• Kamis, 17 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Potret field trip SD Fastabiqul Khairat bersama FKUB Kota Samarinda. Rabu (16/09/2026). (Dok.FKUBSamarinda)

SAMARINDA,(KutaiRaya.com): Mengenal perbedaan tidak cukup hanya melalui buku pelajaran.

Puluhan pelajar SD Fastabiqul Khairat Samarinda diajak melihat langsung keberagaman agama melalui kunjungan ke Religi Center di Lok Bahu, Kecamatan Sungai Kunjang, Rabu (16/9/2026).

Kunjungan yang berlangsung pukul 09.00 hingga 11.00 WITA itu dikemas sebagai pembelajaran luar kelas.

Para pelajar diperkenalkan dengan berbagai miniatur rumah ibadah yang berada di kawasan tersebut, sekaligus mendapatkan penjelasan mengenai kehidupan masyarakat Samarinda yang terdiri dari berbagai latar belakang agama dan suku.

Suasana pembelajaran dibuat interaktif. Para murid tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga berkesempatan berkomunikasi langsung dengan sejumlah pemimpin agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Samarinda.

Beragam pertanyaan diajukan murid, mulai dari nama rumah ibadah, kitab suci, nabi hingga salam yang digunakan dalam masing-masing agama.

Ketua FKUB Samarinda, Syaparudin mengatakan, pengenalan keberagaman kepada anak-anak perlu dilakukan melalui pengalaman langsung agar nilai toleransi tidak berhenti sebagai pengetahuan.

"FKUB mengajak semua siswa untuk belajar memahami Samarinda yang warganya beragam agama dan sukunya," kata Syaparudin.

Menurutnya, keberagaman merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Samarinda.

Karena itu, anak-anak perlu dibiasakan berinteraksi dengan orang lain yang memiliki keyakinan maupun latar belakang berbeda.

"Kita ingin sejak dini mereka memahami bahwa perbedaan agama bukan alasan untuk saling menjauh," ujarnya.

Syaparudin menilai pembelajaran mengenai toleransi akan lebih mudah diterima pelajar apabila disampaikan dalam suasana yang terbuka dan komunikatif.

Pertemuan dengan tokoh-tokoh agama juga memberikan ruang bagi murid untuk mengenal agama lain secara langsung.

"Yang paling penting adalah bagaimana anak-anak bisa menghargai dan menghormati orang lain, meskipun berbeda keyakinan," katanya.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh para pelajar dari Religi Center dapat terbawa dalam kehidupan mereka di lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat.

"Mereka boleh berbeda dalam agama, tetapi tetap bisa berteman, belajar bersama dan saling membantu," tutur Syaparudin.

Dalam kegiatan tersebut, unsur agama yang tergabung dalam FKUB Samarinda turut hadir, di antaranya Syaparudin dan Masumi dari unsur Islam, Tejo Sutarnoto serta Pdt. Dr. Marson Apui dari Kristen, Romo Hibau dari Katolik, I Made Waharika dari Hindu, Kuswanto dari Buddha, dan William dari Khonghucu.

"Harapan kami, kegiatan seperti ini menjadi pengalaman bagi anak-anak untuk melihat bahwa kerukunan itu nyata dan bisa dibangun sejak usia sekolah," ucap Syaparudin. (abi)



Pasang Iklan
Top