
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar, Awang Agus Dharmawan.(Dok. Andri/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat pengembangan pariwisata berbasis budaya dengan mendorong festival yang tumbuh di tingkat desa agar menjadi bagian dari agenda wisata daerah.
Upaya tersebut dilakukan untuk memberikan ruang lebih luas bagi masyarakat dalam memperkenalkan kekayaan tradisi dan potensi lokal. Salah satunya melalui Festival Batu Bumbun di Desa Muara Muntai Ilir, Kecamatan Muara Muntai, yang telah diselenggarakan secara konsisten selama tiga tahun.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispar Kukar, Awang Agus Dharmawan, mengatakan keberlanjutan festival menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan destinasi dan promosi wisata daerah. Karena itu, pihaknya berencana mengusulkan Festival Batu Bumbun masuk dalam kalender event budaya Kukar 2027.
Rencana tersebut telah dibicarakan bersama pemerintah desa dan panitia penyelenggara. Dispar berharap kegiatan yang berangkat dari inisiatif masyarakat ini dapat terus berkembang dan memiliki jangkauan promosi yang lebih luas.
“Ya, kami tadi sudah komunikasi dengan Pak Kades, dengan pihak panitia. Insya Allah, ini nanti kita masukkan ke dalam kalender event budaya di Kukar untuk tahun 2027,” ujarnya saat membuka Festival Batu Bumbun, Kamis (5/11/2026).
Agus menjelaskan, penguatan kalender event budaya merupakan salah satu strategi untuk memperkenalkan keragaman potensi wisata di berbagai kecamatan. Selain Festival Batu Bumbun, Dispar Kukar juga mendorong Festival Seri Munti dan Festival Seribu Tumpeng di Kecamatan Loa Kulu agar dapat masuk dalam agenda tahun 2027.
Menurutnya, keberadaan festival di tingkat desa memiliki nilai strategis karena tidak hanya menjaga keberlangsungan tradisi, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan karakter dan keunikan setiap wilayah kepada masyarakat luas.
Dampak positif penyelenggaraan festival juga terlihat dari keterlibatan pelaku ekonomi kreatif. Dalam Festival Batu Bumbun tahun ini, sebanyak 46 UMKM ikut berpartisipasi, terdiri atas 35 UMKM lokal dan 11 UMKM dari luar daerah.
Bahkan, antusiasme pelaku usaha cukup tinggi. Panitia mencatat lebih dari 70 UMKM berminat mengikuti kegiatan tersebut, tetapi jumlah peserta harus dibatasi karena menyesuaikan kapasitas lokasi penyelenggaraan.
Agus menilai, tingginya minat tersebut menjadi peluang untuk mengembangkan festival sebagai ruang promosi produk unggulan masyarakat. Kehadiran pengunjung diharapkan mampu meningkatkan transaksi sekaligus memperluas pasar bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif.
“Kita harapkan ekonomi kreatif itu berkembang, terus UMKM juga maju. Saya dengar laporan panitia tadi, kalau tidak dibatasi mungkin sudah penuh lapangan ini,” katanya.
Ia berharap, sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, panitia, dan masyarakat dapat terus diperkuat agar setiap festival memiliki kualitas penyelenggaraan yang semakin baik.
Melalui pengembangan kalender event budaya, Dispar Kukar optimistis potensi wisata berbasis kearifan lokal dapat semakin dikenal, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam pelestarian budaya dan peningkatan perekonomian daerah. (Adv/Dri)