• Kamis, 05 November 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Diskominfo Kutai Kartanegara



Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Kukar, Ananias, Selasa (3/11/2026). (Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya.com)
‎
‎‎
‎TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) terus mendorong penganekaragaman pangan lokal sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras.
‎
‎Melalui program Stop Boros Pangan, Kenyang Tidak Harus Nasi, Pemkab Kukar berupaya mengenalkan, sekaligus mengembangkan berbagai sumber pangan lokal yang berpotensi menjadi alternatif makanan pokok masyarakat.
‎
‎Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Kukar, Ananias mengatakan, diversifikasi pangan menjadi salah satu program utama pemerintah daerah dalam mewujudkan kemandirian pangan.
‎
‎Menurutnya, ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan beras.
‎
‎Kukar perlu mengoptimalkan potensi pangan lain yang dapat dibudidayakan dan dikembangkan sesuai kondisi wilayah.
‎
‎"Kalau kita ingin mandiri pangan, kita tidak boleh hanya bergantung pada beras. Kita harus melakukan penganekaragaman pangan, salah satunya dengan memberdayakan pangan lokal," ujar Ananias kepada KutaiRaya.com, Selasa (3/11/2026).
‎
‎Ia menjelaskan, pengembangan pangan lokal menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
‎
‎Sejumlah komoditas yang didorong pengembangannya adalah sorgum dan jelai, yang dinilai memiliki potensi untuk dibudidayakan di Kukar.
‎
‎Jelai merupakan pangan lokal yang telah dikenal masyarakat sejak dahulu, khususnya oleh sebagian masyarakat Dayak.
‎
‎Sementara sorghum merupakan tanaman yang berasal dari luar, tetapi dinilai cocok dikembangkan di wilayah Kukar karena kondisi tanah dan iklimnya mendukung.
‎
‎Pemkab Kukar melalui Dinas Ketapang telah memasukkan pengembangan sorghum dan jelai dalam Rencana Strategis (Renstra) 2025-2029.
‎
‎Program ini diarahkan agar pengembangan pangan lokal tidak berhenti pada tahap budidaya, tetapi berlanjut hingga menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah.
‎
‎"Di dua KPT itu nanti kami juga akan melakukan proses dari budidaya sampai panen, pengemasan, dan pemasaran untuk pangan lokal berupa sorgum dan jelai," ujarnya.
‎
‎Melalui pendekatan tersebut, pemerintah ingin membangun ekosistem pangan lokal yang lebih lengkap.
‎
‎Petani tidak hanya didorong untuk menanam, tetapi juga mendapatkan peluang dalam pengolahan dan pemasaran hasil panen.
‎
‎Pengembangan sorghum dan jelai diharapkan dapat memperluas pilihan pangan masyarakat, sekaligus mendorong pemanfaatan potensi pertanian daerah.
‎
‎ Jika dikelola secara berkelanjutan, komoditas tersebut berpeluang menjadi sumber pangan alternatif dan menambah nilai ekonomi bagi pelaku usaha lokal.
‎
‎Ia menegaskan, program diversifikasi pangan perlu didukung perubahan pola konsumsi masyarakat.
‎
‎Pengenalan pangan lokal menjadi penting agar masyarakat semakin terbiasa memanfaatkan sumber pangan selain beras.
‎
‎Pemkab Kukar berharap gerakan Stop Boros Pangan, Kenyang Tidak Harus Nasi dapat menjadi langkah nyata dalam membangun kemandirian pangan daerah. ‎ (Adv/Zar)



Pasang Iklan
Top