
Anggota Komisi I DPRD Kaltim, Budianto Bulang. Rabu (19/08/2026).(Foto: Abi/KutaiRaya.com)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com): Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) semakin rentan seiring kondisi kemarau yang melanda sejumlah wilayah.
Data terbaru menunjukkan puluhan kejadian karhutla telah terjadi, sedangkan ribuan titik panas (hotspot) terpantau di berbagai daerah, Rabu (19/8/2026).
Berdasarkan data pemantauan hingga awal Agustus 2026, tercatat 71 kejadian kebakaran hutan dan lahan di Kaltim.
Sementara itu, pemantauan sepanjang Dasarian I Agustus menunjukkan sekitar 4.700 titik panas terdeteksi di wilayah Kaltim.
Tingginya jumlah titik panas tersebut menjadi peringatan bahwa potensi kebakaran masih terbuka dan membutuhkan langkah pencegahan serta penanganan cepat di lapangan.
Perlu dicatat, titik panas merupakan indikasi awal dari pemantauan satelit dan tidak seluruhnya dapat langsung dikategorikan sebagai kejadian kebakaran.
Anggota Komisi I DPRD Kaltim, Budianto Bulang meminta pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak kemarau, terutama ancaman karhutla yang dapat semakin meluas, apabila tidak ditangani sejak awal.
Menurutnya, data ini harus menjadi perhatian serius seluruh pihak.
Pencegahan tidak boleh dilakukan setelah kebakaran meluas, melainkan harus dimulai melalui pemantauan wilayah rawan dan kesiapan personel di lapangan.
“Kita tidak boleh menunggu sampai dampaknya semakin besar. Kemarau ini harus dihadapi dengan kesiapsiagaan sejak sekarang, terutama untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan serta mengantisipasi persoalan ketersediaan air bagi masyarakat,” ujar Budianto.
Dia menilai koordinasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, aparat keamanan serta masyarakat harus terus diperkuat.
Menurut Budianto, wilayah yang memiliki riwayat kebakaran perlu mendapatkan perhatian lebih melalui patroli dan pengawasan secara intensif.
“Pencegahan ini bukan hanya tugas pemerintah atau petugas di lapangan. Kesadaran masyarakat sangat menentukan. Jangan melakukan pembakaran sembarangan, karena dalam kondisi seperti sekarang api bisa dengan cepat meluas,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Budi Purnomo mengatakan, ancaman karhutla selama musim kemarau menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
BPBD Kaltim terus memperkuat kesiapsiagaan bersama pemerintah kabupaten dan kota serta unsur terkait.
Pemantauan terhadap daerah rawan dan titik panas menjadi bagian penting dalam upaya deteksi dini.
Sejumlah wilayah, seperti Kutai Timur, Berau, Paser, dan Kutai Barat menjadi kawasan yang mendapat perhatian khusus karena memiliki tingkat kerawanan karhutla.
Pemerintah dan aparat terkait juga telah meningkatkan patroli serta menyiapkan personel untuk menghadapi potensi kebakaran selama musim kemarau.
Bahkan, kondisi terkini mendorong Pemerintah Provinsi Kaltim menyiapkan langkah tambahan untuk mengantisipasi dampak kemarau.
Pemerintah mempertimbangkan pelaksanaan rekayasa cuaca pada 22 hingga 27 Agustus 2026 apabila kondisi kering berlanjut dan hujan tidak turun.
Empat wilayah menjadi perhatian dalam rencana tersebut, yakni Berau, Kutai Timur, Kutai Barat, dan Kutai Kartanegara.
Langkah ini disiapkan sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko kebakaran yang dapat semakin meluas
Buyung menegaskan penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama.
Deteksi dini dan respons cepat menjadi langkah penting untuk mencegah titik api berkembang menjadi kebakaran dengan luasan yang lebih besar.
Dengan puluhan kejadian karhutla yang telah tercatat dan ribuan titik panas yang terpantau sepanjang Agustus, kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran di Benua Etampun perlu terus ditingkatkan.
Budianto menambahkan, selain ancaman karhutla, pemerintah juga perlu mengantisipasi dampak lain dari musim kemarau, terutama terhadap ketersediaan air bersih dan aktivitas masyarakat di wilayah yang rentan mengalami kekeringan.
“Yang harus dipastikan adalah pemerintah hadir sebelum masyarakat terdampak lebih jauh. Kita perlu memastikan air bersih tersedia, koordinasi penanganan berjalan, dan seluruh pihak bergerak bersama. Jangan sampai kita baru sibuk setelah kondisi menjadi darurat,” ujarnya.
Upaya pencegahan dan mitigasi kini menjadi pekerjaan bersama.
Sebab, di tengah kondisi kemarau dan meningkatnya titik panas, kecepatan mendeteksi serta menangani api akan menjadi faktor penting untuk mencegah karhutla semakin meluas di Kaltim. (Abi)