
Potret Siswa SDN 015 Samarinda Ulu saat berkreasi dari bahan kertas bekas. Jumat (25/09/2026).(Foto: Abi/KutaiRaya.com)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com): PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan melalui Fuel Terminal Samarinda melaksanakan kegiatan edukasi bersama anak-anak Kota Samarinda, yakni mengolah sampah kertas menjadi bahan karya dan kertas daur ulang.
Kertas bekas yang biasanya berakhir di tempat sampah mendapat fungsi baru di tangan anak-anak Samarinda.
Mereka diajak mengolah limbah tersebut menjadi kertas daur ulang hingga produk kreatif yang bisa digunakan kembali.
Kegiatan ini berlangsung melalui program Pendikresa (Pengembangan Pendidikan dan Kreativitas Anak).
Goes to School – Edukasi Recycle Paper yang digagas PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan melalui Fuel Terminal Samarinda.
Program ini berlangsung bertahap mulai 10 September hingga 25 Oktober 2026.
Kegiatan menyasar murid, guru, orangtua, dan komunitas di sejumlah wilayah Kota Samarinda.
Pendikresa Goes to School menjadi bagian dari program Pendikresa.
Pertamina membawa edukasi pengelolaan lingkungan langsung ke sekolah dan komunitas dengan metode belajar sambil praktik.
Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan PT Pertamina Patra Niaga, Edi Mangun mengatakan, edukasi lingkungan perlu dikenalkan sejak anak-anak agar dapat tumbuh menjadi kebiasaan.
“Ya perlu diberikan sejak dini karena anak-anak ini belajar bukan hanya dari apa yang mereka dengar, tetapi juga dari apa yang mereka lakukan,” ucap Edi, Jumat (25/9/2026).
Menurut Edi, kegiatan ini sekaligus mengenalkan kepada anak bahwa kertas bekas masih memiliki manfaat jika mendapatkan pengolahan yang tepat.
“Melalui Pendikresa Goes to School, kami ingin memperkenalkan bahwa kertas bekas tidak selalu berakhir sebagai sampah. Bisa jadi karya, kreativitas dan lain lain," tuturnya.
Pada kegiatan tersebut, peserta tidak hanya menerima penjelasan mengenai sampah.
Mereka juga mengikuti proses pengolahan limbah kertas secara langsung.
Peserta mulai belajar memilah kertas, mengolah bahan, mencetak kertas daur ulang, hingga membuat paper clay atau tanah liat berbahan dasar kertas bekas.
Konsep ini merupakan pengembangan inovasi The Recycle Room.
Pertamina membawa pembelajaran pengelolaan sampah langsung ke lingkungan sekolah dan komunitas.
Sejumlah sekolah dan komunitas ikut terlibat, di antaranya TK Ruhui Rahayu, KB-TK Nasional 3 Bahasa, Samarinda Playdate, SD Zaid bin Tsabit Sungai Kapih, TK Tunas Bengkuring, TK Islam Anak Sholeh, SDN 004 Sambutan, SDN 015 Samarinda Ulu serta komunitas Ibu Profesional (IP) Samkabar.
Edi menilai praktik langsung dapat membuat anak lebih mudah memahami pesan yang ingin disampaikan dalam edukasi lingkungan.
“Dengan kreativitas dan proses yang tepat, limbah tersebut dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat. Juga membantu anak-anak mengembangkan kreativitas ya. Tentu kita bicara juga tentang 10 atau bahkan 15 tahun ke depan, dari sekarang pola kreativitas ini harus dibangun sejak dini,” ujarnya.
Pendekatan tersebut juga diharapkan membuat anak memiliki pengalaman yang dapat mereka bawa ke lingkungan keluarga.
Selain belajar membuat produk, peserta mendapat kesempatan membawa pulang hasil karya mereka.
Hasil tersebut dapat menjadi pengingat agar praktik pemilahan dan penggunaan kembali barang terus dilakukan, setelah kegiatan berakhir.
Edi berharap pengalaman tersebut dapat mengubah cara anak memandang sampah.
Anak tidak hanya melihat limbah sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga sebagai bahan yang masih bisa dimanfaatkan.
“Harapannya, pengalaman membuat karya dari kertas bekas dapat menjadi pengalaman sederhana yang membekas bagi anak-anak,” ucapnya.
Menurutnya, kebiasaan menjaga lingkungan dapat dimulai dari hal sederhana.
Anak dapat belajar memilah dan menggunakan kembali barang yang masih memiliki manfaat.
“Dari sana, mereka dapat mulai melihat sampah dengan cara yang berbeda, memilah, menggunakan kembali, dan memahami bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari kebiasaan kecil di rumah maupun di sekolah,” katanya.
Program Pendikresa Goes to School juga membawa pesan tentang potensi ekonomi dari produk daur ulang.
Relawan yang terlibat dapat mengembangkan hasil olahan kertas menjadi produk kreatif.
Produk tersebut dapat diperkenalkan dan dipasarkan kepada peserta maupun orangtua.
Salah seorang murid kelas 4 SDN 015, Arif Maulana mengatakan, jika kegiatan ini memberikan mereka waktu bermain yang lebih kreatif.
Dia juga cukup banyak membuat kreasi dari kertas-kertas bekas yang disulap menjadi berbagai hasil karya seni.
“Saya suka, karena sambil bermain. Apalagi sama teman-teman kelas lainnya,” ucapnya singkat sambil mencoba membangun kreativitas dari kertas-kertas bekas.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bagian dari tumbuh kembang anak dalam proses membangun peran aktif dan kreativitas anak, sebagai manifestasi Sumber Daya Manusia di masa depan, khususnya Kota Samarinda. (Abi)