• Rabu, 05 Agustus 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Salah satu orang tua siswa, Nur Helva (45) (kanan),Selasa (4/8/2026), (foto:Achmad Nizar/KutaiRaya).

TENGGARONG,(KutaiRaya.com): Menu pentol yang disebut baru pertama kali disajikan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Sebulu, Kutai Kartanegara (Kukar), menjadi sorotan setelah puluhan penerima manfaat mengalami keluhan kesehatan pada Senin (3/8/2026).

Sejumlah murid dari beberapa lembaga pendidikan dilaporkan mengalami mual, muntah, pusing hingga sakit perut setelah mengonsumsi makanan MBG.

Dugaan sementara mengarah pada menu pentol, namun penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut masih dalam proses pendalaman.

Salah satu orangtua murid, Nur Helva (45), mengemukakan kondisi anaknya yang harus mendapat perawatan di Puskesmas Sebulu setelah mengalami keluhan usai menyantap makanan MBG.

"Alhamdulillah, anak saya sudah mulai membaik dibandingkan kemarin saat pertama masuk. Kemarin dia mengeluh sakit perut setelah mengonsumsi makanan dari MBG," ujarnya kepada awak media, Selasa (4/8/2026).

Anaknya yang duduk di kelas 4 SDN 003 Sebulu itu menerima menu berupa nasi, telur, pentol, tahu dan sayur.

Menurut Nur Helva, anaknya baru sempat mencicipi satu butir pentol sebelum mengeluhkan rasa yang tidak enak dan langsung memuntahkannya.

"Iya, dia baru makan pentol. Katanya rasanya tidak enak, lalu langsung dimuntahkan. Setelah itu muntah, pusing dan sakit perut," tuturnya.

Makanan tersebut dikonsumsi sekitar pukul 10.00 WITA.

Saat gejala mulai dirasakan, anaknya masih bertahan hingga jam pulang sekolah sekitar pukul 12.00 WITA.

Setelah mengetahui kondisi anaknya, ia membawanya ke Puskesmas Sebulu sekitar pukul 14.00 WITA.

"Setelah diobservasi sekitar satu jam dan kondisinya belum ada perubahan, akhirnya langsung dirawat," katanya.

Ia menyebutkan anaknya tidak memiliki riwayat penyakit sebelumnya.

"Kalau sampai dirawat inap seperti ini, baru pertama kali terjadi," ujarnya.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, pentol tersebut merupakan menu baru yang baru pertama kali diberikan kepada anak-anak.

"Iya, katanya itu menu baru atau menu percobaan. Sebelumnya biasanya telur atau ayam dan selama ini tidak ada masalah. Makanya kemarin ibu-ibu yang membicarakan soal menu baru itu," tuturnya.

Ia menerima informasi dari orangtua lainnya mengenai kondisi pentol yang disebut memiliki aroma dan rasa yang tidak seperti biasanya.

Namun, ia menegaskan informasi tersebut masih berdasarkan keterangan yang beredar di antara para orangtua.

"Saya hanya melihat dari video yang dikirim teman. Di situ disebutkan pentolnya sudah tidak layak dimakan karena baunya tidak enak dan rasanya asam," katanya.

Dengan kejadian ini, ia mengaku tidak menuntut program MBG dihentikan.

"Silakan saja kalau memang mau dilanjutkan. Tapi tolong lebih teliti lagi, terutama soal gizinya. Sebelum makanan disajikan ke anak-anak harus benar-benar dipastikan layak atau tidak untuk dikonsumsi," ucapnya penuh harap.

Ia juga berharap menu MBG dapat dibuat lebih bervariasi sehingga anak-anak tidak mudah bosan.

Sementara itu, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sebulu Ulu Yayasan Wadah Lumbung Inklusi, Rahmatullah Andaputra mengatakan, pihaknya menyiapkan sebanyak 1.834 porsi makanan untuk didistribusikan pada Senin (3/8/2026).

Makanan tersebut disalurkan ke 10 sekolah serta 6 titik lainnya, seperti posyandu dan layanan yang telah terdata.

Ia menjelaskan, sebelum makanan didistribusikan, pihak SPPG melakukan pengecekan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), termasuk pemeriksaan organoleptik.

"Di sekolah juga ada PIC sekolah yang ikut mencicipi sebelum makanan dibagikan," katanya.

Terkait hasil pengecekan makanan sebelum dibagikan dan munculnya keluhan dari sejumlah penerima manfaat, pihaknya masih melakukan pendalaman.

"Nah, itu yang saat ini masih kami lakukan pendalaman, baik yang terjadi di lapangan maupun di tempat kami," ujarnya.

Ia mengatakan, proses pengolahan makanan dimulai sekitar pukul 01.00 WITA, sedangkan pendistribusian dimulai sekitar pukul 07.30 WITA.

Untuk bahan baku, ia memastikan dilakukan pengadaan setiap hari sehingga tidak disimpan dalam waktu lama.

"Untuk bahan baku kami stok setiap hari, jadi selalu baru,"katanya.

Terkait pentol, ia menyebut bahan tersebut dibuat sendiri oleh SPPG, bukan menggunakan produk frozen.

Untuk bahan daging, pihak SPPG menggunakan pemasok dari daerah sekitar sesuai arahan untuk menjaga kualitas bahan makanan.

Ia mengemukakan SPPG Sebulu Ulu memiliki sekitar 40 orang pekerja yang disesuaikan dengan kebutuhan produksi.

Namun setelah insiden tersebut, operasional SPPG untuk sementara dihentikan.

"Untuk hari ini kami tidak beroperasi karena masih menyelesaikan penanganan terkait kejadian kemarin," tuturnya.

Ia mengatakan, pihak SPPG masih menunggu hasil pendalaman dan pengumpulan data sebelum menentukan langkah selanjutnya.

"Setelah itu baru menunggu arahan lebih lanjut dari pimpinan," ucapnya. (*zar)



Pasang Iklan
Top