• Jum'at, 04 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso. Kamis (03/09/2026).(Foto:Abi/KutaiRaya)

SAMARINDA, KutaiRaya.com: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda tidak menerapkan pola tunggal dalam menangani kebakaran.

Kondisi medan, ketersediaan sumber air, hingga karakteristik lahan menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi pemadaman di setiap lokasi.

Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso mengatakan, perubahan kondisi di lapangan membuat pola penanganan harus terus disesuaikan.

Menurutnya, strategi yang efektif di satu titik belum tentu dapat diterapkan pada lokasi lainnya.

"Penanganan kebakaran itu tidak bisa menggunakan satu pola yang sama. Kondisi di setiap lokasi berbeda, sehingga strategi pemadamannya harus menyesuaikan dengan situasi di lapangan," ujar Suwarso, Kamis (3/9/2026).

Salah satu faktor yang menjadi perhatian BPBD adalah ketersediaan sumber air.

Seiring kembali normalnya sejumlah intake air, armada yang sebelumnya digunakan untuk membantu distribusi air bersih kini dapat kembali dimanfaatkan untuk mendukung operasi pemadaman.

"Kami juga melihat ketersediaan sumber air dan armada yang ada," katanya.

Kondisi ini memberikan ruang bagi BPBD untuk mengatur kembali penggunaan armada.

Kendaraan yang sebelumnya memiliki fungsi pendukung distribusi air bersih dapat dialihkan untuk memperkuat respons terhadap kebakaran di sejumlah titik.

"Dengan kondisi sumber air yang mulai normal, armada yang tersedia bisa kami atur kembali untuk memperkuat penanganan di titik-titik kebakaran yang membutuhkan," ujar Suwarso.

Selain persoalan armada, karakteristik lahan juga menentukan metode pemadaman.

BPBD memberikan perhatian khusus terhadap kebakaran yang terjadi di kawasan gambut karena api tidak selalu terlihat di permukaan.

"Untuk kebakaran di kawasan gambut, penanganannya berbeda karena api bisa berada di dalam lapisan tanah. Jadi, peralatan yang digunakan juga harus disesuaikan dengan karakteristik lahannya," ucapnya.

Dalam kondisi tersebut, petugas menggunakan peralatan yang dianggap lebih sesuai dengan karakteristik lahan.

Salah satunya, nozzle khusus yang digunakan untuk membantu proses pemadaman pada kawasan gambut.

"Tidak semua lokasi bisa ditangani dengan peralatan dan metode yang sama," kata Suwarso.

BPBD Samarinda juga melakukan evaluasi secara berkala selama proses penanganan berlangsung.

"Perubahan kondisi medan, ketersediaan air, maupun karakteristik titik api menjadi pertimbangan kami untuk menentukan strategi pemadaman berikutnya," ucapnya. (abi)



Pasang Iklan
Top