Mamalia Pesut Mahakam.(Dok. Wisata Desa Pela)
TENGGARONG,(KutaiRaya.com): Aktivitas transportasi sungai dan dampak pembangunan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam masih menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup Pesut Mahakam, mamalia air tawar endemik Kalimantan Timur yang kini kian langka.
Kondisi ini mendorong berbagai pihak, mulai dari masyarakat desa, pemerintah daerah, hingga lembaga konservasi, untuk memperkuat kerja sama menjaga habitat pesut.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pela, Alimin Azerbaijan, menegaskan pesut sangat rentan terhadap perubahan lingkungan, khususnya kualitas air dan kebisingan akibat lalu lintas sungai yang padat.
"Pembangunan memang tidak bisa dihindari, tapi dampaknya harus dikendalikan. Aktivitas transportasi di perairan Mahakam, termasuk kapal dan ponton (batubara), jelas memengaruhi habitat pesut," ujar Alimin, Kamis (29/1/2026).
Menurutnya, langkah strategis telah dilakukan pemerintah daerah dengan menetapkan wilayah Mahakam Tengah sebagai kawasan konservasi.
Proses tersebut dimulai dari pencadangan oleh pemerintah daerah hingga akhirnya ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri, sehingga status kawasan kini berada di bawah kewenangan pemerintah pusat.
"Kami di daerah sifatnya mendukung. Sekarang pengelolaannya di pusat, tapi kami tetap aktif bekerja sama dengan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) dan Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) untuk menjalankan program pelestarian," tuturnya.
Kawasan konservasi Pesut Mahakam Wilayah Hulu Kutai Kartanegara (Kukar) mencakup wilayah perairan yang luas, mulai dari Muara Muntai, Kota Bangun, Muara Kaman, Muara Wis, Kenohan, hingga daerah sekitarnya.
Salah satu area yang kerap menjadi tempat bermain pesut adalah Sungai Pela, yang diharapkan minim aktivitas lalu lintas berat.
Alimin menekankan pelestarian pesut tidak bisa dilepaskan dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem sungai secara keseluruhan, terutama ketersediaan pakan dan kelestarian sumber daya ikan.
"Yang kita jaga bukan hanya pesutnya, tapi lingkungannya. Kalau ikannya habis, habitat rusak, pesut juga tidak akan bertahan," katanya.
Sementara itu, Camat Kota Bangun, Abdul Karim mengernukakan, keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan konservasi.
Warga Desa Pela dan desa-desa sekitar secara aktif bergotong royong menjaga kebersihan sungai, termasuk membersihkan gulma yang meningkat saat musim banjir.
"Gulma dari danau sering terbawa arus. Kalau tidak dibersihkan bisa mengganggu aktivitas warga dan juga habitat pesut," ucap Karim.
Ia juga meluruskan isu yang sempat beredar di media terkait dugaan kematian pesut di wilayah Pela.
Berdasarkan hasil konfirmasi, kejadian tersebut tidak terjadi di wilayah Kukar dan bukan merupakan pesut Mahakam.
“Kami sangat berhati-hati menyampaikan informasi. Data harus pasti agar tidak menimbulkan keresahan,” tuturnya.
Terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar, Muslik, mengakui tantangan konservasi pesut semakin kompleks seiring meningkatnya aktivitas ekonomi di Sungai Mahakam.
Kemdati demikian, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar telah menyiapkan payung regulasi dan terus mendorong sinergi lintas sektor.
"Pemerintah daerah sudah menetapkan kawasan konservasi dan mendorong hingga terbit SK Menteri. Selanjutnya, pengelolaan dilakukan bersama lembaga terkait, seperti BPSPL dan Yayasan RASI," kata Muslik.
Ia menambahkan, meskipun pesut merupakan mamalia air yang kewenangannya berada di bawah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), DKP Kukar tetap berperan menjaga ekosistem pendukung, termasuk pengawasan alat tangkap ikan yang berpotensi membahayakan pesut, seperti setrum, racun, dan jaring insang.
"Kawasan konservasi bukan berarti menutup aktivitas masyarakat sepenuhnya. Ada zonasi. Yang penting aktivitasnya tidak merusak," ucapnya. (dri)