
Plt Kepala Dispar Kukar Awang Agus Dharmawan.(Foto: Andri/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat peran kelompok sadar wisata (Pokdarwis) sebagai penggerak pengembangan destinasi wisata di masing-masing wilayah.
Upaya tersebut dilakukan dengan kembali melakukan pendataan terhadap keberadaan Pokdarwis sekaligus memetakan kelompok yang masih aktif menjalankan kegiatan di lapangan. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan potensi wisata di berbagai desa dan kecamatan dapat terus dikembangkan serta semakin dikenal masyarakat luas.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispar Kukar Awang Agus Dharmawan mengatakan, saat ini terdapat sekitar 60 Pokdarwis yang telah terdata. Namun, dari jumlah tersebut, baru sekitar 30 kelompok yang masih aktif.
“Untuk mendorong destinasi wisata yang masih kurang terekspos, kami kembali mendata Pokdarwis yang ada,” ujar Awang, Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, Pokdarwis memiliki posisi strategis karena berada paling dekat dengan destinasi dan masyarakat. Kelompok tersebut dinilai lebih memahami karakter, potensi, serta keunggulan wisata yang ada di wilayahnya.
Karena itu, Dispar Kukar terus mendorong Pokdarwis yang belum aktif agar kembali bergerak. Selain menghidupkan aktivitas kelompok, pembenahan destinasi dan peningkatan promosi juga menjadi bagian penting dalam pengembangan pariwisata.
“Saat ini ada sekitar 60 Pokdarwis, tetapi yang aktif sekitar 30-an. Kita terus mendorong agar Pokdarwis kembali aktif, tempat wisata dibenahi dan promosinya ditingkatkan,” katanya.
Di tengah pesatnya perkembangan media sosial, promosi destinasi wisata juga tidak lagi harus sepenuhnya bergantung pada pemerintah.
Pengelola destinasi, komunitas, hingga wisatawan dapat mengambil peran dalam memperkenalkan berbagai potensi wisata Kukar.
Dispar Kukar pun membuka ruang bagi generasi muda yang aktif menggunakan media sosial untuk ikut mempromosikan destinasi wisata. Konten sederhana berupa foto maupun video yang dibuat pengunjung dapat menjadi sarana efektif untuk mengenalkan destinasi yang belum banyak diketahui masyarakat.
“Kita juga melibatkan anak-anak muda yang aktif di media sosial. Kita berharap promosi destinasi wisata tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga oleh pengelola dan pengunjung,” jelasnya.
Awang juga mendorong pengelola destinasi agar lebih percaya diri dalam mempromosikan potensi wisata masing-masing. Dengan demikian, informasi mengenai destinasi dapat terus berkembang melalui jejaring masyarakat dan media sosial.
“Pengelola destinasi juga harus lebih aktif mempromosikan tempat wisata masing-masing,” ungkapnya.
Penguatan Pokdarwis dan komunitas tersebut sekaligus menjadi salah satu strategi Dispar Kukar dalam menjaga geliat pariwisata di tengah keterbatasan anggaran. Kolaborasi antara pemerintah, pengelola destinasi, komunitas, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan promosi.
“Ini menjadi salah satu cara kita menyiasati keterbatasan anggaran,” ujarnya.
Untuk mendukung koordinasi, Dispar Kukar juga menyediakan ruang komunikasi yang mempertemukan pemerintah, pengelola destinasi, dan komunitas. Melalui komunikasi tersebut, berbagai informasi dan rencana kegiatan dapat dibahas secara lebih fleksibel.
“Kita punya grup komunikasi, sehingga koordinasi bisa dilakukan tanpa harus selalu menggunakan anggaran besar,” katanya.
Ke depan, Dispar Kukar membuka peluang lebih luas bagi pengelola destinasi maupun komunitas yang telah memiliki konsep kegiatan untuk berkolaborasi dengan pemerintah.
Menurut Awang, pemerintah tidak harus selalu menjadi pelaksana utama sebuah kegiatan. Ketika masyarakat maupun pengelola telah memiliki gagasan dan kesiapan, Dispar dapat mengambil peran sebagai mitra pendukung.
“Kalau pengelola atau komunitas sudah siap dengan programnya, kita bisa datang dan berkolaborasi,” tuturnya.
Salah satu contoh pengembangan wisata berbasis masyarakat terlihat di Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun. Pokdarwis Desa Pela terus mengembangkan potensi wisata setempat sekaligus memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan promosi.
Ketua Pokdarwis Desa Pela, Alimin Azerbaijan, mengatakan kunjungan wisatawan ke Desa Pela saat ini semakin meningkat. Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi daya tarik alam yang semakin terlihat pada musim kemarau.
Menurutnya, surutnya permukaan air danau pada musim kemarau justru menghadirkan panorama padang savana yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
“Saat ini wisata Pela semakin banyak dikunjungi wisatawan. Apalagi saat musim kemarau, danau dan padang savana menjadi daya tarik tersendiri yang memanjakan pengunjung,” ujar Alimin.
Ia menyebut meningkatnya eksposur wisata Pela tidak terlepas dari dukungan promosi melalui media sosial serta perhatian dari Dispar Kukar.
Promosi yang dilakukan secara bersama-sama dinilai membantu masyarakat luar daerah mengenal potensi wisata Desa Pela.
“Kami dari Pokdarwis Desa Pela bersyukur karena dukungan dan bantuan untuk pengembangan destinasi Pela terus diberikan, termasuk dalam hal promosi,” katanya.
Keberhasilan Desa Pela menjadi gambaran bahwa pengembangan pariwisata tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik destinasi. Keterlibatan masyarakat, kreativitas pengelola, konsistensi promosi, serta kolaborasi dengan pemerintah menjadi bagian penting untuk menjaga destinasi tetap hidup dan menarik wisatawan.
Melalui penguatan Pokdarwis dan kolaborasi lintas komunitas, Dispar Kukar berharap semakin banyak destinasi wisata lokal yang mampu berkembang, dikenal lebih luas, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya. (Adv/Dri)