
Walikota Samarinda, Andi Harun. Rabu (12/08/2026). (Foto:Abi/KutaiRaya)
SAMARINDA,(KutaiRaya.com): Perselisihan antara seorang wartawati dan petugas sekuriti di kawasan Pasar Pagi, Samarinda, menjadi sorotan setelah rekaman kejadian tersebut beredar luas di media sosial.
Insiden yang berlangsung pada Selasa (11/8/2026) itu terjadi ketika wartawati sedang melakukan pengambilan gambar di kawasan pasar, Rabu (12/8/2026).
Dalam video yang beredar di berbagai platforn media sosial, kedua pihak terlihat terlibat adu argumen.
Persoalan ini dimulai dari teguran petugas keamanan kepada wartawan yang tengah merekam aktivitas di area Pasar Pagi.
Kemudian situasi memanas setelah muncul ucapan yang dinilai menyinggung profesi wartawan.
Dalam rekaman tersebut, petugas sekuriti disebut menggunakan istilah "media busuk" saat terjadi perdebatan.
Video ini memicu beragam tanggapan masyarakat di media sosial.
Persoalan tersebut akhirnya mendapat perhatian Pemerintah Kota Samarinda.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun mengatakan, dirinya belum memperoleh gambaran utuh mengenai penyebab awal terjadinya perselisihan tersebut.
Sehingga ia meminta semua pihak tidak terburu-buru memperbesar persoalan, sebelum mengetahui konteks kejadian secara menyeluruh.
"Kemungkinan ini berangkat dari kesalahpahaman atau miskomunikasi," kata Andi Harun.
Ia mengatakan, penyelesaian persoalan akan dikoordinasikan melalui Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda.
Pemkot, menurutnya, akan berupaya mempertemukan pihak-pihak yang terlibat, sehingga persoalan tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan.
"Nanti melalui Dinas Perdagangan dibikin adem, damai. Itu kan hanya ucapan, tentu sangat kita sesalkan, tetapi dilihat konteksnya apa? Bisa saja kemungkinan karena lelah, atau bisa saja karena hal-hal tertentu lainnya," ujarnya.
Meskipun mendorong penyelesaian secara kekeluargaan, Andi Harun menegaskan bahwa ucapan yang berpotensi merendahkan profesi wartawan tetap menjadi hal yang disesalkan.
Ia menilai komunikasi antara petugas di lingkungan fasilitas publik dengan insan pers seharusnya tetap mengedepankan etika.
Atas kejadian ini, Andi Harun menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada kalangan wartawan atas nama Pemerintah Kota Samarinda.
"Saya mewakili Pemerintah Kota, kalau sekuriti atau Satpol saya di Pasar Pagi, apapun masalah di belakangnya ada kesalahan, dengan teman-teman jurnalis, saya minta maaf," tuturnya.
Menurutnya, permintaan maaf tersebut merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah terhadap persoalan yang melibatkan petugas di lingkungan Pasar Pagi.
Ia berharap persoalan dapat segera diredakan tanpa menghilangkan upaya untuk menyelesaikan akar masalahnya.
"Saya minta maaf dan mohon mereka bisa dimaafkan," ujar Andi Harun.
Andi Harun meminta kedua pihak menahan diri dan membuka ruang untuk penyelesaian secara baik.
Ia berharap insiden tersebut tidak kembali terjadi serta menjadi pembelajaran bagi seluruh pihak dalam membangun komunikasi yang lebih baik di ruang publik. (abi)