• Kamis, 17 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Grand opening festival literasi kaltim, Senin (31/8/2026).(Foto: Yudi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Pembangunan budaya literasi di Kalimantan Timur menunjukkan capaian positif. Berdasarkan kajian nasional 2025 yang dirilis Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kaltim tercatat sebesar 44,11 dan berada di posisi ketujuh dari 38 provinsi di Indonesia.

Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menilai posisi tersebut menjadi salah satu indikator perkembangan literasi masyarakat di Bumi Etam. Meski demikian, capaian itu tidak boleh membuat upaya meningkatkan kualitas literasi berhenti.

Menurutnya, hasil tersebut justru perlu menjadi pemacu agar gerakan literasi semakin diperluas dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat di berbagai daerah di Kaltim.

“Hasil kajian nasional 2025 dari Perpustakaan Nasional RI mencatat IPLM Kalimantan Timur sebesar 44,11. Dengan angka tersebut, Kaltim berada di peringkat ketujuh dari 38 provinsi,” ucapnya, Senin (31/8/26).

Ia menekankan, tantangan membangun masyarakat literat saat ini telah berubah seiring perkembangan teknologi. Kemampuan membaca saja tidak lagi cukup karena masyarakat setiap hari berhadapan dengan arus informasi yang sangat cepat, terutama melalui berbagai platform digital.

Karena itu, kemampuan memahami hingga memilah informasi dinilai menjadi bagian penting dari literasi modern. Masyarakat perlu memiliki kecakapan agar menentukan informasi yang benar, bermanfaat, dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Makna literasi sekarang semakin luas. Bukan sekadar bisa membaca, tetapi bagaimana seseorang memahami informasi, menyaringnya, kemudian memanfaatkannya secara tepat dan bijaksana,” ujarnya.

Ia mencontohkan, fenomena yang kerap terjadi di media sosial. Tidak sedikit pengguna langsung memberikan tanggapan terhadap suatu informasi meskipun baru membaca judul atau potongan konten tanpa mengetahui konteks secara keseluruhan.

“Sekarang informasi bergerak sangat cepat di media sosial. Kadang baru melihat judul, isinya belum dibaca sampai selesai, tetapi komentarnya sudah panjang,” ungkapnya.

Kondisi tersebut, menurutnya, semakin menunjukkan pentingnya kemampuan berpikir kritis di tengah derasnya informasi digital. Terlebih, generasi muda menjadi kelompok yang sangat dekat dengan penggunaan teknologi dan media sosial.

Dirinya pun mendorong anak-anak dan generasi muda Kaltim agar tidak berhenti sebagai konsumen informasi. Mereka diharapkan mampu memanfaatkan teknologi agar melahirkan gagasan, informasi, maupun karya kreatif yang memberikan dampak positif.

“Pesan kami kepada anak-anak dan generasi muda Kaltim, jangan hanya menjadi pengguna atau penerima informasi. Jadilah generasi yang mampu menciptakan informasi sekaligus menghasilkan karya,” pesannya.

Penguatan literasi, membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Gerakan Literasi Kaltim diharapkan tidak sebatas menjadi agenda seremonial, melainkan tumbuh sebagai kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Gerakan tersebut dapat dimulai dari lingkungan keluarga dan sekolah, kemudian diperluas hingga desa dan kelurahan, komunitas, lingkungan kerja serta ruang-ruang sosial di tengah masyarakat.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kaltim Lisa Hasliana mengatakan, Festival Literasi Kaltim menjadi salah satu ruang agar mempertemukan sekaligus memperkuat komitmen berbagai pihak dalam mengembangkan Gerakan Literasi Kalimantan Timur secara berkelanjutan.

Upaya tersebut tidak hanya diarahkan agar meningkatkan minat dan kegemaran membaca, tetapi juga memperkuat kecakapan literasi masyarakat. Untuk mencapainya, diperlukan ekosistem yang melibatkan pemerintah, keluarga, satuan pendidikan, komunitas, dunia usaha hingga masyarakat.

Bunda Literasi Kaltim Syarifah Suraidah turut menekankan, perkembangan zaman membuat literasi tidak lagi dapat dimaknai sebatas aktivitas membaca dan menulis ataupun keberadaan buku dan perpustakaan.

Menurutnya, kemampuan literasi juga menentukan bagaimana seseorang menghadapi berbagai perubahan dan persoalan kehidupan yang semakin kompleks, terutama di tengah perkembangan teknologi digital.

“Anak-anak sekarang tumbuh di tengah arus informasi yang sangat besar. Ada media sosial, teknologi digital, kecerdasan buatan, dan berbagai informasi yang mereka terima, termasuk kemungkinan munculnya disinformasi,” katanya.

Karena itu, generasi muda perlu dibekali kemampuan literasi pada berbagai bidang. Tidak hanya literasi digital, tetapi juga kesehatan, keuangan, lingkungan, budaya dan teknologi yang diperkuat dengan kemampuan berpikir kritis.

“Literasi juga berperan dalam membentuk karakter. Seseorang perlu memiliki kemampuan untuk menilai informasi sekaligus menentukan tindakan yang baik, bukan hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi orang lain,” terangnya.

Ia berharap Gerakan Literasi Kaltim dapat berkembang menjadi gerakan kolektif yang menumbuhkan budaya belajar sepanjang hayat. Fondasi budaya tersebut dinilai paling efektif dimulai dari lingkungan terdekat, yakni keluarga dan rumah.

Dari keluarga, kebiasaan membaca, belajar dan berpikir kritis kemudian dapat diperkuat melalui sekolah, komunitas hingga lingkungan masyarakat. Dengan pola tersebut, peningkatan indeks literasi diharapkan berjalan beriringan dengan tumbuhnya masyarakat Kaltim yang semakin kritis, adaptif dan bijak menghadapi perkembangan informasi. (*Yud)



Pasang Iklan
Top