
"Kami mengimbau seluruh warga masyarakat Kukar untuk bersama-sama mencegah. Musibah memang tidak ada yang tahu, tetapi kita bisa melakukan mitigasi untuk mencegah agar kejadian serupa tidak terjadi lagi," katanya.
Pemkab Kukar telah berkoordinasi dengan petugas di lapangan untuk menyiapkan langkah penanganan bagi warga yang terdampak.
Pemerintah akan melihat kebutuhan warga, termasuk anak-anak yang terdampak kebakaran.
"Kita sudah berkoordinasi dengan teman-teman di lapangan. Kita melakukan proses mitigasi dengan strategi jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang," katanya.
Untuk jangka pendek, pemerintah akan berupaya memastikan warga terdampak tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari.
Termasuk kebutuhan pendidikan anak-anak korban kebakaran menjadi perhatian.
Apabila ada anak yang kehilangan seragam sekolah maupun kebutuhan sekolah lainnya, pemerintah akan berupaya membantu memenuhinya.
"Yang sekolah, seragam sekolahnya ketika tidak ada nanti kita upayakan untuk mengadakan dan lain sebagainya, sehingga kita bisa mengurangi beban warga masyarakat kita yang terkena musibah kebakaran," ucapnya. (*Zar)