
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Kukar, Ananias, Selasa (3/11/2026). (Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) terus mendorong penganekaragaman pangan lokal sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras.
Melalui program Stop Boros Pangan, Kenyang Tidak Harus Nasi, Pemkab Kukar berupaya mengenalkan, sekaligus mengembangkan berbagai sumber pangan lokal yang berpotensi menjadi alternatif makanan pokok masyarakat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Kukar, Ananias mengatakan, diversifikasi pangan menjadi salah satu program utama pemerintah daerah dalam mewujudkan kemandirian pangan.
Menurutnya, ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan beras.
Kukar perlu mengoptimalkan potensi pangan lain yang dapat dibudidayakan dan dikembangkan sesuai kondisi wilayah.
"Kalau kita ingin mandiri pangan, kita tidak boleh hanya bergantung pada beras. Kita harus melakukan penganekaragaman pangan, salah satunya dengan memberdayakan pangan lokal," ujar Ananias kepada KutaiRaya.com, Selasa (3/11/2026).
Ia menjelaskan, pengembangan pangan lokal menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Sejumlah komoditas yang didorong pengembangannya adalah sorgum dan jelai, yang dinilai memiliki potensi untuk dibudidayakan di Kukar.
Jelai merupakan pangan lokal yang telah dikenal masyarakat sejak dahulu, khususnya oleh sebagian masyarakat Dayak.
Sementara sorghum merupakan tanaman yang berasal dari luar, tetapi dinilai cocok dikembangkan di wilayah Kukar karena kondisi tanah dan iklimnya mendukung.
Pemkab Kukar melalui Dinas Ketapang telah memasukkan pengembangan sorghum dan jelai dalam Rencana Strategis (Renstra) 2025-2029.
Program ini diarahkan agar pengembangan pangan lokal tidak berhenti pada tahap budidaya, tetapi berlanjut hingga menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah.
"Di dua KPT itu nanti kami juga akan melakukan proses dari budidaya sampai panen, pengemasan, dan pemasaran untuk pangan lokal berupa sorgum dan jelai," ujarnya.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah ingin membangun ekosistem pangan lokal yang lebih lengkap.
Petani tidak hanya didorong untuk menanam, tetapi juga mendapatkan peluang dalam pengolahan dan pemasaran hasil panen.
Pengembangan sorghum dan jelai diharapkan dapat memperluas pilihan pangan masyarakat, sekaligus mendorong pemanfaatan potensi pertanian daerah.
Jika dikelola secara berkelanjutan, komoditas tersebut berpeluang menjadi sumber pangan alternatif dan menambah nilai ekonomi bagi pelaku usaha lokal.
Ia menegaskan, program diversifikasi pangan perlu didukung perubahan pola konsumsi masyarakat.
Pengenalan pangan lokal menjadi penting agar masyarakat semakin terbiasa memanfaatkan sumber pangan selain beras.
Pemkab Kukar berharap gerakan Stop Boros Pangan, Kenyang Tidak Harus Nasi dapat menjadi langkah nyata dalam membangun kemandirian pangan daerah. (Adv/Zar)