
Foto Bersama sebelum pertunjukkan Kisah Putri Karang Melenu, Kamis (6/8/2026).(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Kisah Putri Karang Melenu yang selama ini dikenal sebagai bagian dari sejarah dan budaya Kutai Kartanegara (Kukar), kini dikemas dengan sentuhan teknologi.
Melalui video mapping, cerita tersebut diproyeksikan di halaman Museum Mulawarman, Tenggarong, Kamis (6/8/2026).
Kegiatan ini menghadirkan pengalaman baru bagi masyarakat, sekaligus menarik minat generasi muda untuk mengenal sejarah daerah.
Pemaparan video mapping tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) untuk menghidupkan kembali cerita sejarah melalui perpaduan animasi, cahaya dan narasi visual.
Ketua Panitia kegiatan, Sabana mengatakan, inovasi tersebut berangkat dari keinginan untuk membuat sejarah tidak hanya tersimpan dalam koleksi museum, tetapi dapat disampaikan dengan cara yang lebih menarik dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan benda bersejarah.
Museum juga memiliki peran sebagai pusat edukasi, penelitian dan destinasi wisata budaya.
Namun, ia menilai minat masyarakat untuk berkunjung ke museum masih menjadi tantangan tersendiri.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, jumlah pengunjung museum dan cagar budaya secara nasional pada 2025 disebut masih sekitar 4 juta orang atau sekitar 1,55 persen dari jumlah penduduk Indonesia.
Kondisi serupa juga dialami Museum Mulawarman.
Museum yang menyimpan berbagai koleksi peninggalan Kesultanan Kutai Kartanegara tersebut masih menghadapi jumlah kunjungan yang fluktuatif dalam beberapa tahun terakhir.
"Karena itu, kami mencoba menghadirkan inovasi melalui penerapan video mapping," katanya kepada KutaiRaya.com, Kamis (6/8/2026).
Ia menjelaskan, video mapping merupakan teknologi visual yang memungkinkan animasi diproyeksikan pada permukaan 3 dimensi.
Teknologi tersebut digunakan untuk menghidupkan cerita Putri Karang Melenu melalui perpaduan visual, cahaya dan narasi.
Dengan pendekatan tersebut, sejarah diharapkan tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dipelajari, tetapi juga dapat menjadi pengalaman yang menarik bagi pengunjung.
"Jadi koleksi museum tidak hanya dipertahankan, tetapi juga ditransformasikan menjadi media edukasi yang lebih menarik," ucapnya.
Ia mengatakan, kegiatan tersebut tidak hanya fokus pada penayangan video mapping.
Program diawali dengan sosialisasi untuk memperkenalkan konsep video mapping, sekaligus membangun interaksi antara tim pelaksana dengan lingkungan museum.
Selanjutnya, peserta mengikuti workshop produksi, penyusunan narasi dan pengembangan materi visual.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan pengoperasian peralatan, uji coba penayangan hingga praktik mandiri.
"Seluruh rangkaian kemudian ditutup dengan evaluasi untuk melihat respons pengunjung, sekaligus menjadi dasar pengembangan program di masa mendatang," tuturnya.
Sementara itu, Pangeran Noto Negoro Kesultanan Ing Martadipura, Heriansyah, memberikan apresiasi terhadap karya mahasiswa Unikarta tersebut.
Ia menilai kreativitas mahasiswa dalam mengangkat sejarah lokal menunjukkan adanya kepedulian generasi muda terhadap budaya daerah.
"Kami dari Kesultanan Kutai Kartanegara memberikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada adik-adik mahasiswa Unikarta yang telah mampu membuat sebuah karya yang mengangkat tentang sejarah Kutai Kartanegara," ujarnya.
Menurutnya, pengenalan sejarah melalui media visual dapat menjadi salah satu cara untuk mendekatkan budaya lokal kepada generasi muda.
Ia berharap generasi muda tidak hanya mengenal budaya dari cerita atau buku, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
"Saya yakin ketika mereka mengenal budayanya, karena budaya kita sangat luhur dan sangat tua di Indonesia, nilai-nilai luhur yang ada dalam budaya kita bisa kita terapkan untuk membangun daerah," katanya.
Ia juga melihat pelestarian budaya menjadi semakin penting bagi Kukar seiring berkembangnya kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Ia berharap masyarakat yang datang ke IKN juga tertarik mengunjungi Kukar untuk melihat langsung sejarah, peninggalan dan kebudayaan Kutai.
"Di sini (Kukar) orang bisa melihat kerajaan tertua yang masih memiliki artefak, sejarah dan budaya yang terus dilestarikan," tuturnya.
Dia berharap ini bisa menjadi spirit dan semangat bagi anak-anak muda untuk melestarikan budaya, khususnya budaya lokal yang harus terus dipertahankan sebagai jati diri dan identitas sebagai orang Kutai. (*Zar)