• Jum'at, 04 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Bunda Literasi Kota Balikpapan, Hj Nurlena Rahmad Mas’ud membuka Galeri Arsip Daerah yang berada di Dispustakar Kota Balikpapan, Kamis (3/9/2026).(Foto: Sulastri/KutaiRaya.com)


BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Masyarakat Kota Balikpapan kini memiliki ruang untuk mengenal lebih dekat perjalanan sejarah daerah melalui Galeri Arsip Daerah yang berada di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispustakar) Kota Balikpapan.

Galeri tersebut resmi dibuka untuk umum, Kamis (3/9/2026). Peresmian ditandai dengan pengguntingan pita oleh Bunda Literasi Kota Balikpapan, Hj Nurlena Rahmad Mas’ud.

Galeri Arsip Daerah menghadirkan berbagai koleksi arsip yang menggambarkan perjalanan dan dinamika Kota Balikpapan. Kehadiran ruang tersebut diharapkan dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, terutama generasi muda, agar tidak kehilangan pengetahuan mengenai sejarah daerahnya.

Nurlena mengatakan, sejarah merupakan bagian penting dalam membangun pengetahuan masyarakat mengenai perkembangan sebuah daerah. Karena itu, arsip perlu terus dirawat, diperbarui, dan dikenalkan kepada masyarakat.

“Sejarah itu harus kita pahami. Kita tidak bisa hidup kalau tidak ada sejarah,” kata Nurlena saat peresmian Galeri Arsip Daerah Balikpapan, di Kantor Dispustakar Balikpapan, Kamis (3/9/2026).

Menurut dia, masih banyak pengetahuan mengenai Balikpapan yang belum diketahui masyarakat. Galeri arsip dinilai dapat menjadi pintu masuk untuk mendorong masyarakat memperluas wawasan sekaligus meningkatkan budaya literasi.

Ia mendorong anak-anak, komunitas literasi, serta komunitas kearsipan untuk memanfaatkan galeri tersebut sebagai ruang belajar bersama.
“Bagaimana kita bersama-sama berkolaborasi untuk menjelajahi tempat ini. Agar ilmu kita, wawasan kita bertambah,” ujarnya.

Nurlena menilai perjalanan Balikpapan memiliki dinamika dan sejarah panjang yang penting untuk diketahui generasi penerus. Pengetahuan tersebut, kata dia, perlu ditularkan kepada anak dan cucu agar mereka mengetahui kontribusi masyarakat terdahulu dalam membangun Balikpapan.

“Balikpapan ini ada orang-orang yang mengabdi, orang-orang yang sudah berbuat untuk Balikpapan sehingga Balikpapan berdiri seperti ini,” katanya.

Nurlena juga menyoroti masih banyaknya arsip mengenai sejarah Balikpapan yang berada di luar daerah, termasuk di Belanda. Ia pun mendorong adanya kerja sama dengan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) untuk menelusuri dan mendokumentasikan arsip-arsip tersebut, sehingga dapat menjadi bagian dari pengetahuan masyarakat Balikpapan.

Ia mencontohkan sejarah Balikpapan yang berkaitan dengan Sumur Mathilda. Menurutnya, semakin banyak arsip yang ditelusuri, semakin banyak pula informasi sejarah yang dapat diketahui masyarakat.

“Kita aja baru tahu, ternyata Balikpapan ini berdirinya itu ternyata dengan adanya Sumur Mathilda, 10 Februari 1879. Ditetapkan di tanggal 1 Desember 1947 melalui konferensi sejarah,” ujarnya.

Menurut Nurlena, fakta-fakta sejarah tersebut menunjukkan pentingnya masyarakat membuka wawasan dan memperdalam literasi mengenai daerahnya sendiri.

Sementara itu, Kepala Dispustakar Kota Balikpapan Neny Dwi Winahyu mengatakan, pengumpulan dan pelestarian arsip merupakan bagian dari tugas pihaknya.

Ia menjelaskan, koleksi yang saat ini dipamerkan di Galeri Arsip Daerah merupakan arsip sekunder. Adapun arsip primer atau dokumen aslinya berada di ANRI.

“Memang tugas kami di Dinas Perpustakaan dan Arsip untuk mengumpulkan arsip-arsip itu. Arsip yang dipamerkan di ruangan ini merupakan arsip sekunder, karena arsip primernya atau aslinya itu ada di Arsip Nasional Republik Indonesia,” jelas Neny.

Dispustakar juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperkaya koleksi. Selain ANRI, pihaknya akan menggandeng sejarawan, komunitas, maupun pengelola pusat sejarah lokal seperti Rumah Dahor.

Langkah tersebut dilakukan agar informasi yang disajikan tidak hanya berasal dari lingkungan pemerintah, tetapi juga melibatkan koleksi dan pengetahuan dari masyarakat.

Neny mengatakan, Galeri Arsip Daerah kini terbuka untuk masyarakat umum selama jam pelayanan Dispustakar. Masyarakat, sekolah, maupun komunitas yang ingin berkunjung dipersilakan memanfaatkan galeri tersebut sebagai ruang pembelajaran sejarah dan kearsipan.

“Silakan apabila ada sekolah atau komunitas, warga yang akan berkunjung di sini kami persilakan. Ini terbuka untuk umum,” katanya.

Ke depan, Dispustakar berencana memperbarui koleksi secara berkala. Penambahan arsip diharapkan dapat dilakukan setiap satu hingga dua bulan sehingga masyarakat memiliki alasan untuk kembali berkunjung dan menemukan informasi baru.

Neny menyebut pembukaan galeri ini merupakan langkah awal. Pihaknya masih akan membangun komunikasi lebih luas dengan pemilik maupun pengelola arsip yang memiliki dokumen bersejarah tentang Balikpapan.

“Ini sebagai ibaratnya awalnya sebelum dengan teman-teman. Untuk itu kami memamerkan yang kami punya dulu yang kami peroleh dari Arsip Nasional Republik Indonesia,” katanya. (Las)



Pasang Iklan
Top