
Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie sata mengecek kondisi bangunan SMPN 28 Loa Buah. Rabu (12/08/2026). (Foto:Abi/KutaiRaya)
SAMARINDA,(KutaiRaya.com): Komisi IV DPRD Kota Samarinda menyoroti keterbatasan ruang belajar, sekaligus kondisi sejumlah bagian bangunan di SMPN 28 Loa Buah, Kecamatan Sungai Kunjang.
Selain kekurangan ruang kelas, bagian atap sekolah juga dinilai perlu mendapat perhatian karena material triplek pada sejumlah titik mulai terlepas.
Persoalan ini ditemukan saat Komisi IV DPRD Samarinda meninjau Gedung SMPN 28 Loa Buah.
Sekolah yang kini menampung 455 murid itu hanya memiliki 14 ruang kelas, sehingga laboratorium komputer terpaksa dialihfungsikan menjadi ruang belajar.
Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie mengatakan, kondisi bangunan sekolah secara umum masih cukup baik.
Namun, beberapa bagian bangunan tetap membutuhkan perhatian, termasuk bagian atap yang mulai mengalami kerusakan.
"Untuk kondisi bangunan keseluruhan SMPN 28 sudah cukup baik, tinggal penambahan 2 kelas yang kurang untuk menampung 32 siswa," kata Novan.
Menurutnya, kondisi ini perlu segera ditindaklanjuti agar kerusakan tidak berkembang dan mengganggu keamanan maupun kenyamanan murid serta tenaga pendidik.
Ia menilai perbaikan fasilitas sekolah seharusnya tidak hanya berorientasi pada pembangunan ruang baru, tetapi juga memastikan bangunan yang sudah ada tetap layak digunakan.
Di sisi lain, kebutuhan ruang kelas menjadi persoalan utama karena jumlah murid yang cukup banyak belum sebanding dengan ketersediaan ruang belajar.
Dengan hanya 14 ruang kelas, jumlah murid dalam satu kelas saat ini mencapai 34 hingga 36 orang.
Menanggapi berbagai kebutuhan tersebut, Novan mengatakan, usulan penambahan 2 ruang kelas telah disampaikan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Samarinda.
Dengan adanya ruang baru, laboratorium komputer yang selama ini digunakan sebagai ruang belajar diharapkan dapat dikembalikan ke fungsi semula.
Namun, Novan menegaskan pembangunan ruang kelas baru harus memperhatikan kondisi lingkungan sekitar sekolah.
Komisi IV menemukan adanya aliran air dari kawasan permukiman yang berada di daerah lebih tinggi dan berbukit di belakang sekolah.
"Kita perlu juga memikirkan bagaimana bangunan ini aman dari limpahan air ketika hujan. Karena di belakang itu kawasan permukiman berbukit," kata Novan.
Saat hujan deras, limpasan air dari kawasan tersebut berpotensi mengalir ke halaman sekolah.
Kondisi ini perlu ditangani agar tidak menimbulkan persoalan baru terhadap bangunan maupun lingkungan sekolah.
Dia membeberkan pembiayaan pembangunan juga tidak harus sepenuhnya bersumber dari APBD Kota Samarinda.
Pemerintah daerah dapat mengupayakan dukungan melalui sumber pendanaan lain, termasuk Bantuan Keuangan (Bankeu) maupun Dana Alokasi Khusus (DAK).
Meskipun kebutuhan tersebut dinilai cukup mendesak, Novan mengatakan, realisasi penambahan ruang kelas paling cepat baru dapat dilakukan pada 2028.
Hal ini dikarenakan pembahasan anggaran 2027 telah memasuki tahap akhir.
"Karena anggaran 2027 telah masuk rancangan akhir dan sudah dibahas sama badan anggaran, jadi pada dasarnya secepat-cepatnya 2028," tuturnya.
Komisi IV berharap kebutuhan SMPN 28 Loa Buah tetap menjadi bagian dari perencanaan pembangunan pendidikan Samarinda.
Penanganan tidak hanya diarahkan pada penambahan ruang belajar, tetapi juga perbaikan bangunan dan fasilitas pendukung agar seluruh lingkungan sekolah aman, nyaman, dan layak bagi 455 murid yang menempuh pendidikan di sekolah tersebut.
Kepala SMPN 28 Loa Buah Samarinda, Agus mengatakan, sekolah membutuhkan penambahan 2 rombongan belajar (Rombel) agar kapasitas ruang belajar dapat disesuaikan dengan jumlah murid.
"Ada ruang yang sebelumnya ruang laboratorium, dijadikan ruang kelas dan itu hanya mampu menampung 24 siswa. Satu kelas seharusnya menampung 32 siswa," ujar Agus.
Ia menjelaskan penggunaan laboratorium komputer sebagai ruang kelas dilakukan karena sekolah tidak memiliki ruang belajar yang cukup.
Kondisi itu membuat fungsi sejumlah fasilitas harus disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran.
Selain persoalan ruang kelas, Agus juga meminta perhatian terhadap kondisi fisik bangunan, khususnya bagian atap.
Ia mengatakan, terdapat bagian triplek pada atap yang mulai terlepas, sehingga perlu diperiksa dan diperbaiki agar tidak membahayakan warga sekolah.
"Kami berharap bagian itu (atap) juga mendapat perhatian dan bisa segera diperbaiki," kata Agus.
Menurutnya, selain ruang kelas dan atap, sekolah juga mengusulkan pembangunan perpustakaan serta pagar baru.
"Pagar di samping sekolah sudah roboh dan cukup lama. Kami meminta supaya bisa dibantu dibuatkan pagar baru," ucap Agus. (abi)