
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi dan Usaha Pariwisata Dispar Kukar, Sadli.(Dok. Andri/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Pengembangan pariwisata di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tidak hanya diarahkan pada pembangunan infrastruktur destinasi, tetapi juga pada penguatan peran masyarakat sebagai bagian penting dari pengelolaan dan penggerak ekonomi wisata.
Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar terus mendorong konsep pariwisata berbasis masyarakat dengan melibatkan pemerintah desa, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pelaku UMKM, serta masyarakat dalam pengembangan potensi wisata di masing-masing wilayah.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi dan Usaha Pariwisata Dispar Kukar, Sadli, mengatakan salah satu program konkret yang masih berjalan pada 2026 adalah pengembangan kolam renang atau waterpark di kawasan Pulau Kumala.
Menurutnya, proyek tersebut masih dalam proses dan pelaksanaannya menyesuaikan dengan ketersediaan anggaran serta proses persetujuan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA).
“Untuk pengembangan destinasi wisata, Dispar masih melanjutkan proyek pembuatan kolam renang waterpark di Pulau Kumala. Kegiatan ini masih berjalan dan dalam proses, namun untuk tahun ini masih terkendala anggaran karena menunggu DPA disetujui,” ujar Sadli Rabu (30/9/2026).
Selain pembangunan destinasi, Dispar Kukar juga mencatat capaian dari pengembangan desa wisata. Pada Lomba Desa Wisata Tingkat Provinsi Kalimantan Timur 2026, Desa Wisata Bangun Rejo berhasil meraih Juara Terbaik II.
Prestasi tersebut tidak terlepas dari dukungan Dispar Kukar serta peran aktif Pokdarwis Mentari dalam mengelola potensi wisata dan membangun sinergi dengan berbagai pihak.
Capaian lainnya diraih Desa Wisata Sangkuliman yang berhasil memperoleh Juara Kategori Khusus Pemberdayaan Masyarakat. Prestasi ini menjadi salah satu indikator berkembangnya desa wisata Kukar, khususnya dalam mendorong keterlibatan masyarakat dalam sektor pariwisata.
Sadli menjelaskan, pengembangan destinasi juga dilakukan melalui inventarisasi kebutuhan dan penentuan skala prioritas. Dispar kemudian berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait dan pemerintah desa untuk mendukung peningkatan berbagai fasilitas wisata.
“Mulai dari akses, toilet, tempat parkir, pusat informasi, hingga fasilitas umum lainnya kami inventarisasi kebutuhannya. Selain pembangunan, pemeliharaan fasilitas yang sudah ada juga menjadi perhatian agar tetap layak dan nyaman digunakan wisatawan,” jelasnya.
Menurut Sadli, keberhasilan destinasi wisata tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan fasilitas. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting agar pengembangan pariwisata memberikan manfaat yang lebih luas.
Karena itu, pemerintah desa, Pokdarwis, masyarakat, dan pelaku UMKM didorong terlibat sejak tahap perencanaan, pengelolaan, promosi, hingga pemeliharaan destinasi.
Pendekatan tersebut diarahkan agar masyarakat sekitar tidak sekadar menjadi penonton dari aktivitas pariwisata, tetapi turut mengambil peran sekaligus memperoleh manfaat ekonomi.
“Konsepnya adalah pariwisata berbasis masyarakat. Masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan destinasi dan dibuka peluang usaha seperti UMKM, kuliner, kerajinan, jasa, dan homestay,” ungkapnya.
Dengan pendekatan tersebut, pengembangan destinasi wisata di Kukar diharapkan mampu menciptakan ekosistem pariwisata yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar destinasi.
Dispar Kukar pun terus mendorong sinergi antarpihak agar potensi wisata di setiap wilayah dapat berkembang sesuai karakter dan kekuatan masing-masing, sekaligus memberikan ruang yang lebih besar bagi masyarakat lokal untuk menjadi bagian dari pertumbuhan sektor pariwisata. (Adv/Dri)