• Minggu, 01 November 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Diskominfo Kutai Kartanegara



Kepala DKP Kukar, Muslik, Selasa (13/10/2026).(Foto: KutaiRaya.com)
‎
‎
‎TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) berupaya mengantisipasi dampak kekeringan terhadap kegiatan perikanan budidaya, khususnya pembenihan ikan yang membutuhkan ketersediaan air secara berkelanjutan.
‎
‎Kondisi anomali iklim dan cuaca yang memicu berkurangnya pasokan air menjadi tantangan bagi pembudidaya ikan di sejumlah wilayah Kukar.
‎
‎Untuk mengatasi persoalan tersebut, DKP Kukar mempertimbangkan langkah mitigasi, seperti pemanfaatan sumur bor dan sistem pompanisasi agar kebutuhan air tetap terpenuhi.
‎
‎Kepala DKP Kukar, Muslik mengatakan, kekeringan saat ini berdampak terhadap kegiatan pembenihan yang umumnya menggunakan kolam tanah.

Ketika sumber air mulai mengering, aktivitas pembenihan sulit dilakukan karena membutuhkan pasokan air yang cukup untuk menunjang proses produksi.
‎
‎Menurutnya, kondisi ini menjadi perhatian pemerintah daerah karena keberlangsungan pembenihan merupakan bagian penting dalam mendukung sektor perikanan budidaya di Kukar.
‎
‎"Untuk program budidaya, kondisi anomali iklim dan cuaca saat ini menjadi tantangan, terutama kegiatan pembenihan yang menggunakan kolam tanah. Ketika airnya mengering, tentu aktivitasnya ikut terkendala," ujar Muslik kepada KutaiRaya.com, Selasa (13/10/2026).
‎
‎Ia menjelaskan, sebagian unit pembenihan terpaksa menghentikan kegiatan untuk sementara waktu karena keterbatasan air.

Sementara itu, lokasi yang berada dekat Sungai Mahakam masih memiliki peluang untuk melanjutkan aktivitas karena sumber air dapat diambil langsung dari sungai.
‎
‎Salah satunya adalah balai benih yang lokasinya dekat dengan Sungai Mahakam.

Kedekatan dengan sumber air tersebut membantu menjaga kegiatan pembenihan tetap berjalan di tengah kondisi kekeringan.
‎
‎Melihat situasi tersebut, DKP Kukar berupaya mencari langkah antisipasi agar persoalan serupa dapat ditangani lebih baik ke depan.

Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah pembangunan sumur bor dan penggunaan pompa untuk membantu memenuhi kebutuhan air di lokasi budidaya yang mengalami kekurangan pasokan.
‎
‎"Ke depan, mungkin bisa kita antisipasi melalui sumur bor atau pompanisasi. Ini menjadi salah satu upaya mitigasi agar ketersediaan air tetap terjaga, terutama ketika menghadapi kondisi cuaca seperti sekarang," tuturnya.
‎
‎Menurutnya, upaya menjaga ketersediaan air perlu disesuaikan dengan kondisi setiap lokasi.

Sebab, tidak semua kolam memiliki akses terhadap sumber air yang memadai.

Kolam yang berada jauh dari sungai atau sumber air lainnya cenderung lebih rentan terdampak ketika musim kering berlangsung.
‎
‎Karena itu, penanganan tidak dapat dilakukan dengan cara yang sama di seluruh wilayah.

Pemerintah perlu mempertimbangkan kondisi lapangan, kebutuhan air, serta kemungkinan penerapan sarana pendukung agar kegiatan budidaya dapat kembali berjalan ketika kondisi memungkinkan.
‎
‎Meskipun demikian, Muslik mengaku tidak semua dampak kekeringan dapat diatasi secara langsung.

Pada kolam-kolam yang berada di daratan dan mengalami kekurangan air, penghentian sementara aktivitas pembenihan menjadi langkah yang sulit dihindari.
‎
‎Pemkab Kukar melalui DKP akan terus mencermati perkembangan kondisi cuaca dan dampaknya terhadap pelaku usaha perikanan.

Upaya mitigasi diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan air, mengurangi gangguan produksi, serta mendukung keberlanjutan usaha budidaya ikan di daerah.
‎
‎Melalui langkah antisipatif tersebut, pemerintah daerah berupaya menjaga sektor perikanan tetap berkembang, sekaligus membantu pembudidaya menghadapi tantangan perubahan kondisi iklim. (Adv/Zar)



Pasang Iklan
Top