• Sabtu, 17 Oktober 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara



Kabid Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar Zikri Umulda.(Dok. Andri/KutaiRaya.com)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai menggeser fokus pengembangan ekonomi kreatif (ekraf) dari penguatan kapasitas pelaku usaha menuju perluasan pemasaran produk.

Langkah ini dilakukan agar berbagai pelatihan yang selama ini diberikan dapat berlanjut pada peluang penjualan dan pengembangan usaha yang berkelanjutan.

Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda, mengatakan pengembangan ekonomi kreatif selama ini telah diarahkan untuk membangun fondasi di tingkat akar rumput. Namun, upaya tersebut perlu dilanjutkan dengan strategi yang lebih konkret, terutama dalam membantu produk lokal menjangkau pasar.

“Selama ini, ekonomi kreatif terlalu fokus membangun fondasi di tingkat akar rumput. Sekarang, saya ingin mendorong bagaimana produk-produk ekonomi kreatif bisa dipasarkan,” ujarnya, Jumat (16/10/2026).

Menurut Zikri, sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) telah menjalankan berbagai program pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pelaku ekonomi kreatif. Materi yang diberikan antara lain pengelolaan keuangan dan desain produk sebagai bekal dalam mengembangkan usaha.

Meski demikian, ia menilai peningkatan keterampilan perlu diimbangi dengan langkah yang dapat membuka peluang usaha secara nyata. Pelatihan tetap penting, tetapi harus disertai strategi pemasaran agar produk yang dihasilkan tidak hanya berhenti pada tahap produksi.

“Kalau terus berulang, kegiatan itu bisa menjadi seperti templat. Menurut saya, yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mencari cara agar produk tersebut benar-benar bisa dijual,” jelasnya.

Zikri menegaskan, tantangan pengembangan ekonomi kreatif tidak hanya terletak pada kemampuan menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga pada upaya mempertemukan produk tersebut dengan konsumen. Tanpa akses pasar yang memadai, potensi produk lokal untuk berkembang dinilai belum dapat dimanfaatkan secara optimal.

Selain pemasaran, pembangunan jaringan bisnis juga menjadi perhatian. Menurutnya, jaringan yang luas dapat membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk, menjalin kemitraan, serta menemukan calon pembeli dari berbagai segmen pasar.

Ia mengakui, membangun jaringan membutuhkan proses, upaya, dan biaya yang tidak sedikit. Karena itu, strategi pengembangan ekonomi kreatif perlu mencakup dukungan pemasaran dan perluasan kemitraan, bukan hanya peningkatan keterampilan teknis.

“Pemasaran dan pembangunan jaringan menjadi hal yang penting. Membangun jaringan jauh lebih sulit daripada sekadar mendesain sesuatu. Jaringan itu mahal,” tegasnya.

Melalui perubahan fokus tersebut, Dispar Kukar berharap pembinaan ekonomi kreatif dapat semakin berorientasi pada hasil.

"Dan pelaku usaha diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga mendapatkan peluang lebih besar untuk menjual produk, memperluas pasar, dan meningkatkan keberlanjutan usahanya," pungkasnya. (Adv/Dri)



Pasang Iklan
Top