• Jum'at, 19 Juni 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Pemkab Berau



Wakil Bupati Berau, Gamalis saat meninjau langsung layanan hemodialisa di RSUD dr Abdul Rivai.


BERAU, (KutaiRaya.com): Di balik keterbatasan kapasitas layanan hemodialisa (cuci darah) di RSUD dr Abdul Rivai, terdapat harapan besar agar puluhan pasien Berau yang selama ini harus menjalani pengobatan di luar daerah dapat kembali berkumpul bersama keluarga.

Hal itu menjadi perhatian Wakil Bupati Berau, Gamalis, saat meninjau langsung layanan hemodialisa di RSUD dr Abdul Rivai. Dalam kunjungan tersebut, ia melihat kebutuhan layanan yang terus meningkat, sementara kapasitas ruang yang tersedia belum mampu mengakomodasi seluruh pasien.

Menurut Gamalis, persoalan utama yang dihadapi saat ini bukan pada ketersediaan alat kesehatan maupun tenaga medis, melainkan keterbatasan ruang pelayanan yang berdampak pada kuota pasien.

“Setelah kami melihat langsung, ternyata kendalanya bukan pada mesin atau SDM. Keduanya sudah tersedia dan siap mendukung peningkatan layanan. Yang menjadi hambatan adalah keterbatasan ruang sehingga kapasitas pelayanan belum bisa ditambah,” ungkapnya.

Saat ini, layanan hemodialisa di RSUD dr Abdul Rivai hanya didukung delapan tempat tidur yang digunakan sesuai standar pelayanan kesehatan. Kondisi tersebut membuat rumah sakit harus membatasi jumlah pasien yang dapat dilayani setiap pekan.

Padahal, kebutuhan layanan terus meningkat seiring bertambahnya pasien gagal ginjal yang harus menjalani terapi rutin dua kali dalam seminggu sepanjang hidup mereka.

“Pasien cuci darah membutuhkan layanan berkelanjutan. Ketika kapasitas ruang terbatas, otomatis rumah sakit sulit menambah kuota meskipun kebutuhan masyarakat terus bertambah,” katanya.

Keterbatasan tersebut bahkan berdampak pada puluhan warga Berau yang hingga kini masih menjalani terapi cuci darah di Tarakan, Balikpapan, maupun Samarinda. Mereka terpaksa tinggal sementara di luar daerah karena belum mendapatkan kuota pelayanan di Berau.

Bagi Gamalis, kondisi itu bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga menyangkut beban sosial dan ekonomi keluarga pasien.

“Bayangkan mereka harus meninggalkan keluarga, menyewa tempat tinggal di luar daerah, dan menjalani pengobatan jauh dari rumah. Ini yang ingin kita carikan solusinya bersama,” ujarnya.

Karena itu, Pemkab Berau mendorong percepatan pemanfaatan fasilitas kesehatan yang tersedia, termasuk optimalisasi Gedung Walet sebagai bagian dari strategi memperluas layanan kesehatan di daerah.

Menurutnya juga, apabila sejumlah fasilitas pendukung di Gedung Walet telah dilengkapi dan beroperasi penuh, beberapa layanan rumah sakit dapat direlokasi ke gedung tersebut. Langkah itu akan membuka ruang baru yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan layanan hemodialisa.

“Ini bukan sekadar menambah ruangan, tetapi membuka harapan bagi pasien-pasien Berau agar bisa mendapatkan layanan cuci darah di daerah sendiri tanpa harus pergi ke kota lain,” tegasnya.

Ia menambahkan, peningkatan kapasitas layanan hemodialisa menjadi salah satu kebutuhan prioritas yang harus segera diwujudkan mengingat tren penyakit gagal ginjal yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Gamalis menambahkan , Pemkab Berau akan terus memberikan dukungan terhadap pengembangan fasilitas kesehatan agar pelayanan kepada masyarakat semakin optimal, cepat, dan mudah diakses.

“Harapan kita sederhana, masyarakat Berau bisa memperoleh pelayanan kesehatan yang layak di daerahnya sendiri. Ketika kapasitas layanan bertambah, pasien yang selama ini berobat di luar daerah bisa pulang dan menjalani pengobatan lebih dekat dengan keluarga,” pungkasnya. (Adv/Bul)



Pasang Iklan
Top