• Sabtu, 29 Agustus 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kadinkes Kaltim, Jaya Mualimin. Jumat (28/08/2026). (Foto:AbiKutaiRaya)

SAMARINDA, KutaiRaya.com: Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah musim kemarau tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.

Di Samarinda, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tercatat mengalami peningkatan dan masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan asap maupun debu.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat rata-rata kasus ISPA akut pada periode 1 hingga 22 Agustus 2026 mencapai 206,2 kasus per hari.

Angka ini meningkat sekitar 22,8 persen dibandingkan rata-rata kasus pada Juli 2026 yang berada di angka 167,9 kasus per hari.

Sebelumnya, pada Juni 2026, rata-rata kasus ISPA tercatat sekitar 162,5 kasus per hari.

Kenaikan ini menunjukkan adanya tren peningkatan keluhan gangguan saluran pernapasan dalam beberapa bulan terakhir.

Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismed Kusasih mengatakan, secara umum kondisi kesehatan masyarakat masih terkendali.

Namun, ISPA menjadi salah satu penyakit yang perlu mendapat perhatian karena menunjukkan peningkatan.

Menurutnya, kondisi ini perlu diwaspadai masyarakat, terlebih Samarinda saat ini menghadapi cuaca yang relatif panas dan kering.

Paparan debu, asap serta kondisi udara yang kurang baik dapat memperburuk gangguan pada saluran pernapasan."Ini juga harus diwaspadai,"kata Ismed.

Selain ISPA, sejumlah keluhan lain yang berkaitan dengan saluran pernapasan juga tercatat cukup tinggi.

Pada periode 1–22 Agustus 2026, ada 3.965 kasus pilek atau flu biasa serta 2.731 kasus radang tenggorokan.

Peningkatan kasus ISPA juga menjadi perhatian di tingkat Provinsi Kalimantan Timur.

Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Kementerian Kesehatan, kasus ISPA di 10 kabupaten/kota di Kaltim mencapai sekitar 266 ribu kasus sepanjang Januari hingga 22 Agustus 2026.

Kota Samarinda menjadi salah satu daerah dengan jumlah kasus tinggi, yakni sekitar 48.230 kasus.

Sedangkan Balikpapan tercatat sebagai daerah dengan jumlah kasus tertinggi, mencapai sekitar 66.468 kasus.

Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin mengemukakan, kondisi kemarau, minimnya hujan, debu dan karhutla menjadi faktor yang perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi kualitas udara.
.
Menurut Jaya, asap akibat kebakaran juga berpotensi menyebar ke wilayah lain karena terbawa angin.

Kondisi ini membuat masyarakat di daerah yang tidak mengalami kebakaran secara langsung tetap perlu mewaspadai dampak asap.

Dia menambahkan kelompok anak menjadi salah satu kelompok yang cukup banyak terdampak peningkatan ISPA.

Secara umum, peningkatan kasus di Kaltim berada pada kisaran 10 hingga 20 persen.

Menghadapi potensi memburuknya kualitas udara akibat karhutla, masyarakat Samarinda diminta melakukan langkah pencegahan sejak dini.

Penggunaan masker menjadi salah satu upaya sederhana yang dapat dilakukan ketika harus beraktivitas di luar rumah, khususnya ketika udara mulai dipenuhi asap atau debu.

Masyarakat juga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan, apabila kualitas udara memburuk.

Warga yang tidak memiliki keperluan mendesak, sebaiknya tetap berada di dalam rumah dan menghindari paparan udara yang tercemar.

Bagi pengendara sepeda motor maupun pekerja yang banyak beraktivitas di ruang terbuka, perlindungan terhadap saluran pernapasan perlu menjadi perhatian lebih.

Durasi berada di luar ruangan dapat dikurangi ketika kondisi udara mulai berasap.

Di dalam rumah, warga juga perlu memperhatikan kondisi udara.

Jika asap dari luar mulai masuk, maka pintu dan jendela dapat ditutup sementara.

Namun, sirkulasi udara tetap perlu diperhatikan agar kualitas udara di dalam rumah tidak ikut memburuk.

Selain menghindari paparan asap, masyarakat dianjurkan menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, mencukupi kebutuhan air putih, beristirahat cukup serta menjaga kebersihan tangan.

Kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia dan ibu hamil, perlu mendapatkan perhatian lebih.

Aktivitas anak di luar rumah sebaiknya dibatasi, ketika udara dipenuhi asap dan debu.

Dinkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan.

Batuk, pilek, sakit tenggorokan dan demam perlu dipantau, terutama apabila berlangsung terus-menerus atau semakin berat.

Masyarakat diminta segera mendatangi puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat, apabila mengalami sesak napas, napas cepat, nyeri dada, demam tinggi atau kondisi kesehatan yang semakin menurun.

Untuk menghadapi kemungkinan peningkatan gangguan kesehatan akibat kemarau dan karhutla, Dinkes Kaltim telah meningkatkan kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan.

Kesiapsiagaan tersebut mencakup puskesmas, rumah sakit, klinik hingga laboratorium kesehatan masyarakat.

Pemantauan kasus juga diperkuat agar peningkatan penyakit yang berkaitan dengan kualitas udara dapat diketahui lebih cepat.

"Kami sudah kirim beberapa logistik, termasuk masker untuk di bagikan masyarakat" kata Jaya.

Dengan kasus ISPA yang menunjukkan tren peningkatan, ancaman karhutla kini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan.

Kondisi ini juga perlu dipandang sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan kewaspadaan bersama.

Masyarakat diimbau tidak menunggu hingga kabut asap menjadi pekat untuk melakukan pencegahan.

Mengurangi paparan asap dan debu, menggunakan masker, membatasi aktivitas di luar ruangan serta segera memeriksakan diri ketika mengalami gejala gangguan pernapasan menjadi langkah penting untuk mencegah dampak yang lebih serius. (abi)



Pasang Iklan
Top