
Potret cabai rawit di Pasar, Selasa (3/11/2026).(Foto: Abi/KutaiRaya.com)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com): Harga cabai di Kota Samarinda melonjak tajam sepanjang Oktober 2026 hingga menyentuh Rp100 ribu per kilogram. Kenaikan ini menjadi pemicu utama inflasi bulanan, setelah pasokan dari daerah pemasok di Sulawesi terganggu akibat kemarau panjang dan cuaca buruk, Selasa (3/11/2026).
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Samarinda mencatat cabai rawit hijau yang sebelumnya berada di kisaran Rp35 ribu per kilogram kini dijual antara Rp90 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram. Lonjakan serupa juga terjadi pada cabai merah keriting yang naik dari kisaran Rp30 ribu–Rp35 ribu menjadi Rp85 ribu–Rp100 ribu per kilogram.
Kepala BPS Kota Samarinda, Supriyanto, mengatakan kenaikan harga tidak hanya terjadi pada komoditas cabai, tetapi juga merambat ke sejumlah sayuran hortikultura lainnya.
Menurut Supriyanto, kacang panjang mengalami kenaikan dari Rp10 ribu menjadi Rp35 ribu per kilogram. Sementara itu, sawi yang sebelumnya dijual sekitar Rp10 ribu kini berada di kisaran Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram.
“Untuk kacang panjang dari Rp10 ribu per kilogram naik menjadi Rp35 ribu per kilogram. Sawi dari Rp10 ribu menjadi sekitar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram, serta wortel dari Rp10 ribu menjadi Rp18 ribu per kilogram,” ujar Supriyanto.
Ia menjelaskan, lonjakan harga dipicu terbatasnya pasokan dari wilayah pemasok utama, khususnya Sulawesi. Kemarau berkepanjangan membuat hasil panen menurun, sementara cuaca buruk semakin menghambat distribusi komoditas menuju Samarinda.
“Selain pasokan yang terbatas akibat terganggunya hasil panen, kenaikan biaya transportasi dan distribusi juga ikut memengaruhi harga komoditas di pasar. Kondisi ini membuat harga jual sejumlah sayuran menjadi lebih tinggi,” katanya.
Di tengah kenaikan harga sayuran, BPS mencatat kondisi berbeda pada komoditas perikanan. Harga ikan layang, ikan kembung, hingga udang basah justru mengalami penurunan sepanjang Oktober.
Supriyanto menyebut cuaca yang lebih mendukung aktivitas melaut membuat hasil tangkapan nelayan meningkat sehingga pasokan di pasar menjadi lebih melimpah.
“Penurunan harga ikan layang, ikan kembung, dan udang basah sejalan dengan meningkatnya ketersediaan pasokan di pasar, baik yang berasal dari hasil tangkapan nelayan lokal maupun pasokan dari luar Samarinda,” ungkapnya.
Pergerakan harga berbagai komoditas tersebut ikut membentuk inflasi Kota Samarinda pada Oktober 2026 yang tercatat sebesar 0,30 persen secara bulanan.
Cabai rawit menjadi komoditas dengan kontribusi inflasi terbesar dengan andil 0,09 persen. Sebaliknya, ikan layang menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil 0,07 persen, sehingga membantu menahan laju kenaikan harga secara keseluruhan. (Abi)