• Kamis, 13 Agustus 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kondisi sawah yang berada di Kelurahan Bukit Biru, Rabu (12/8/2026), (foto:Achmad Nizar/KutaiRaya).

TENGGARONG,(KutaiRaya.com): Musim kemarau mulai menyulitkan sejumlah petani di berbagai kecamatan, salah satunya dari Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Sejumlah lahan sawah mengalami kekurangan air, bahkan tanaman padi yang baru berusia sekitar 10 hari mulai terdampak kekeringan.

Salah seorang petani di Kelurahan Bukit Biru, Herman mengatakan, kondisi ini sudah berlangsung hampir sebulan, setelah kemarau tiba.

Padahal, tanaman padinya masih berada pada tahap awal pertumbuhan yang membutuhkan pasokan air cukup.

"Kurang lebih sudah sebulan airnya susah. Padi baru ditanam, sekitar 10-15 hari kemudian kondisi sawah mulai kering," ujarnya, Rabu (12/8/2026).

Untuk menjaga tanaman tetap hidup, ia sempat menggunakan pompa air atau alkon selama 2 hari setelah masa tanam.

Namun, upaya tersebut terhenti setelah mesin pompa mengalami kerusakan.

Ia berharap mesin pompa segera diperbaiki agar pengairan sawah dapat kembali dilakukan.

"Rencananya mau dialiri lagi, tetapi pompanya rusak. Jadi sementara ditunda sampai mesinnya selesai diperbaiki," ucapnya.

Kondisi serupa terjadi di sebagian besar lahan pertanian di kawasan Bukit Biru.

Embung yang sebelumnya menjadi salah satu sumber air juga tidak dapat lagi digunakan karena ikut mengering.

Menurutnya, petani di Bukit Biru memiliki keterbatasan sumber air dibandingkan lahan yang berada di sekitar Sungai Mahakam.

Petani yang dekat dengan sungai masih dapat memanfaatkan air saat pasang dengan bantuan pompa.

Sedangkan petani di Bukit Biru lebih banyak bergantung pada air hujan.

"Kami di sini cukup jauh dari sungai, jadi selama ini lebih mengandalkan hujan," tuturnya.

Ia berharap pemerintah dapat memikirkan solusi jangka panjang untuk persoalan pengairan di wilayah tersebut.

Ia menambahkan sejumlah bantuan pengairan sebelumnya telah tersedia, mulai dari pompanisasi hingga sumur bor.

Namun, fasilitas tersebut belum sepenuhnya mampu mengatasi kebutuhan air petani.

Di kawasan itu ada 2 titik sumur bor dengan kedalaman sekitar 80 meter.

Namun, sumur tersebut tidak lagi mengeluarkan air saat musim kemarau dan hanya kembali berfungsi ketika musim hujan.

Menanggapi kondisi ini, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Nazyarudin mengatakan, pihaknya telah melakukan pendataan dan verifikasi terhadap kebutuhan petani yang mengalami kekurangan air.

Menurutnya, bantuan yang diberikan saat ini salah satunya dengan memanfaatkan pompa yang tersedia di kelompok tani lain, tetapi belum digunakan.

"Kalau ada kelompok yang belum menggunakan pompanya dan di wilayah tersebut masih cukup air, pompanya kami geser sementara ke kelompok yang membutuhkan," ujarnya.

Ia mencontohkan, beberapa waktu lalu Distanak memindahkan pompa dari kelompok tani di Tenggarong Seberang ke wilayah Jembayan Dalam.

Langkah ini dilakukan karena di lokasi tujuan tersedia sumber air, tetapi petani tidak memiliki pompa untuk mengambilnya.

Pompa ini bersifat pinjaman dan nantinya akan dikembalikan kepada kelompok pemilik, setelah kondisi kembali memungkinkan.

Ia menjelaskan persoalan kekeringan saat ini sudah terjadi di sejumlah wilayah Kukar.

Berdasarkan catatan sementara Distanak, sekitar 80 persen dari total areal persawahan di Kukar mengalami dampak kekeringan dengan tingkat yang berbeda-beda, ada yang cukup parah dan adapula masih ringan.

"Dampaknya juga tergantung umur tanaman," katanya.

Ia menuturkan tanaman padi yang sudah berumur lebih dari 2 hingga 3 bulan relatif lebih mampu bertahan karena telah melewati fase awal pertumbuhan.

Berbeda dengan tanaman yang baru ditanam karena membutuhkan ketersediaan air lebih banyak.

Sehingga saat ini Distanak memprioritaskan dukungan pompa untuk petani yang baru melakukan penanaman dan memiliki sumber air yang masih dapat dimanfaatkan.

"Yang baru tanam memang harus mendapatkan air. Karena itu pompa-pompa kami arahkan untuk membantu agar proses tanam tetap bisa berlanjut," ujarnya.

Di sisi lain, Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri mengatakan, pemerintah daerah telah mengerahkan sejumlah Organisasi erangkat Daerah (OPD) untuk menangani dampak kekeringan terhadap lahan pertanian.

Penanganan ini dikoordinasikan bersama Distanak, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pekerjaan Umum (PU), serta Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan.

"Kita sekarang mencarikan solusi bagaimana pengairan di sawah-sawah yang terdampak kemarau dan kekeringan ini bisa teratasi dengan baik," katanya.

Ia menambahkan Pemkab Kukar telah mengidentifikasi sekitar 10 kecamatan yang merupakan kawasan lumbung padi dan ikut terdampak kemarau.

Kondisi paling banyak terjadi pada area persawahan yang sistem pengairannya masih bergantung pada hujan.

Pemerintah kini berupaya mencari sumber air terdekat agar lahan pertanian yang terdampak dapat kembali memperoleh pasokan air.

Untuk memastikan kondisi di lapangan, Pemkab Kukar juga akan melakukan koordinasi dengan seluruh camat, kepala desa, penyuluh pertanian.

"Kita akan memastikan bagaimana kondisi ini terjadi di lapangan. Tim juga akan turun untuk memantau dan mencarikan solusi terbaik bagi masyarakat," ujarnya.

Selain itu, Pemkab Kukar menyiapkan pemanfaatan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk mendukung pengadaan dan distribusi pompa air bagi petani yang membutuhkan.

Ia mengatakan, kebutuhan pompa akan disesuaikan dengan luas lahan yang terdampak.

Untuk lahan sawah dengan luasan di bawah 20 hektare, pompa berukuran 3 inci dinilai masih dapat digunakan.

"Tetapi kalau sudah di atas 20 hektare, kita membutuhkan pompa yang lebih besar dan itu harus segera kita adakan," ucapnya. (*zar)



Pasang Iklan
Top