• Rabu, 12 Agustus 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, meninjau SPPG kawasan Somber, pada Selasa (11/8/2026).(Foto: Sulastri/KutaiRaya.com)


BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan terus memperluas dukungan terhadap program Makanan Bergizi Sehat (MBG) melalui penambahan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Selain memperluas cakupan penerima manfaat, keberadaan SPPG diarahkan untuk membuka peluang ekonomi bagi petani, peternak, UMKM, hingga koperasi.

Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, meninjau sejumlah SPPG pada Selasa (11/8/2026). Peninjauan dilakukan di SPPG Sepinggan 7, Balikpapan Selatan, SPPG Baru Ulu, Balikpapan Barat, serta SPPG yang masih dalam tahap pembangunan di kawasan Somber Baru, Kelurahan Muara Rapak, Balikpapan Utara.

Bagus mengatakan pembangunan SPPG Somber Baru hampir rampung secara fisik. Sejumlah peralatan juga telah tersedia dan hanya menunggu penunjukan kepala SPPG dari Badan Gizi Nasional (BGN) sebelum operasional dimulai.

"Kalau sudah ada kepala SPPG maka sudah bisa berjalan. Relawan juga sudah banyak yang melamar. Mudah-mudahan bulan depan sudah bisa berjalan," ujar Bagus, disela-sela peninjauan SPPG Balikpapan.

Pada tahap awal, SPPG Somber diproyeksikan memproduksi sekitar 1.000 porsi makanan. Kapasitas tersebut nantinya dapat ditingkatkan secara bertahap hingga lebih dari 2.000 porsi setelah operasional berjalan dan kesiapan tenaga kerja maupun peralatan terpenuhi.

Bagus menyebut saat ini terdapat 36 lokasi SPPG di Balikpapan, dengan 10 lokasi masih dalam proses pembangunan. SPPG Somber termasuk salah satu dapur yang sedang disiapkan untuk beroperasi.

Dari sisi kemitraan, lahan SPPG Somber merupakan milik yayasan dan telah berstatus sertifikat. Mitra menyediakan lahan dan bangunan, termasuk peralatan serta personel yang nantinya bekerja di dapur. Jumlah relawan yang dapat terlibat maksimal 47 orang.

Bagus menjelaskan pembangunan dan penentuan lokasi SPPG mempertimbangkan kedekatan dengan sekolah penerima manfaat. Jarak distribusi ditetapkan maksimal sekitar enam kilometer dengan waktu pengantaran tidak lebih dari satu jam.

Menurutnya, lokasi SPPG ditentukan berdasarkan sebaran sekolah dan jumlah penerima manfaat di wilayah sekitar.

"Lokasi SPPG ke sekolah maksimal enam kilometer dan tidak lebih dari satu jam pendistribusian. Lokasi ini ditentukan berdasarkan beberapa sekolah yang ada di sekitar sini," katanya.

Selain jarak, standar peralatan dan pengawasan juga menjadi bagian penting dalam operasional dapur. SPPG dilengkapi CCTV untuk memantau aktivitas, sementara peralatan pengolahan makanan seperti mesin pemasakan nasi, chiller dan showcase penyimpanan bahan pangan harus memenuhi standar yang ditentukan.

Bagus menilai standardisasi tersebut diperlukan agar proses pengolahan hingga distribusi makanan berjalan aman dan terkontrol.

Lebih jauh, Bagus melihat program MBG memiliki dampak ekonomi yang lebih luas. Kebutuhan bahan pangan untuk SPPG dapat menyerap produk petani dan peternak, sekaligus membuka peluang bagi vendor dan UMKM lokal.

"Yang paling penting sebenarnya penerimaan bahan makanan ini juga melibatkan vendor, petani dan peternak. Jadi inilah yang disebut oleh Presiden bahwa kita akan menggerakkan ekonomi, baik dari petani maupun UMKM," ujarnya.

Pemkot Balikpapan juga mendorong sinergi antara SPPG dengan Koperasi Merah Putih. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat rantai pasok bahan pangan sekaligus mendorong perputaran ekonomi hingga tingkat lokal.

"Ini yang sebenarnya diharapkan oleh pemerintah, bahwa ada pergerakan ekonomi yang ada di desa," katanya.

Sementara itu, Kepala SPPG Baru Ulu, Muhammad Mizanulhaq, mengatakan dapur yang dikelolanya saat ini memproduksi sekitar 1.000 porsi makanan setiap hari.

Salah satu masukan dari siswa berkaitan dengan variasi menu telur. Pengelola kemudian melakukan penyesuaian dengan menyajikan telur dalam berbagai olahan, seperti telur dadar, telur ceplok, sate telur hingga rolade.

Mizanulhaq mengatakan kapasitas produksi 1.000 porsi saat ini masih dapat ditangani oleh relawan. Namun, apabila kapasitas dinaikkan menjadi sekitar 2.000 porsi, diperlukan pengaturan kembali pola produksi dan jam kerja.

"Kalau nanti menjadi 2.000 porsi mungkin bakal berat produksinya. Jadi nanti kita akan bagi produksinya pagi dan malam," jelasnya.

Ia juga mengingatkan sekolah agar makanan MBG segera dikonsumsi setelah diterima. Hal tersebut penting karena makanan telah diproduksi sejak dini hari dan membutuhkan waktu untuk proses distribusi.

"Makanan ini dimasak mulai dari jam 02.00 Wita, sedangkan pengantaran pagi dimulai dari jam 08.00 Wita, ada baiknya satu jam setelah pengantaran sudah dimakan dan tidak boleh dibawa pulang," katanya.

Menurutnya, imbauan tersebut bertujuan menjaga makanan tetap layak konsumsi dan menghindari risiko makanan mengalami penurunan kualitas akibat terlalu lama disimpan setelah didistribusikan.

Dengan bertambahnya SPPG, Pemkot Balikpapan berharap manfaat program MBG tidak hanya dirasakan penerima manfaat, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi baru melalui keterlibatan petani, peternak, UMKM, vendor dan koperasi. (Las)



Pasang Iklan
Top