• Rabu, 29 Juli 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Balikpapan, Neny Dwi Winahyu, pada hari Rabu (29/7/2026).(Foto: Sulastri/KutaiRaya.com)


BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispustakar) Kota Balikpapan terus mengubah wajah layanan literasi dengan memadukan perpustakaan konvensional dan teknologi digital. Langkah ini menjadi strategi pemerintah daerah, untuk memperluas akses membaca sekaligus membangun budaya literasi yang dimulai dari lingkungan keluarga.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Balikpapan, Neny Dwi Winahyu, mengatakan penguatan literasi pada 2026 difokuskan melalui program literasi keluarga yang menjangkau anak usia 0 hingga 18 tahun. Program tersebut disusun sesuai tahapan usia sehingga materi dan metode penyampaiannya lebih efektif.

"Saat ini kami menyasar siswa sekolah dasar melalui program dongeng keliling. Selanjutnya akan dilanjutkan kepada siswa SMA melalui kegiatan literasi musik. Setiap segmen pendidikan memiliki pendekatan yang berbeda dalam memberikan edukasi literasi," ujar Neny usai kegiatan Mendongeng Bersama Bunda Literasi di Gedung Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Balikpapan, Rabu (29/7/2026).

Selain edukasi, Dispusip juga memperkuat akses membaca melalui Program Alibaba (Anak Literasi Kebanggaan Balikpapan). Program ini memberikan dua pilihan layanan kepada masyarakat, yakni melalui perpustakaan konvensional dan layanan digital.

Untuk layanan konvensional, masyarakat dapat memanfaatkan Perpustakaan Daerah Kota Balikpapan, perpustakaan khusus di tujuh instansi pemerintah, perpustakaan sekolah, hingga perpustakaan yang berada di sejumlah masjid.

Sementara itu, layanan digital diperluas melalui aplikasi iBalikpapan serta pembangunan pojok baca digital yang akan ditempatkan di berbagai ruang publik, di antaranya Taman Tiga Generasi dan Taman Bekapai. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan membuat masyarakat lebih mudah mengakses buku dan bahan bacaan kapan saja tanpa harus datang ke perpustakaan.

"Masyarakat memiliki dua pilihan akses literasi, yaitu secara konvensional melalui perpustakaan dan secara digital melalui layanan yang kami sediakan," katanya.

Neny menambahkan, pengembangan budaya literasi menjadi salah satu arahan Bunda Literasi Kota Balikpapan bersama Wali Kota Balikpapan. Sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) dan pintu gerbang Kalimantan Timur, Balikpapan diharapkan mampu menjadi contoh dalam pengembangan literasi berbasis kolaborasi dan teknologi.

Menurutnya, pemerintah daerah juga terus memantau dua indikator nasional, yakni Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) dan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM). Namun, seluruh program yang dijalankan tidak semata-mata mengejar peningkatan nilai indikator tersebut.

"Kami ingin mengenalkan literasi kepada masyarakat sejak usia dini melalui berbagai kegiatan, sehingga budaya membaca tumbuh secara alami di lingkungan keluarga dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Melalui kombinasi layanan perpustakaan, inovasi digital, dan pendekatan yang disesuaikan dengan setiap jenjang usia, Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan berharap budaya membaca semakin mengakar. Literasi pun diharapkan menjadi modal penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang siap bersaing di era IKN dan transformasi digital. (Las)



Pasang Iklan
Top