• Sabtu, 13 Juni 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Outlet Ovi Galer di Dekranasda Kukar, Jalan Patimura, Tenggarong, Kamis (12/6/2026).(Foto: Andri Wahyudi/KutaiRaya.com)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang tergabung di Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kutai Kartanegara (Kukar) mengaku merasakan dampak perlambatan ekonomi yang menyebabkan penurunan omzet penjualan dalam beberapa waktu terakhir.

Salah satu pelaku UMKM, Etiovia, pemilik Ovi Galery mengatakan, produk utama yang dipasarkan adalah tas berbahan kayu.

Selain itu, ia juga menjual berbagai produk kerajinan lain, seperti aksesori, topi, pakaian, hingga produk yang dibuat sesuai pesanan pelanggan.

“Kalau produk utama saya adalah tas kayu. Yang lainnya mulai dari aksesori, topi, baju, sesuai permintaan pelanggan,” ujar Etiovia, Jumat (12/6/2026).

Etiovia menuturkan dirinya telah menempati gerai Dekranasda selama kurang lebih 5 tahun.

Menurutnya, fasilitas yang diberikan pemerintah daerah sangat membantu keberlangsungan usaha para pelaku UMKM karena tidak dikenakan biaya sewa.

“Di sini gratis dari pemerintah, tidak dipungut biaya apapun, kecuali listrik dan air yang kami bayar sendiri. Saya sangat bersyukur karena sangat membantu, apalagi kondisi keluarga kami juga sedang tidak mudah karena suami belum memiliki pekerjaan tetap,” ucapnya.

Kendati demikian, kondisi ekonomi yang lesu berdampak langsung terhadap omzet usahanya.

Jika pada tahun-tahun sebelumnya omzet penjualan mampu mencapai sekitar Rp 50 juta per bulan, kini pendapatannya mengalami penurunan cukup signifikan.

Bahkan, penurunan omzetnya hingga mencapai 80 persen.

“Sekarang paling sekitar Rp 18 juta per bulan. Bahkan belakangan ini ada yang hanya Rp 12 juta, Rp 9 juta sampai Rp 8 juta per bulan,” katanya.

Menurut Etiovia, produk yang paling banyak diminati pelanggan, antara lain kerajinan manik-manik, syal, dompet, tas, serta pakaian adat khas daerah.

Ia menilai menurunnya daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor utama berkurangnya omzet penjualan.

Sebagian besar konsumen masih lebih memilih berbelanja langsung ke gerai dibandingkan melalui platform daring.

“Kalau pembeli biasanya lebih suka datang langsung ke Dekranasda karena bisa melihat dan memilih barang secara langsung. Online ada juga, tapi lebih banyak yang datang ke sini,” tuturnya.

Produk yang dijual memiliki rentang harga yang bervariasi, mulai dari gelang dengan harga terjangkau hingga kerajinan berbahan batu permata yang dapat mencapai Rp 15 juta per unit.

Bahkan, pembelinya tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Kukar.

Etiovia yang mulai menekuni usaha kerajinan sejak 2021 itu juga mengakui masih menghadapi kendala dalam memperoleh bahan baku, khususnya kayu jati dan material pendukung lainnya.

“Kalau bahan baku memang agak sulit, terutama kayu jati dan beberapa material pernak-pernik. Untungnya saya punya teman pengusaha mebel, jadi sebagian bahan berasal dari sisa produksi mereka,” tuturnya.

Selain itu, kenaikan harga berbagai kebutuhan juga berdampak pada biaya produksi, terutama untuk kebutuhan pengemasan produk.

“Packing naik, bahan-bahan juga naik. Sangat berpengaruh, tetapi sejauh ini masih bisa kami ikuti,” tambahnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar, Sayid Fathullah mengatakan, pemerintah daerah terus memberikan dukungan kepada para pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM), khususnya sektor kerajinan tangan yang berlokasi di kawasan Dekranasda Jalan Pattimura, Tenggarong.

Menurutnya, para pelaku usaha saat ini sedang beradaptasi dengan perkembangan perdagangan digital dan mulai memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran.

“Mereka sekarang beradaptasi dengan perdagangan online. Bukan lagi menjadi masalah, tetapi menjadi peluang. Mereka sudah pintar mempromosikan hasil kerajinannya melalui TikTok, Instagram, Facebook, dan berbagai media sosial lainnya,” ujarnya.

Sayid menjelaskan, pemerintah daerah tidak memungut biaya sewa lapak bagi para pelaku UMKM yang menempati gerai Dekranasda.

Fasilitas ini disediakan sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan industri kreatif dan kerajinan daerah.

“Sampai saat ini tidak ada biaya sewa. Pemerintah daerah sudah memfasilitasi tempat itu secara gratis. Mereka hanya membayar listrik dan mengelola kebersihan secara mandiri,” katanya.

Ia menambahkan, Disperindag Kukar juga terus mendorong setiap tamu maupun rombongan yang berkunjung ke daerah untuk menyempatkan diri mengunjungi Dekranasda sebagai upaya meningkatkan pemasaran produk lokal.

“Industri kerajinan kita tetap hidup. Hanya saja sekarang pola pemasarannya sudah berkembang, tidak hanya mengandalkan penjualan langsung tetapi juga memanfaatkan dunia digital,” ucapnya. (Dri)



Pasang Iklan
Top