• Rabu, 04 November 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Watimpres RI, Yusuf Hamka (Babah Alun) saat datang ke Samarinda. Selasa (03/11/2026).(Foto:Abi/KutaiRaya)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com): Kunjungan Yusuf Hamka atau yang akrab disapa Babah Alun ke Samarinda, membawa sejumlah pesan bagi masyarakat Kalimantan Timur. Selain menghadiri penghormatan terakhir kepada sahabatnya, Agus Sulistyo, ia mengajak masyarakat Smaarinda dan Kalimantan Timur untuk menjaga semangat kebersamaan dan mendorong generasi muda agar menghasilkan karya nyata. Selasa (03/11/2026).

Yusuf Hamka atau yang akrab disapa Babah Alun, kembali berkunjung ke Kota masa kecilnya, Samarinda didampingi oleh H. Amin.

"Saya harus hadir untuk melepas beliau nanti malam," ujarnya.

Di sela kunjungannya, Babah Alun turut menyoroti kondisi Samarinda yang saat itu terlihat lebih cerah, setelah sebelumnya diselimuti asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Ia menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari kerja bersama antara pemerintah dan masyarakat dalam upaya memadamkan kebakaran.

Menurutnya, penanganan karhutla tidak seharusnya hanya dibebankan kepada pemerintah. Partisipasi masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menghadapi persoalan lingkungan.

"Jangan nyinyir, jangan caci maki, tetapi mari kita bekerja bersama-sama. Karena semua ini tanggung jawab kita, bukan hanya tanggung jawab pemerintah," tegasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak sekadar mengkritik ketika pemerintah menghadapi keterbatasan. Sebaliknya, warga perlu mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing.

"Kalau pemerintah tidak bisa, kita bisa ikut mengisi dan mengambil peran. Nah, itulah warga negara yang baik," katanya.

Pesan lain disampaikan Babah Alun kepada generasi muda Kalimantan Timur. Ia mengingatkan anak muda agar tidak berhenti pada keberanian menyampaikan pendapat, tetapi juga membuktikannya melalui karya dan tindakan.

"Jangan hanya yang muda yang bersuara. Anak muda harus berkarya nyata," pesannya.

Menurutnya, keyakinan harus berjalan beriringan dengan usaha, kejujuran, serta amanah. Ia percaya setiap orang memiliki kesempatan untuk mencapai keberhasilan selama bersungguh-sungguh.

"Harus yakin, haqqul yakin. Kita semua bisa, asalkan berusaha dengan jujur dan amanah," lanjutnya.

Di balik perjalanan hidupnya hingga dipercaya mengemban sejumlah tanggung jawab nasional, Babah Alun mengaku tidak pernah melupakan akar kehidupannya di kawasan Hulu Mahakam.

Ia menyebut Long Iram, Melak, Damai, dan Tering sebagai daerah yang memiliki kedekatan dengan perjalanan hidupnya.

Babah Alun juga mengaitkan keberhasilannya dengan kebiasaan mengonsumsi ikan lokal dan meminum air Sungai Mahakam sejak dahulu.

"Saya ini anak Hulu Mahakam. Long Iram, Melak, Damai, Tering, itu tempat saya. Saya bisa menjadi seperti sekarang ini, menjadi Amirul Hajj dan Wantimpres, karena banyak makan ikan yang berasal dari sana," tuturnya.

Ia menambahkan, kedekatannya dengan Sungai Mahakam menjadi bagian dari identitas yang tidak terpisahkan dari dirinya.

Babah Alun juga menyampaikan pesan dengan gaya humor ketika berbicara mengenai ikan khas perairan Mahakam. Ia mengatakan, ikan lancang, lais, dan jelawat sebagai kekayaan lokal yang patut dikenal masyarakat.

Dengan nada bercanda, ia menggambarkan kelincahan ikan lancang yang sulit ditangkap.

"Ikan lancang itu lincah sekali. Begitu kita mau mengambilnya, dia sudah menyambar," ujarnya sambil tertawa.

Ia kemudian menyampaikan pesan sederhana yang mengundang senyum.

"Pokoknya, kalau mau pintar, jangan lupa makan ikan lancang, ikan lais sama jelawat."

Bagi Babah Alun, kedekatan dengan daerah asal bukan sekadar mengenang masa lalu. Kekayaan alam, budaya, dan pangan lokal merupakan bagian dari identitas yang perlu dijaga dan dibanggakan. (Abi)

Pasang Iklan
Top