• Rabu, 24 Juni 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Wakil Wali Kota Balikpapan, H. Bagus Susetyo, Rabu (20/6/2026).(Foto: Sulastri/KutaiRaya.com)


BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan mulai serius mengembangkan lahan pertanian sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan pangan, sekaligus menekan inflasi daerah.

Wakil Wali Kota Balikpapan, H. Bagus Susetyo, mengungkapkan saat ini tengah dilakukan rehabilitasi dan cetak sawah di kawasan Gunung Binjai, Kecamatan Balikpapan Timur, dengan total luasan mencapai 96 hektare.

Dari total tersebut, sekitar 42 hektare sudah berhasil dicetak dan siap dimanfaatkan sebagai lahan persawahan. Sementara 54 hektare sisanya masih menunggu dukungan anggaran untuk bisa difungsikan secara optimal.

“Kita sudah mengalihfungsikan lahan menjadi tanah ketahanan pangan. Di Gunung Binjai totalnya 96 hektare, dan 42 hektare sudah bisa dicetak sawah. Sisanya kita harapkan bisa segera ditindaklanjuti,” ujar Bagus, pada hari Rabu (20/6/2026).

Bagus menegaskan, keterbatasan anggaran daerah menjadi tantangan utama dalam percepatan pengembangan lahan tersebut. Karena itu, Pemkot berharap adanya dukungan anggaran dari pemerintah pusat, terutama untuk pembangunan infrastruktur penunjang pertanian.

“Kita berharap ada bantuan anggaran pusat untuk cetak sawah lanjutan, pembangunan jalan usaha tani, serta saluran irigasi teknis,” jelasnya.

Selain itu, Pemkot juga mengantisipasi potensi musim kemarau dengan mengusulkan pembangunan sumur air dalam agar pasokan air tetap mencukupi untuk mengairi seluruh lahan 96 hektare tersebut.

“Kalau musim kemarau terjadi, kita minta ada sumur air dalam supaya kapasitas air cukup untuk sawah,” tambahnya.

Tak hanya di Gunung Binjai, Pemkot juga melihat potensi lahan pertanian di wilayah utara Balikpapan, termasuk kawasan di kanan kiri jalan tol yang sebagian masih berupa lahan gambut. Lahan tersebut berpotensi dikembangkan melalui skema Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B).

Menurut Bagus, terdapat sejumlah skema anggaran yang bisa dimanfaatkan melalui program KP2B, meski tetap memerlukan usulan teknis yang matang dari pemerintah daerah.

“Ada beberapa anggaran yang bisa dimanfaatkan lewat KP2B. Tapi tentu perlu usulan teknis yang kita siapkan dengan baik,” katanya.

Ia mengakui, jika hanya mengandalkan APBD, pengembangan sektor pertanian akan berjalan lambat karena keterbatasan fiskal daerah.

Selain pembangunan lahan dan infrastruktur, Pemkot juga berencana mengusulkan bantuan alat pertanian, pupuk, serta benih untuk meningkatkan produktivitas petani lokal.

“Petani kita harus meningkat hasilnya. Kalau produktivitas naik, ekonomi mereka juga naik. Ini tentu berdampak pada perekonomian Kota Balikpapan secara keseluruhan,” ujarnya.

Langkah ini juga dinilai strategis untuk mengendalikan inflasi, terutama komoditas hortikultura seperti cabai dan tomat yang kerap menjadi penyumbang kenaikan harga.

“Inflasi kita salah satunya dipengaruhi cabai dan tomat. Jadi kita harus menyiapkan produksi sendiri agar tidak terlalu tergantung pasokan luar,” tegasnya.

Penguatan sektor pertanian lokal, Pemkot Balikpapan berharap dapat menciptakan sistem pangan yang lebih mandiri, stabil, dan berkelanjutan, sekaligus menopang kebutuhan masyarakat serta mendukung program nasional di bidang ketahanan pangan.

Sementara itu, Kepala DKP3 Kota Balikpapan, Sri Wahyuningsih, menegaskan bahwa pendekatan monitoring dan evaluasi menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan program.

Beberapa program menjadi sorotan utama, di antaranya rehabilitasi lahan sawah seluas 14 hektare, pembangunan jalan usaha tani sepanjang 2 kilometer, serta penyaluran bantuan sarana produksi (saprodi) kepada kelompok tani.

Hasilnya mulai terlihat. Jalan usaha tani yang sebelumnya menjadi kendala kini justru menjadi penggerak aktivitas pertanian. Akses yang dahulu sulit dan berisiko kini berubah menjadi jalur yang lebih aman dan efisien, sehingga memudahkan petani menjangkau lahan serta mengangkut hasil panen. “Dampaknya cukup terasa,” jelas Sri.

Selain itu, dukungan berupa bantuan saprodi seperti benih dan pupuk yang disalurkan secara rutin turut mendorong peningkatan hasil pertanian. Pembangunan jaringan irigasi oleh Dinas Pekerjaan Umum Kota Balikpapan juga memastikan ketersediaan air bagi lahan persawahan tetap terjaga.

Sri Wahyuningsih menegaskan, keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi antar perangkat daerah dalam membangun sektor pertanian secara berkelanjutan.

Ke depan, Pemkot Balikpapan berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan dan evaluasi agar setiap program semakin tepat sasaran serta memberikan dampak maksimal. (Las)



Pasang Iklan
Top