• Rabu, 12 Agustus 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Sosialisasi PT KPB kepada warga sekitar area kilang menjelang proyek pengembangan kilang ke tahap commissioning dan uji operasi.(Foto: PT KPB)


BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Menjelang masuknya proyek pengembangan kilang ke tahap commissioning dan uji operasi, PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) tidak hanya menyiapkan fasilitas, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan kilang.

Edukasi keselamatan dan manajemen kedaruratan digelar di empat kecamatan yang berbatasan langsung dengan area kilang, yakni Balikpapan Utara, Balikpapan Barat, Balikpapan Tengah, dan Balikpapan Kota.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan warga memahami perubahan aktivitas yang mungkin terjadi saat unit-unit kilang baru mulai menjalani tahapan awal operasi.

VP Legal & Relation PT KPB Asep Sulaeman mengatakan edukasi diberikan lebih awal karena sebagian besar konstruksi fisik unit baru telah rampung dan memasuki tahapan menuju operasi.

“Informasi dini ini penting agar masyarakat memiliki pemahaman yang utuh sebelum aktivitas kilang benar-benar berlangsung, sehingga tidak menimbulkan kepanikan maupun kesalahpahaman,” kata Asep di Balikpapan, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya, masyarakat kemungkinan akan melihat sejumlah aktivitas yang berbeda dari kondisi operasional sebelumnya. Salah satunya peningkatan nyala flare atau obor yang dapat terjadi sementara sebagai bagian dari penyesuaian sistem operasi.

Aktivitas steam blowing untuk membersihkan pipa dengan uap bertekanan tinggi juga berpotensi menimbulkan suara lebih bising. Selain itu, warga dapat melihat hembusan uap putih dari proses pemanasan air untuk kebutuhan pembangkitan listrik dan utilitas unit operasi.

Asep menegaskan, uap putih tersebut merupakan uap air dan bukan polusi berbahaya. “Warga diharapkan tidak lekas panik apabila melihatnya di kemudian hari. Kami ingin masyarakat memahami lebih dahulu apa yang sedang berlangsung di dalam kawasan kilang,” ujarnya.

Untuk memastikan proses berjalan sesuai standar keselamatan, KPB melakukan pemantauan kualitas udara dan kebisingan secara berkala selama 24 jam. Pemantauan tersebut dilakukan bersama laboratorium lingkungan independen yang telah terakreditasi.

Sosialisasi tidak berhenti pada penjelasan mengenai aktivitas kilang. KPB juga membekali masyarakat dengan pengetahuan praktis menghadapi kondisi kedaruratan.

Rangkaian kegiatan di setiap kecamatan diisi dengan sesi tanya jawab, pengenalan sistem peringatan, hingga simulasi penanggulangan kebakaran menggunakan kain basah dan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

Ketua RT dan tokoh masyarakat dilibatkan langsung dalam simulasi agar pengetahuan dasar tersebut dapat diteruskan dan diterapkan di lingkungan permukiman.

PT KPB merupakan pengelola Proyek Strategis Nasional (PSN) Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan dan Lawe-Lawe. Proyek tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas Kilang Balikpapan hingga 360.000 barel per hari.

Salah satu unit utama dalam pengembangan tersebut adalah Residual Fluid Catalytic Cracker (RFCC). Unit ini mengolah minyak residu menjadi sejumlah produk bahan bakar, seperti Pertamax, Pertalite, Diesel, dan Avtur, serta produk non-BBM seperti LPG dan bahan baku petrokimia.

Dengan memasuki tahapan commissioning, kesiapan fasilitas menjadi satu sisi dari proses menuju operasi. Di sisi lain, pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat sekitar juga menjadi perhatian perusahaan.

Melalui komunikasi sejak dini, KPB berharap masyarakat dapat mengetahui aktivitas yang mungkin muncul selama uji operasi sekaligus memiliki kemampuan dasar menghadapi kondisi kedaruratan.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen perusahaan membangun hubungan yang terbuka dengan masyarakat di sekitar kawasan operasional kilang.

Sementara itu, Camat Balikpapan Utara Umar Hadi menilai edukasi dini sangat dibutuhkan mengingat sejumlah permukiman warga berada berdekatan dengan aset Pertamina.

Menurutnya, informasi langsung dari perusahaan dapat membantu warga memahami situasi sebenarnya dan mencegah munculnya keresahan akibat informasi yang tidak terverifikasi.

“Informasi awal semacam ini sangat dibutuhkan warga. Mereka bisa memahami situasi riil di lapangan lebih dahulu, alih-alih baru mengetahuinya lewat kabar yang berkembang liar di media sosial,” kata Umar.

Program edukasi tersebut dilaksanakan bersama jajaran kecamatan, kelurahan, RT, LPM, Katana, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan. Kegiatan menyasar lebih dari 500 warga di permukiman sekitar kawasan kilang. (Las)



Pasang Iklan
Top