• Jum'at, 04 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Persiapan para penari massal di Stadion Rondong Demang, Kamis (3/9/2026).(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya.com)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Sebanyak 350 penari terus memantapkan persiapan untuk tampil dalam Erau Adat Kutai 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 20 September 2026 mendatang.

Memasuki hari ke 16 latihan, para penari bersama tim produksi terus melakukan pemantapan koreografi dan konsep pertunjukan.

Persiapan ini juga melibatkan sejumlah unsur etnis di Kutai Kartanegara (Kukar).

Pimpinan Produksi, Misra Budiarto mengatakan, progres latihan sejauh ini berjalan cukup baik.

Bahkan, pada 5 September 2026 mendatang, seluruh penari dari berbagai etnis ditargetkan sudah berkumpul lengkap di lokasi latihan.

"Alhamdulillah, kita hari ini sudah hari ke 16 di lapangan ini. Kalau progres, insya Allah sudah cukup menggembirakan. Tanggal 5 nanti juga sudah masuk etnis di sini, ada Pahau, Kenyah, Benuaq," ujar Misra kepada KutaiRaya.com, Kamis (3/9/2026).

Ia menjelaskan, pertunjukan tahun ini mengangkat tajuk Penjaga Tahta di Tepian Mahakam.

Konsep ini membawa pesan bahwa menjaga alam dan warisan budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun Kesultanan Kutai, tetapi seluruh masyarakat.

"Bertanggung jawab memelihara itu bukan saja kepada pemerintah, bukan kepada kepala daerah, bukan kepada Sultan, tapi seluruh lapisan masyarakat akan terlibat untuk memelihara alam kita ini," katanya.

Dalam pertunjukan tersebut, ada 350 penari yang didukung sekitar 50 orang tim produksi.

Sehingga sekitar 400 orang terlibat dalam kegiatan latihan setiap harinya.

Ia menyebutkan jumlah tersebut memang belum mencapai komposisi ideal yang diharapkan.

Menurutnya, jika memungkinkan, pihaknya ingin melibatkan hingga 500 penari agar lebih banyak unsur etnis dapat ditampilkan.

"Kalau 500 orang itu akan tumpah kita kuasai lapangan ini, sehingga etnis-etnis tertentu juga akan kita tambah. Tapi kita membatasi hal itu, tidak mengurangi produksi kegiatan dengan 350 orang," tuturnya.

Di tengah latihan, kondisi cuaca juga menjadi tantangan tersendiri.

Kemarau panjang membuat lapangan latihan kering dan berdebu.

Ditambah kabut asap, kondisi ini cukup mengganggu kenyamanan para penari.

Namun, persoalan tersebut sejauh ini masih dapat diatasi.

BPBD Kukar turut memberikan bantuan 3.200 masker untuk digunakan selama latihan.

"Karena kemarau ini lalu ada kabut asap, lapangan ini kering. Debunya luar biasa. Alhamdulillah kami juga sudah dapat bantuan masker 3.200 dari BPBD," tambahnya.

Ia mengingatkan para penari agar memperhatikan penggunaan masker dan tidak menggunakan masker yang sama secara berulang.

Untuk pelaksanaan Erau tahun ini, Komunitas Seni Budaya Seraong Kalimantan Timur dipercaya untuk menangani produksi.

Ini merupakan kali pertama komunitas tersebut dipercaya menggarap Erau, meskipun dirinya memiliki pengalaman panjang dalam penyelenggaraan kegiatan budaya Kutai.

Ia mengaku sebelumnya pernah terlibat dalam pengemasan Erau saat menjadi Ketua Lembaga Pembinaan Kebudayaan Kutai (LPKK).

Ia juga pernah terlibat dalam kegiatan budaya di Samarinda hingga Jakarta.

Tahun ini, ia ingin pertunjukan Erau tidak hanya sukses secara teknis, tetapi juga mampu memberikan kesan kuat kepada masyarakat.

"Target kita harus sukses, harus memukau. Dan kita mau kembali Erau yang sebenarnya," tuturnya.

Ia selalu mengambil teman-teman dari Jakarta, dari Jawa, untuk koreografer maupun komposer.

"Tapi untuk kali ini saya akan menggunakan putra daerah. Kebetulan putra daerah ini ada yang S1, ada yang S2. Maka kita coba putra daerah untuk mengemas kegiatan ini," katanya.

Sementara itu, salah satu masyarakat yang ikut menyaksikan latihan, Tifanny mengaku antusias melihat persiapan para penari yang akan tampil dalam Erau Adat Kutai 2026.

"Senang melihat persiapannya sudah sejauh ini. Semoga nanti saat tampil bisa berjalan lancar dan pertunjukannya bagus, sehingga masyarakat juga semakin tertarik untuk datang menyaksikan Erau," ujarnya.

Ia berharap bukan hanya pemerintah atau pelaku seni, tapi masyarakat dan anak muda juga ikut menjaga budaya Kutai.

"Karena ini bagian dari identitas daerah kita," ucapnya. (*Zar)



Pasang Iklan
Top