• Rabu, 05 Agustus 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Beberapa lokasi Pasar Pagi Samarinda yang masih kosong. Selasa (8/4/2026).(Foto: Abi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Bangunan baru Pasar Pagi Samarinda yang telah selesai direvitalisasi dengan anggaran Rp468,5 miliar kini menghadapi tantangan baru. Bukan lagi persoalan pembangunan fisik, melainkan bagaimana menghidupkan kembali aktivitas perdagangan di dalam pasar.

Meski ribuan tempat berjualan telah disiapkan dan mayoritas telah memiliki pemilik, sekitar 1.000 lapak hingga kini masih belum ditempati. Kondisi tersebut membuat sebagian pedagang yang sudah mulai berjualan mengeluhkan minimnya aktivitas dan belum ramainya kunjungan pembeli.

Seorang pedagang Pasar Pagi Samarinda, Sulastri, mengaku aktivitas jual beli di kawasan pasar belum sepenuhnya pulih. Menurutnya, masih banyaknya kios yang belum beroperasi turut memengaruhi jumlah pengunjung.

Ia menilai, suasana pasar yang masih terlihat lengang membuat sebagian masyarakat belum menjadikan Pasar Pagi sebagai tujuan utama untuk berbelanja. Kondisi itu berdampak langsung terhadap pendapatan pedagang yang telah lebih dahulu menempati lapak.

“Kalau banyak kios masih tutup, pembeli juga belum ramai datang. Kadang dalam sehari hanya ada beberapa orang yang mampir dan berbelanja,” ujar Sulastri, Selasa (4/8/2026).

Ia berharap, seluruh pedagang yang telah memperoleh tempat dapat segera membuka lapak. Menurutnya, semakin banyak kios yang beroperasi, semakin besar peluang Pasar Pagi kembali ramai dan menarik minat masyarakat.

“Pasar ini akan hidup kalau pedagangnya sama-sama membuka usaha. Kalau masih banyak yang kosong, suasananya sepi dan pembeli bisa memilih berbelanja di tempat lain,” katanya.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Perdagangan (Disdag) mulai mengambil langkah tegas untuk mempercepat pengoperasian pasar. Para pemilik lapak diberi batas waktu hingga akhir Agustus 2026 untuk menempati dan mengaktifkan tempat usaha yang telah diberikan.

Kepala Disdag Kota Samarinda, Nurrahmani, menjelaskan bahwa persoalan utama saat ini bukan terletak pada ketersediaan tempat berjualan. Dari sekitar 2.500 lapak yang disiapkan, hampir seluruhnya telah memiliki pemilik dan hanya sekitar 10 unit yang belum teralokasi.

Ia menyebut, masih banyak pemilik lapak yang belum memulai aktivitas perdagangan, sehingga bangunan pasar belum dapat beroperasi secara maksimal. Pemerintah pun mendorong para pedagang untuk segera menempati tempat yang telah disediakan agar roda perekonomian kembali bergerak.

“Persoalan utama kita saat ini bukan kekurangan penerima tempat, melainkan mendorong para pedagang untuk segera memulai aktivitas jual belinya,” tegas Nurrahmani.

Nurrahmani menambahkan, pemerintah akan mengevaluasi kepatuhan para pemilik lapak setelah batas waktu yang ditetapkan berakhir. Lapak yang tetap tidak ditempati berpotensi dikembalikan kepada pemerintah untuk dialokasikan kepada pedagang lain yang benar-benar siap berjualan.

Menurutnya, kebijakan tersebut diperlukan agar fasilitas yang telah dibangun dengan anggaran besar tidak dibiarkan kosong dan dapat memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat.

“Kami sudah memberi batas waktu hingga akhir Agustus. Jika tidak ditempati, lapak akan dikembalikan ke pemerintah untuk diberikan kepada pedagang lain yang benar-benar siap,” ujarnya.

Selain mendorong keterisian lapak, Disdag Samarinda juga terus melakukan pembenahan terhadap sejumlah fasilitas pendukung. Pemerintah menyadari masih terdapat kebutuhan teknis yang harus disempurnakan agar pedagang dapat menjalankan aktivitas usaha dengan aman dan nyaman.

Nurrahmani mengatakan, pembenahan jaringan listrik serta fasilitas operasional lainnya menjadi bagian dari upaya memastikan pasar dapat berfungsi secara optimal. Perbaikan tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan pedagang untuk segera membuka usaha.

“Kami mengambil langkah-langkah pembenahan fasilitas, termasuk perbaikan jaringan listrik dan kebutuhan lainnya, agar aktivitas perdagangan dapat berjalan dengan baik,” tuturnya.

Sementara itu seorang pedagang Siti, berharap pembenahan fasilitas dapat segera diselesaikan dan disertai dengan upaya menarik kembali masyarakat untuk berbelanja di Pasar Pagi. Ia menilai keberhasilan revitalisasi tidak hanya diukur dari kemegahan bangunan, tetapi juga dari ramainya aktivitas jual beli.

“Harapan kami pasar ini kembali ramai seperti dulu. Bangunannya sudah bagus, sekarang tinggal bagaimana semua pedagang bisa segera buka dan masyarakat kembali datang berbelanja,” pungkasnya.

Dengan masih kosongnya sekitar 1.000 lapak, Pemkot Samarinda kini dihadapkan pada pekerjaan besar untuk memastikan investasi Rp468,5 miliar tersebut mampu menghasilkan dampak ekonomi nyata. Keterisian kios, kesiapan fasilitas, serta meningkatnya kunjungan pembeli menjadi faktor penting dalam mengembalikan peran Pasar Pagi sebagai salah satu pusat perdagangan utama di Kota Samarinda. (*Abi)



Pasang Iklan
Top