
Kepala Kemenag Kota Balikpapan, Masrivani.(Foto: Sulastri/KutaiRaya.com)
BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Kementerian Agama (Kemenag) Kota Balikpapan memperkuat pembinaan dan pengawasan pondok pesantren sebagai langkah preventif untuk mencegah kekerasan, pelecehan seksual, dan perundungan di lingkungan pendidikan keagamaan.
Kepala Kemenag Kota Balikpapan, Masrivani, mengatakan penguatan pengawasan diperlukan untuk memastikan pondok pesantren tetap menjadi lembaga pendidikan yang aman, sekaligus mampu menjaga kepercayaan masyarakat.
Menurutnya, berbagai kasus kekerasan dan perundungan dapat terjadi di beragam satuan pendidikan, sehingga upaya pencegahan tidak boleh hanya berfokus pada pondok pesantren.
“Kita tidak menutup mata bahwa kejadian seperti itu bisa terjadi. Karena itu, sebagai langkah preventif, pemerintah memperkuat pembinaan dan meningkatkan mutu pengawasan terhadap pondok-pondok pesantren,” ujarnya Jumat (23/10/2026).
Masrivani menegaskan, pondok pesantren tetap menjadi bagian penting dari sistem pendidikan nasional yang perlu terus diperkuat. Upaya pencegahan kekerasan, kata dia, harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pendidikan dan pembentukan karakter santri.
Ia juga menyambut penguatan kelembagaan pesantren melalui pembentukan direktorat jenderal tersendiri di lingkungan Kementerian Agama.
Menurutnya, langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan perhatian pemerintah terhadap pengembangan, pembinaan, dan daya saing pondok pesantren. “Ini tentu menambah kekuatan bagi pondok-pondok pesantren untuk lebih berdaya saing dan meningkatkan mutu,” katanya.
Bertepatan Hari Santri 2026 yang pada hari Kamis, 22 Oktober 2026 dengan mengusung tema Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia 2045, menjadi momentum untuk menegaskan peran pesantren dalam membentuk generasi yang tangguh dan berkarakter.
Masrivani menilai pendidikan pesantren memiliki ciri khas tersendiri karena tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kehidupan sehari-hari yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan.
Ia berharap pendidikan pesantren mampu membekali santri agar siap menghadapi berbagai tantangan zaman, termasuk menangkal pengaruh radikalisme dan terorisme.
Di Kota Balikpapan, peringatan Hari Santri 2026 juga diisi dengan kegiatan perkemahan santri yang berlangsung pada 16–18 Oktober 2026. Kegiatan tersebut menjadi salah satu agenda yang telah lama diharapkan dapat diwujudkan di Kota Minyak.
Masrivani mengatakan, perkemahan santri menjadi bagian dari upaya memperkuat kebersamaan, kemandirian, dan karakter para santri. Rangkaian kegiatan kemudian mencapai puncaknya melalui upacara peringatan Hari Santri.
Penguatan pengawasan, pembinaan, serta perhatian terhadap kondisi belajar santri diharapkan dapat menjaga keberlangsungan pendidikan pesantren, sekaligus memastikan lingkungan pendidikan yang aman dan mendukung perkembangan peserta didik. (Las)