
Wali Kota Samarinda Andi Harun, Rabu (2/9/2026).(Foto: Yudi/KutaiRaya.com)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menetapkan status darurat kekeringan dan kemarau selama 14 hari ke depan. Kebijakan tersebut diambil menyusul kondisi kemarau yang turut berdampak terhadap sumber air baku, termasuk meningkatnya kadar klorida akibat intrusi air asin di Sungai Mahakam.
Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan, pemerintah terus meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi Sungai Mahakam, terutama saat air pasang. Sejumlah intake air baku di kawasan Palaran dan sekitarnya sempat terdampak peningkatan kadar klorida.
“Saya menetapkan situasi darurat kekeringan dan kemarau untuk 14 hari ke depan,” katanya, Rabu (2/9/2026).
Menurutnya, wilayah yang menjadi perhatian di antaranya Palaran, Bentuas, Bekuan dan Pulau Atas. Dalam beberapa hari terakhir, terdapat satu hingga dua intake yang sempat mencatat kadar klorida mencapai ambang batas maksimal 250 parts per million (PPM).
Kondisi tersebut membuat pemerintah bersama Perumdam Tirta Kencana Samarinda harus meningkatkan pengawasan terhadap kualitas air baku. Sebab, ketika kandungan klorida mencapai batas maksimal, operasional intake harus dihentikan sementara agar menjaga kualitas air yang didistribusikan kepada masyarakat.
“Kalau air sudah terintrusi air asin atau air laut kemudian kloridanya mencapai 250 PPM, produksi dari intake tersebut kami hentikan. Ini dilakukan untuk menjaga kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Dirinya menjelaskan, pemantauan kadar klorida dilakukan secara intensif setiap jam. Langkah itu diperlukan agar operasional intake dapat segera kembali dijalankan apabila kadar klorida turun hingga berada di bawah ambang batas.
“Setiap jam kami periksa lagi kadar kloridanya. Begitu turun di bawah 250 PPM, mesin langsung bisa dihidupkan kembali untuk memproduksi air,” jelasnya.
Dalam dua pekan terakhir, kondisi kadar klorida di Sungai Mahakam cukup dinamis. Ada intake yang terpaksa dihentikan pada pagi hari karena kadar klorida meningkat, namun kemudian dapat kembali beroperasi pada sore hari setelah kualitas air membaik.
Perubahan tersebut salah satunya dipengaruhi curah hujan di kawasan hulu Sungai Mahakam. Hujan yang sempat turun di wilayah Kutai Kartanegara, khususnya sekitar Kota Bangun, memberikan pengaruh terhadap kondisi aliran sungai hingga ke Samarinda.
“Beberapa hari lalu di daerah hulu Kukar, sekitar Kota Bangun, sempat turun hujan. Ketika aliran air dari sana mengarah ke sini, kondisi kadar klorida ikut membaik sehingga mesin yang sebelumnya kami matikan akhirnya bisa diaktifkan kembali,” terangnya.
Pemkot Samarinda berharap, hujan segera turun secara merata dalam beberapa hari ke depan. Curah hujan dinilai penting agar membantu meningkatkan debit air sekaligus menekan dampak intrusi air asin yang berpotensi mengganggu sumber air baku.
“Mudah-mudahan dalam satu atau dua hari ini hujan turun. Semoga hujan yang datang menjadi hujan yang penuh berkah,” pungkasnya. (*Yud)