• Senin, 03 Agustus 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kontingen salah satu Cabor di bawah naungan KONI Kukar, Bowling diajang BK porprov Kaltim 2025.(Foto: Dok. PBI Kukar)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Timur 2026 yang akan digelar di Kabupaten Paser, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), bersama KONI Kukar, berkomitmen penuh menurunkan atlet asli putra-putri daerah Kukar.

Komitmen ini tidak sekadar wacana. Seluruh cabang olahraga (cabor) di bawah naungan KONI Kukar diarahkan untuk menggunakan atlet yang memiliki identitas kependudukan Kukar, meskipun dihadapkan pada berbagai keterbatasan, terutama soal sarana dan prasarana latihan.

Salah satu contoh komitmen tersebut datang dari cabang olahraga Bowling Kukar. Ketua Bowling Kukar, Muhammad Wahyudi menegaskan, seluruh atlet yang dipersiapkan untuk Porprov 2026 merupakan atlet asli Kukar, meskipun latihan harus dilakukan di luar Kukar.

"Untuk BK Porprov kemarin di Samarinda, dari delapan Pengcab bowling di Kaltim, ada tujuh yang ikut. Kabupaten Paser selaku tuan rumah Porprov tidak mengikuti BK. Dan seluruh peserta yang lolos, termasuk Kukar, dinyatakan berhak mengikuti Porprov 2026," ujar Wahyudi pada Kutairaya.com saat dihubungi, Jumat (23/1/2026).

Pada ajang Babak Kualifikasi (BK) Porprov tersebut, Bowling Kukar menurunkan delapan atlet, empat putra dan empat putri. Tapi, Hingga saat ini, Kukar belum memiliki lapangan bowling. Kondisi ini membuat proses pembinaan harus dilakukan di luar daerah, di Samarinda.

"Bowling di Kukar ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1999. Tapi sempat vakum cukup lama karena tidak ada pembinaan, salah satu penyebab ya karena sarana bowling tidak ada di Kukar," ungkapnya.

Dulu, fasilitas bowling di Kaltim hanya ada di Balikpapan dan Bontang. Tapi sekarang sudah berkembang, dengan hadirnya di Samarinda,

Bowling Kukar menjadikan kota tersebut sebagai alternatif latihan

Ia juga menyampaikan, dengan kondisi Sapras saat ini, pihaknya masih mengandalkan swadaya atlet untuk melakukan latiha di Samarinda, karena fasilitas tersebut tidak gratis.

"Sekali latihan itu kita bayar per season, sekitar Rp75 ribu. Kalau latihan 5-6 season, bisa habis Rp300 ribu sampai Rp600 ribu. Dan itu tidak mungkin cuma latihan sekali. Belum lagi jumlah atlet yang kita bina, ada junior dan senior,"jelasnya.

Ia menegaskan, hingga hari ini belum ada pembiayaan khusus dari Pemkab Kukar untuk pembinaan bowling. Meski begitu, semangat untuk tetap menggunakan atlet asli Kukar tidak pernah surut.

Mengenai penggunaan atlet luar daerah, ia menegaskan, walaupun fasilitas tak ada di Kukar, pihaknya tetap menggunakan atlet dari Kukar.

"Kalau mengambil atlet dari luar Kukar, tidak. Atlet-atlet ini memang atlet Kukar dari dulu. Memang sempat beberapa tahun mereka dipakai oleh PPU, lalu dikembalikan lagi ke Kukar. Ada yang sekarang berdomisili di Balikpapan dan Samarinda karena kerja atau ikut orang tua, tapi status atletnya tetap Kukar," tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris KONI Kukar, Yani Handayani menyebutkan, untuk persiapan menuju Porprov 2026 masih berada pada tahap awal.

"Kemarin KONI bersama Dispora baru rapat membahas ekspose cabor, tindak lanjut pengadaan barang, permintaan peralatan tanding dari cabang olahraga, serta rencana training center (TC), apakah akan disentralisasi atau masing-masing cabor," ujar Yani.

Berdasarkan rekap sementara, jumlah atlet dan pelatih Kukar yang diproyeksikan mengikuti TC mencapai sekitar 1.645 orang. Saat ini, pembahasan masih pada kesiapan anggaran dan pelaksanaan TC.

Menanggapi cabor yang belum memiliki lapangan di Kukar, termasuk bowling, ia mengaku benar dengan hal tersebut.

"Bowling memang latihannya di Samarinda karena kita belum punya lapangan. Tapi atletnya sebagian besar orang Kukar. Dan karena kita menggunakan anggaran APBD, ketentuannya wajib KTP Kukar," tegasnya.

Selain bowling, beberapa cabor lain seperti Woodball juga mengalami keterbatasan fasilitas. Menurutnya, kedepannya para cabor perlu kolaborasi, tidak hanya mengandalkan anggaran KONI dan Dispora.

"Kita bisa lewat pokok-pokok pikiran anggota dewan. Jangan hanya bertumpu di satu titik, karena anggaran kita terbatas, apalagi sekarang ada rasionalisasi," ucapnya.

Dengan kondisi anggaran saat ini, pihaknya tetap optimistis untuk para cabor Kukar akan mendapatkan prestasi terbaik di Porprov 2026, melihat sebelumnya pada hasil akhir BK Porprov 2025.

"Dengan kondisi anggaran dan persiapan yang tidak maksimal, Kukar bisa masuk tiga besar. Itu sudah luar biasa. Kalau anggarannya lebih baik, kita sangat optimistis bisa bersaing di dua besar," katanya.

Ia juga menegaskan,pada kebijakan saat ini, para cabor harus mengutamakan putra daerah Kukar tanpa alasan.

"Dulu kita sempat membeli atlet dari daerah lain. Padahal kita punya atlet sendiri, mereka tidak terberdayakan. Padahal bibit unggul kita banyak," tambahnya.

Dengan kewajiban menggunakan atlet asli Kukar, diharapkan setiap cabor semakin aktif mencari, membina, dan mengembangkan potensi atlet Kukar.

"Ini menjadi semangat bersama. Bahwa Kukar punya atlet-atlet pribumi yang mampu bersaing dan membanggakan daerahnya sendiri," imbuhnya.

Disisi lain, hal yang sama disampaikan Kadispora Kukar, Aji Aku Husni, ia menegaskan, untuk atlet pada Porprov Kaltim, sejak lama ia berkomitmen untuk menurunkan atlet asli daerah.

"Kalau atlet tidak berKTP Kukar, tidak akan kami fasilitasi dan tidak akan didaftarkan. Kontingen Kukar, mami pastikan diisi atlet dari Kukar semua, kecuali mungkin beberapa pelatih yang memiliki standar khusus, "pungkasnya. (*zar)



Pasang Iklan
Top