• Senin, 03 Agustus 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



SPPG di Kelurahan Sukarame, Kecamatan Tenggarong.(Foto: Andri Wahyudi/Kutairaya)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menerapkan kebijakan kerja dari rumah atau Work From Home (WFH) satu hari dalam sepekan, yakni setiap Jumat, mulai hari ini (10/4/2026).

Kebijakan ini merupakan bagian dari penyesuaian pola kerja baru di lingkungan instansi pemerintah.

Kepala BGN, Dadan Hindayana mengatakan, kebijakan ini langsung dijalankan sesuai arahan pemerintah dengan tetap memperhatikan kelangsungan pelayanan publik.

“Untuk bidang pelayanan publik, kita atur ada yang WFH pada Jumat. Bagi yang bertugas Work From Office (WFO) pada Jumat, maka mereka akan menjalankannya pada Senin. Ini dilakukan secara bergantian,” ujarnya.

Di tingkat daerah, penerapan kebijakan tersebut tidak berdampak signifikan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kelurahan Sukarame, Tenggarong, Ninda Dwi Fitriani, memastikan distribusi program tetap berjalan normal.

Ia menjelaskan, distribusi MBG untuk peserta didik dilakukan hingga Jumat, sedangkan untuk kelompok tertentu, seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita tetap dilayani hingga Sabtu.

“Untuk anak sekolah memang distribusinya sampai hari Jumat. Namun, untuk kelompok ibu hamil, menyusui, dan balita, penyaluran tetap dilakukan sampai Sabtu, sehingga operasional tetap berjalan seperti biasa,” ujarnya.

Menurut Ninda, pelaksanaan program MBG di wilayahnya saat ini mencakup 11 satuan pendidikan dengan total penerima manfaat lebih dari 3.000 murid.

Kendati demikian, penyaluran untuk kelompok ibu hamil dan menyusui belum sepenuhnya berjalan optimal.

Hal ini disebabkan keterbatasan fasilitas dapur produksi yang masih dalam tahap pengembangan di wilayah Kutai Kartanegara (Kukar).

Setiap dapur memiliki batas maksimal kapasitas pelayanan sehingga belum mampu menjangkau seluruh sasaran.

“Kami masih terkendala kapasitas dapur. Saat ini dapur yang tersedia sudah melayani lebih dari 2.500 penerima manfaat, sehingga penyaluran untuk kelompok 3B (ibu hamil, menyusui, dan balita) masih dalam proses pengembangan,” katanya.

Ia menambahkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah kelurahan dan kecamatan untuk memperluas cakupan layanan.

Sejumlah dapur baru juga tengah dipersiapkan agar program MBG dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

Dari sisi operasional, Ninda memastikan distribusi berjalan lancar.

Jika terdapat kendala di lapangan, maka pihaknya segera melakukan penanganan melalui komunikasi intensif dengan pihak sekolah.

Untuk bahan baku, pihaknya mengutamakan produk lokal dengan sistem pemesanan harian guna menjaga kualitas dan kesegaran makanan.

“Sebisa mungkin kami menggunakan bahan lokal dari petani setempat. Jika tidak mencukupi, baru kami mengambil dari luar daerah, seperti Samarinda,” ujarnya.

Ke depan, Ninda berharap program MBG dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, khususnya di wilayah Tenggarong dan Kukar secara umum.

“Harapannya, program ini bisa dirasakan oleh semua masyarakat, baik siswa maupun kelompok rentan, seperti ibu hamil, menyusui, dan balita, sebagai bagian dari upaya menciptakan generasi emas 2045,” ucapnya. (Dri)



Pasang Iklan
Top