• Minggu, 01 November 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Diskominfo Kutai Kartanegara



‎‎Prosesi penurunan Pinang Ayu di Keraton Kesultanan Ing Martadipura, Senin (28/9/2026).(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya.com)‎

‎
‎TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) bersama Kesultanan Ing Martadipura resmi menuntaskan rangkaian sakral Festival Erau Adat Kutai 2026 melalui prosesi penurunan Pinang Ayu, di Keraton Kesultanan Ing Martadipura, Senin (28/9/2026).
‎
‎Prosesi ini menjadi penanda berakhirnya seluruh rangkaian adat, sekaligus kembalinya Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menjalani aktivitas seperti biasa setelah melewati masa pantangan adat.
‎
‎Penurunan Pinang Ayu yang memiliki makna kemakmuran tanah Kutai ini menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan tradisi Kesultanan.

Pemkab Kukar bersama pihak Kesultanan memastikan seluruh tahapan Erau dilaksanakan secara utuh, mulai dari pembukaan hingga penutupan prosesi sakral.
‎
‎Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri mengatakan, penurunan Pinang Ayu menandai bahwa seluruh prosesi sakral Erau Adat Kutai 2026 telah selesai dilaksanakan.
‎
‎Setelah prosesi tersebut, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan ziarah, kemudian Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kukar dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Tenggarong ke-244.
‎
‎"Ini merupakan bagian dari rangkaian keseluruhan Erau Adat Kutai 2026. Kita akan menyelesaikan seluruh tahapan sehingga menjadi satu rangkaian yang utuh dan tidak terpisahkan satu dengan yang lain," ujar Aulia.
‎
‎Ia mangaku bersyukur karena pelaksanaan Erau tahun ini berlangsung luar biasa sesuai harapan, terutama dari sisi antusiasme masyarakat dan jumlah pengunjung yang hadir menyaksikan berbagai kegiatan.
‎
‎Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi modal bagi Pemkab Kukar untuk mempersiapkan pelaksanaan Erau 2027 agar lebih semarak, dengan tetap menjaga nilai sakral dan adat istiadat Kesultanan.
‎
‎Ia menjelaskan pelaksanaan Erau 2026 merupakan hasil kolaborasi Pemkab Kukar bersama Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Untuk tahun depan, sejumlah pihak telah menyatakan komitmen untuk turut mendukung penyelenggaraan Erau.
‎
‎Dukungan tersebut berasal dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Kementerian Pariwisata, Kementerian Kebudayaan, serta badan usaha di lingkungan Kabupaten Kukar.
‎
‎"Kita berharap kolaborasi ini bisa kita orkestrasi untuk Erau 2027 sehingga lebih semarak lagi, tanpa meninggalkan sisi sakralitasnya. Sakralnya tetap kita jaga, sementara sisi seremonialnya bisa kita kembangkan agar lebih meriah dan semakin terasa menjadi milik masyarakat Kutai Kartanegara," tuturnya.
‎
‎Sementara itu, Pangeran Mangku Patih Kesultanan Ing Martadipura, Dhanur Dwi Jatmiko menerangkan Pinang Ayu memiliki makna kemakmuran dari tanah Kutai.

Penurunan Pinang Ayu yang dikombinasikan dengan Sangkopiatu menjadi tanda resmi berakhirnya Erau.
‎
‎Ia mengemukakan, sebelum prosesi tersebut, Sultan telah melewati masa pantangan adat melalui sejumlah tahapan, termasuk prosesi Rangga Titi dan Ketayungan dalam rangkaian Bepelas hari ke-7.
‎
‎"Prosesi Ketayungan menjadi bagian dari ungkapan sukacita Sultan setelah melewati masa pantangan. Tapi, secara adat, penutupan resmi tetap ditandai dengan penurunan Pinang Ayu," ujarnya.
‎
‎Ia mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam pelaksanaan Erau 2026.

Menurutnya, kegiatan tahun ini mendapat perhatian luas dari media dan berlangsung relatif kondusif tanpa kejadian signifikan.
‎
‎Ia berharap evaluasi pelaksanaan tahun ini menjadi dasar untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan Erau berikutnya. (Adv/Zar)



Pasang Iklan
Top