
Foto bersama peserta dan seluruh narasumber dari UGM, Rabu (22/7/2026).(Foto: Yudi/KutaiRaya.com)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Pemerintah Kota Samarinda dan Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Pengurus Cabang Samarinda menggelar Youth Leadership & Civic Ethics Training bertema "Membangun Pemimpin Muda Berintegritas dan Berpikir Kritis" di Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Samarinda, Rabu (22/7/2026).
Kegiatan ini diikuti 25 peserta yang berasal dari kalangan pelajar tingkat SMA di Kota Samarinda. Pelatihan tersebut bertujuan membekali generasi muda dengan kemampuan kepemimpinan, etika publik, berpikir kritis, serta meningkatkan kepedulian terhadap pembangunan daerah.
Ketua tim pelaksana, Mustofa Anshori Lidinillah, mengatakan pembangunan daerah membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter, integritas, dan kemampuan menghadapi persoalan masyarakat.
"Pemuda tidak hanya dipersiapkan menjadi pemimpin di masa depan, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu menghadirkan solusi bagi berbagai tantangan pembangunan sejak hari ini. Karena itu, kepemimpinan harus dibangun di atas fondasi etika, integritas, dan kemampuan berpikir kritis," ujarnya.
Selama pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai kepemimpinan berbasis nilai, etika kewargaan (civic ethics), pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, komunikasi kepemimpinan, hingga penyusunan gagasan inovatif agar mendukung pembangunan Kota Samarinda.
Sementara, Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Filsafat UGM, Iva Ariani, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat Fakultas Filsafat UGM yang berfokus pada pembentukan karakter pemimpin muda berbasis etika.
"Kami ingin memberikan bekal kepada generasi muda di Samarinda agar ketika menjadi pemimpin nanti mereka memiliki landasan etika yang kuat, memahami budaya Indonesia, ideologi Pancasila, dan mampu memimpin dengan nilai-nilai yang sesuai dengan karakter bangsa," katanya.
Menurutnya, pelatihan ini tidak berhenti pada penyampaian materi di ruang kelas. Setelah kegiatan selesai, para peserta akan diminta menyusun proyek dan gagasan inovatif yang berisi solusi bagi berbagai persoalan di Kota Samarinda.
"Setelah pelatihan, peserta akan menyusun proyek atau ide-ide terbaik untuk pembangunan Kota Samarinda. Selanjutnya kami juga merencanakan pembentukan Komunitas Pemimpin Muda Samarinda sebagai wadah bagi mereka untuk terus belajar, berkolaborasi, dan berkontribusi kepada masyarakat," jelasnya.
Ia mengungkapkan, Samarinda dipilih sebagai lokasi pertama pelaksanaan program karena dinilai memiliki posisi strategis sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Timur sekaligus daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
"Samarinda kami pilih sebagai pilot project karena Kalimantan Timur akan menjadi pusat perhatian nasional seiring pembangunan IKN. Kami ingin memulai dari sini sebelum nantinya program ini dikembangkan ke kota-kota lain di Indonesia," ungkapnya.
Selain memperkuat kemampuan kepemimpinan, pelatihan juga memberikan pemahaman mengenai tantangan yang akan dihadapi generasi muda di era digital, seperti perkembangan kecerdasan buatan (AI), media sosial, hingga meningkatnya polarisasi di masyarakat.
"Generasi Z akan menghadapi tantangan yang berbeda dengan pemimpin saat ini. Karena itu mereka harus mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai etika, Pancasila, serta budaya Indonesia sebagai pijakan dalam mengambil keputusan," tambahnya.
Kolaborasi antara Fakultas Filsafat UGM, Pemerintah Kota Samarinda, dan KAGAMA diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem kepemudaan yang produktif, berintegritas, dan memiliki semangat kolaborasi. Melalui program tersebut, diharapkan lahir generasi pemimpin muda yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Samarinda, Kalimantan Timur, dan Indonesia. (*Yud)