• Minggu, 01 November 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Diskominfo Kutai Kartanegara



Bupati Kukar Aulia Rahman Basri yang tengah menjalankan prosesi Upacara Adat Beluluh, Kamis (17/9/2026).(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya.com)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Upacara adat Beluluh dilaksanakan sebagai salah satu rangkaian acara sakral Erau Adat Kutai 2026.

Upacara ini digelar di Kedaton Kutai Kartanegara, Kamis (17/9/2026).

Prosesi ini bukan sekadar ritual adat, tetapi menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya dan identitas masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri menyampaikan penghormatan kepada Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, seluruh kerabat Kesultanan, para pemangku adat, pelaku seni budaya serta masyarakat yang selama ini ikut menjaga keberlangsungan adat dan budaya Erau.

Menurutnya, kehadiran masyarakat dalam prosesi adat bukan hanya untuk menyaksikan sebuah kegiatan, tetapi juga untuk meneguhkan kembali hubungan antara sejarah, adat, kepemimpinan dan kehidupan masyarakat Kukar.

"Erau mempunyai kedudukan yang istimewa dalam ingatan kolektif masyarakat Kutai. Kalau Erau tidak dilaksanakan dalam satu tahun, bagi orang Kutai pasti ada sesuatu yang terasa hilang dalam dirinya, karena Erau sudah menjadi bagian dari identitas masyarakat Kukar," ujar Aulia.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang terus berkomitmen menjaga pelaksanaan Erau sebagai bagian dari warisan budaya daerah.

Ia menjelaskan Erau memiliki 2 komponen besar, yakni kegiatan sakral dan seremonial.

Untuk kegiatan sakral, ia berharap seluruh perangkat Pemerintah Kabupaten Kukar dapat mengikuti dan berpartisipasi aktif.

Sebab, menurutnya, berbagai prosesi adat yang dilaksanakan dalam Erau memiliki nilai dan pesan yang dapat menjadi bekal dalam membangun daerah.

Pada Erau Adat Kutai 2026, tema yang diangkat, yakni Raja Menunggal Bersama Rakyat, Raja Menjamu Rakyatnya.

Tema ini dinilai memiliki makna yang mendalam karena menggambarkan kedekatan antara Kesultanan dan masyarakat.

"Entitas Kesultanan sebagai pelaksana kegiatan ini merupakan entitas yang memberi, bukan entitas yang menerima. Oleh karenanya, mari kita berpartisipasi aktif dalam menyukseskan kegiatan ini," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar sekaligus dikenal sebagai Pangeran Noto Negoro, Heriansyah menjelaskan bahwa Beluluh merupakan salah satu bagian penting dalam rangkaian Erau Adat Kutai 2026.

Ia menerangkan Beluluh sebagai kosmologi dan manifestasi tertinggi dalam upaya melestarikan adat dan budaya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Secara etimologis, kata Heriansyah, Beluluh berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Kutai, yakni buluh yang berarti batang bambu dan luluh yang berarti musnah atau hancur.

"Secara harfiah, Beluluh merupakan ritual pengiring doa agar Sultan dan para kerabatnya disucikan atau dibersihkan dari dosa serta diberikan kesehatan," tuturnya.

Menurutnya, pelaksanaan Beluluh juga menjadi bentuk ikhtiar bersama untuk mempertahankan adat dan budaya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

"Ini adalah salah satu bentuk kita melestarikan adat budaya, dengan melaksanakan prosesi Beluluh Sultan pada hari ini," ucapnya. (Adv/Zar)



Pasang Iklan
Top