
Bunda PAUD sekaligus Bunda Literasi Kota Balikpapan, Hj Nurlena Rahmad Mas
BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan bersama Tanoto Foundation tidak ingin upaya peningkatan literasi anak berhenti pada forum diskusi. Melalui Forum Group Discussion (FGD) KIARA (Kelas Inspirasi Antar Penggerak), seluruh pemangku kepentingan ditargetkan menyusun program aksi yang dapat diimplementasikan dalam waktu tiga bulan ke depan.
FGD yang digagas Tanoto Foundation bersama Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispustakar) Kota Balikpapan itu mempertemukan unsur pentahelix, mulai dari pemerintah, akademisi, komunitas, media, relawan literasi, hingga pemerhati anak untuk merancang langkah konkret meningkatkan budaya baca sejak usia dini.
Bunda PAUD sekaligus Bunda Literasi Kota Balikpapan, Hj Nurlena Rahmad Mas
Ia berharap forum KIARA mampu melahirkan program yang benar-benar memberikan dampak bagi anak-anak, mengingat tingkat literasi di Kalimantan Timur masih perlu terus ditingkatkan.
"Literasi sangat penting. Oleh karena itu kami mengajak seluruh unsur, mulai dari OPD, komunitas, akademisi, mahasiswa, hingga media massa untuk bergandengan tangan, agar literasi di Kota Balikpapan meningkat secara signifikan," ujarnya, saat membuka FGD KIARA, di Aula Dispustakar Balikpapan, pada hari Selasa, 4 Agustus 2026.
Nurlena menegaskan hasil diskusi tidak boleh berhenti sebagai rekomendasi di atas kertas. Program yang disusun harus ditindaklanjuti dan diterapkan hingga ke tingkat kelurahan agar manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Jangan sampai diskusi hari ini berhenti di sini. Harus ada tindak lanjut dan diimplementasikan di setiap kelurahan di Kota Balikpapan," katanya.
Menurut Nurlena, penguatan literasi juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan Balikpapan sebagai Kota Ramah Anak. Pemerintah kota telah menghadirkan taman ramah anak di enam kecamatan sebagai ruang bermain sekaligus ruang belajar yang mendorong anak lebih aktif berinteraksi dengan lingkungan.
Ia menilai keberadaan taman tersebut penting untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap penggunaan gawai serta menanamkan kebiasaan membaca dan belajar dalam kehidupan sehari-hari.
"Anak-anak sekarang banyak menggunakan gadget. Karena itu kami ingin mengajak mereka kembali memanfaatkan taman-taman ramah anak agar lebih peduli terhadap lingkungan dan membiasakan literasi dalam kehidupan sehari-hari," tuturnya.
Kolaborasi bersama Tanoto Foundation juga diharapkan mendukung berbagai program pembangunan sumber daya manusia, termasuk penguatan pendidikan anak usia dini dan percepatan penurunan angka stunting melalui peningkatan pengetahuan keluarga.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Balikpapan, Neny Dwi Winahyu, menjelaskan KIARA dirancang sebagai forum penyusunan program peningkatan literasi anak berbasis kolaborasi pentahelix.
Forum tersebut diikuti Organisasi Perangkat Daerah (OPD), akademisi, pemerhati literasi anak, relawan, komunitas, serta media massa agar setiap unsur memahami peran masing-masing dalam membangun ekosistem literasi di Balikpapan.
"Harapannya, akan lahir program-program yang benar-benar menyentuh masyarakat. Seluruh unsur pentahelix memiliki peran dalam meningkatkan literasi, termasuk media massa yang terus mengampanyekan pentingnya budaya membaca," ujar Neny.
Ia menambahkan pengembangan sumber daya manusia harus dimulai sejak usia dini. Karena itu, budaya literasi perlu diperkenalkan kepada anak-anak sedini mungkin, agar menjadi fondasi lahirnya generasi yang cerdas, kreatif, dan berdaya saing.
Neny optimistis hasil FGD KIARA segera ditindaklanjuti. Sesuai komitmen bersama Tanoto Foundation, dalam waktu paling lambat tiga bulan akan disusun rencana aksi yang dapat diimplementasikan secara bertahap di Kota Balikpapan sebagai gerakan bersama meningkatkan minat baca anak. (Las)