• Minggu, 27 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Potret Event Mooncake Festival di Buddhist Center. Sabtu (26/09) 2026).(Foto:Abi/KutaiRaya)

SAMARINDA, (KutaiRaya.com): Suasana Maha Vihara Sejahtera Maitreya Samarinda di Jalan D.I. Pandjaitan berubah semarak pada Jumat (25/9/2026) malam.

Ribuan masyarakat dari berbagai latar belakang memadati kawasan Buddhist Centre Provinsi Kalimantan Timur untuk mengikuti pembukaan Mooncake Festival VIII Tahun 2026.

Mengusung tema Indonesia Harmonis, Dunia Satu Keluarga, festival yang berlangsung hingga Minggu (27/09/2026) tersebut tidak sekadar menghadirkan perayaan budaya dan kuliner.

Kegiatan ini juga menjadi ruang perjumpaan masyarakat lintas suku dan agama, sekaligus mendorong aktivitas ekonomi pelaku UMKM di Kota Samarinda.

Festival dibuka mulai pukul 18.00 hingga 22.00 WITA dan terbuka untuk masyarakat umum.

Sejumlah pertunjukan budaya disiapkan untuk menghibur pengunjung selama 3 malam pelaksanaan.

Ketua Panitia Mooncake Festival VIII, Pandita Hendri Suwito mengatakan, pemilihan akhir pekan sebagai waktu pelaksanaan merupakan bagian dari strategi panitia agar masyarakat memiliki kesempatan lebih luas untuk datang.

Menurutnya, antusiasme masyarakat pada malam pembukaan menunjukkan bahwa festival tersebut telah menjadi kegiatan yang mampu mempertemukan berbagai kelompok masyarakat dalam suasana yang lebih santai dan terbuka.

"Kami memang memilih waktu akhir pekan supaya masyarakat lebih leluasa datang dan menikmati seluruh rangkaian kegiatan yang kami siapkan," kata Hendri.

Ia menyampaikan tingginya jumlah pengunjung pada malam pertama menjadi gambaran bahwa kegiatan tersebut mendapat respons positif dari masyarakat.

"Yang hadir bukan hanya dari kalangan umat Buddha, tetapi masyarakat dari berbagai agama dan latar belakang. Ini yang ingin kami bangun melalui Mooncake Festival," ujarnya.

Selain menjadi ajang kebersamaan, Hendri menjelaskan festival ini juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal lebih dekat berbagai jenis kuliner vegetarian.

Tahun ini panitia menyediakan 24 tenant yang menawarkan beragam produk kuliner dan usaha masyarakat.

Keberadaan tenant tersebut sekaligus menjadi bagian penting dalam menghidupkan suasana festival.

"Kami menyediakan 24 tenant agar pengunjung tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga bisa mengenal kuliner vegetarian dan produk-produk yang ditawarkan pelaku usaha," katanya.

Hendri menambahkan konsep festival sengaja dibuat lebih beragam dengan memadukan unsur kuliner, seni, budaya, dan hiburan.

Sehingga masyarakat yang datang dapat menikmati kegiatan dalam satu rangkaian acara.

"Selama 3 malam, kami menghadirkan barongsai, fashion show, parade dewi, pertunjukan naga, drama hingga cosplay. Semuanya kami rangkai agar festival ini bisa dinikmati masyarakat luas," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri menilai Mooncake Festival VIII memiliki dampak yang lebih luas dibanding sekadar kegiatan seni dan budaya.

Menurutnya, kehadiran puluhan tenant di lokasi festival membuka ruang transaksi antara pelaku usaha dan masyarakat.

Kondisi ini secara langsung membuat aktivitas ekonomi masyarakat ikut bergerak.

Saefuddin melihat hal itu sejak memasuki kawasan festival.

Berbagai booth dengan konsep budaya Tiongkok berpadu dengan stan UMKM yang menawarkan produk kepada para pengunjung.

"Begitu kita masuk ke kawasan festival, sudah terlihat booth dengan berbagai konsep dan nuansa budaya Tiongkok. Di sisi lain, UMKM juga ikut mengambil bagian, sehingga terjadi aktivitas ekonomi,"kata Saefuddin.

Ia menilai kegiatan seperti Mooncake Festival dapat menjadi salah satu ruang promosi bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat yang datang.

"Ketika masyarakat datang, mereka tidak hanya menonton pertunjukan. Mereka juga membeli makanan atau produk yang tersedia. Dari sana terlihat bagaimana transaksi masyarakat ikut menggerakkan ekonomi kerakyatan," ujarnya.

Saefuddin berharap festival tersebut dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.

Menurutnya, kegiatan yang mampu menggabungkan aspek kebudayaan, kebersamaan, dan ekonomi memiliki nilai positif bagi kehidupan masyarakat Samarinda.

"Kami tentu berharap kegiatan seperti ini bisa terus hadir dan menjadi agenda yang rutin, karena manfaatnya tidak hanya dirasakan dari sisi kebudayaan, tetapi juga oleh pelaku usaha," tutur Saefuddin.

Lebih jauh, ia mengapresiasi panitia yang telah mempertahankan pelaksanaan Mooncake Festival hingga memasuki tahun kedelapan.

Menurutnya, keberagaman pengunjung yang hadir menjadi gambaran bahwa masyarakat Samarinda memiliki ruang bersama untuk membangun komunikasi tanpa melihat perbedaan latar belakang.

"Yang paling penting adalah bagaimana kegiatan ini mempertemukan masyarakat dari berbagai suku dan agama dalam suasana kebersamaan. Semangat seperti ini sejalan dengan Bhinneka Tunggal Ika yang harus terus kita jaga di Samarinda," tuturnya.

Melalui tema Indonesia Harmonis, Dunia Satu Keluarga, festival ini membawa pesan bahwa perbedaan budaya dan keyakinan dapat menjadi ruang untuk saling mengenal dan memperkuat hubungan sosial. (abi)



Pasang Iklan
Top