
Objek Wisata Pantai Tanah Merah Samboja.(Dok. Andri/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah. Pengembangan destinasi wisata tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga membuka ruang yang lebih luas bagi pertumbuhan usaha masyarakat dan pelaku UMKM.
Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar saat ini mendorong sejumlah destinasi unggulan agar semakin dikenal wisatawan. Lima destinasi yang menjadi perhatian antara lain Pulau Kumala, Planetarium, Pantai Tanah Merah Samboja, Waduk Panji Sukarame, serta Tugu Equator di Santan Ulu, Kecamatan Marangkayu.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispar Kukar, Awang Agus Dharmawan, mengatakan penguatan promosi menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan daya tarik destinasi wisata yang dikelola pemerintah daerah.
Menurutnya, semakin tinggi tingkat kunjungan wisatawan, semakin besar pula peluang terciptanya aktivitas ekonomi baru di sekitar kawasan wisata. Kondisi tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat yang menjalankan usaha di sektor pariwisata.
“Dengan promosi yang intens, diharapkan jumlah wisatawan akan meningkat, yang pada gilirannya akan berdampak positif pada UMKM. Sekaligus menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat,” ujar Awang Sabtu (19/9/2026).
Upaya tersebut berjalan beriringan dengan optimalisasi pengelolaan destinasi wisata untuk meningkatkan kontribusi sektor pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Hingga akhir Juli 2026, PAD yang bersumber dari sektor pariwisata Kukar telah mencapai sekitar Rp998 juta. Angka tersebut semakin mendekati target penerimaan tahun ini yang berada di kisaran Rp1,4 miliar lebih.
Pantai Tanah Merah di Kecamatan Samboja menjadi salah satu destinasi yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap penerimaan sektor pariwisata.
Awang menyebut masih terdapat ruang untuk mengembangkan potensi penerimaan dari berbagai destinasi tersebut. Optimalisasi dapat dilakukan melalui tiket masuk, retribusi parkir hingga pemanfaatan fasilitas pendukung yang tersedia di kawasan wisata.
Namun, peningkatan penerimaan daerah tetap harus berjalan seiring dengan kepentingan masyarakat. Dispar Kukar tidak ingin pengembangan sektor pariwisata justru mengurangi ruang ekonomi masyarakat yang selama ini menggantungkan pendapatan dari aktivitas perdagangan dan jasa di kawasan wisata.
“Sebenarnya masih banyak yang bisa kita maksimalkan, mulai dari tiket masuk, retribusi parkir hingga penyewaan fasilitas. Tetapi untuk UMKM dan masyarakat yang berusaha di dalam kawasan wisata, kita juga harus mempertimbangkan aspek sosial,” jelasnya.
Karena itu, berbagai peluang penerimaan baru akan dibahas dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan. Beberapa aktivitas yang berpotensi dikembangkan antara lain penyewaan ban, penjualan layang-layang hingga fasilitas bermain pasir untuk anak-anak.
Menurut Awang, pengembangan tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pariwisata yang memberikan manfaat bagi pemerintah sekaligus masyarakat.
“Mungkin ini perlu kita dudukkan bersama untuk membahas apakah retribusi dari penyewaan ban, penjualan layang-layang, tempat bermain pasir anak-anak dan lainnya perlu dioptimalkan,” katanya.
Dengan strategi tersebut, pemerintah daerah berharap destinasi wisata Kukar tidak hanya menjadi tujuan rekreasi, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi UMKM, pelaku usaha jasa dan masyarakat sekitar.
“Kami berharap bahwa pengembangan objek wisata ini akan memberikan dorongan positif bagi pariwisata di Kukar serta membantu perkembangan ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (Adv/Dri)