
Potret pembagian 10.000 masker oleh Polresta Samarinda di simoang 4 Lembuswana. Jumat (28/08/2026).(Foto:Abi/KutaiRaya).
SAMARINDA, KutaiRaya: Kepolisian Resor Kota (Polresta) Samarinda mengambil langkah cepat merespons kondisi udara yang terdampak kabut asap.
Sebanyak 10.000 masker gratis dibagikan kepada pengguna jalan di kawasan Simpang Lembuswana, Kota Samarinda, Jumat (28/8/2026).
Pembagian masker ini menjadi salah satu langkah mitigasi untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan.
Kapolresta Samarinda, Kombes Pol. Hendri Umar mengatakan, kegiatan itu merupakan bentuk kepedulian kepolisian terhadap kondisi kesehatan masyarakat di tengah kualitas udara yang kurang baik.
"Kami mengajak masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah," kata Hendri.
Menurut Hendri, penggunaan masker menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi paparan asap maupun partikulat udara ketika berada di luar ruangan.
"Kami melihat kondisi seperti ini tentu harus menjadi perhatian bersama. Karena itu, kami hadir untuk memberikan perlindungan awal kepada masyarakat, khususnya pengguna jalan," ujarnya.
Pembagian masker dilakukan bersama Info Taruna Samarinda (ITS) dengan menyasar pengendara yang melintas di Simpang Lembuswana.
Polresta Samarinda memastikan upaya mitigasi akan terus dilakukan bersama berbagai pihak.
Selain mengedukasi masyarakat agar menggunakan masker, koordinasi lintas instansi juga diperlukan untuk mengantisipasi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan warga.
"Kami akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait dan elemen masyarakat. Yang terpenting adalah masyarakat tetap aman dan kesehatan mereka terlindungi," ucap Hendri.
Kegiatan ini juga melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Palang Merah Indonesia (PMI), Pertamina, relawan ITS, hingga gabungan pengemudi ojek daring Kota Samarinda.
Salah seorang pengendara sepeda motor yang menerima masker, Rayhan mengemukakan, langkah ini dinilai positif karena dapat membantu masyarakat meminimalkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan udara yang tidak baik.
"Baguslah, ini bisa membantu untuk meminimalisir penyakit seperti ISPA dan sebagainya. Masyarakat juga sadar dengan kondisi seperti ini,"ujar Rayhan.
Ia menilai pembagian masker menunjukkan adanya perhatian pemerintah dan aparat terhadap kondisi kesehatan warga yang terdampak kabut asap.
"Intinya bagus untuk mengurangi angka penyakit. Pemerintah artinya peduli dengan kondisi masyarakat," katanya.
Namun, Rayhan berharap penanganan kabut asap tidak hanya dilakukan melalui pembagian masker.
Menurutnya, persoalan kebakaran hutan dan lahan perlu mendapat solusi agar tidak terus meluas.
"Kebakaran ini juga menjadi keresahan saya. Kalau bisa ada solusi lain supaya karhutla tidak terus merambah," ujarnya.
Rayhan berharap penanganan karhutla dapat dilakukan secara lebih serius sehingga masyarakat tidak terus-menerus menghadapi dampak asap dan penurunan kualitas udara.
"Jangan sampai masyarakat terus yang terkena dampaknya. Semoga ada solusi supaya kebakaran seperti ini tidak terus terjadi," katanya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat, rata-rata kasus ISPA akut pada Agustus 2026 disebut meningkat hingga 22,8 persen, dengan rata-rata mencapai 206,2 kasus per hari.
Peningkatan ini dikaitkan dengan paparan partikulat asap dan kondisi cuaca kering ekstrem. (abi)