
Potret kedua kendaraan, antara mobil listrik)(atas) dan mobil konvensional (bahan bakar minyak). Sabtu (01/08/2026).(Foto: Abi/KutaiRaya.com)
Samarinda, (KutaiRaya.com) : Perkembangan kendaraan listrik di Indonesia mulai mengubah cara masyarakat memandang biaya transportasi harian. Di Kota Samarinda, mobil listrik perlahan mulai terlihat di jalanan, meski jumlah kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) masih mendominasi.
Perbedaan paling mencolok dari kedua jenis kendaraan itu terletak pada biaya operasional. Berdasarkan rata-rata konsumsi energi, mobil listrik membutuhkan sekitar 12–18 kWh untuk menempuh jarak 100 kilometer. Dengan tarif listrik rumah tangga sekitar Rp1.450–Rp1.700 per kWh, biaya pengisian daya berkisar Rp18 ribu hingga Rp30 ribu untuk jarak tersebut.
Sementara itu, mobil berbahan bakar minyak dengan konsumsi rata-rata 12–15 kilometer per liter membutuhkan sekitar 7–8 liter bensin untuk menempuh jarak yang sama. Dengan harga BBM nonsubsidi sekitar Rp12 ribu–Rp13 ribu per liter, biaya yang harus dikeluarkan mencapai Rp85 ribu hingga Rp105 ribu per 100 kilometer.
Artinya, dari sisi konsumsi energi, mobil listrik mampu menghemat biaya hingga tiga sampai empat kali lipat dibandingkan mobil berbahan bakar minyak.
Selain lebih hemat energi, mobil listrik juga memiliki biaya perawatan yang relatif lebih rendah. Kendaraan ini tidak memerlukan penggantian oli mesin, busi, filter udara mesin, maupun beberapa komponen pada sistem pembakaran. Sebaliknya, mobil konvensional membutuhkan servis berkala yang meliputi penggantian oli, filter, busi, hingga perawatan sistem transmisi dan mesin.
Meski demikian, kendaraan berbahan bakar minyak masih memiliki sejumlah keunggulan. Waktu pengisian BBM hanya memerlukan sekitar tiga hingga lima menit, sedangkan pengisian mobil listrik menggunakan pengisi daya rumah membutuhkan waktu sekitar enam hingga sepuluh jam.
Apabila menggunakan fasilitas fast charging, waktu pengisian dapat dipersingkat menjadi sekitar 30–60 menit hingga kapasitas baterai mencapai 80 persen.
Di sisi lain, jaringan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) juga masih jauh lebih banyak dibandingkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), sehingga mobil berbahan bakar minyak masih dianggap lebih praktis untuk perjalanan antarkota maupun menuju daerah yang belum memiliki fasilitas pengisian daya.
Salah seorang pengguna mobil listrik di Samarinda, Andi Prasetyo, mengaku mulai merasakan manfaat efisiensi sejak beralih menggunakan kendaraan listrik sekitar satu tahun lalu.
"Awalnya memang ragu karena harga mobil listrik cukup tinggi. Tapi setelah digunakan setiap hari, biaya operasionalnya jauh lebih hemat. Kalau dulu mengisi bensin bisa ratusan ribu rupiah dalam beberapa hari, sekarang biaya isi daya jauh lebih ringan," katanya, Sabtu (1/8/2026).
Menurut Andi, penghematan tidak hanya dirasakan dari konsumsi energi, tetapi juga biaya perawatan kendaraan.
Ia mengatakan, selama menggunakan mobil listrik, biaya servis jauh lebih rendah karena tidak lagi mengeluarkan biaya untuk penggantian oli mesin maupun beberapa komponen yang biasa diganti pada mobil berbahan bakar minyak.
"Perawatannya lebih sederhana sehingga pengeluaran rutin juga ikut berkurang," ujarnya.
Sementara itu, pengguna mobil berbahan bakar minyak, Rudi Hartono, menilai kendaraan konvensional masih menjadi pilihan yang paling sesuai dengan kebutuhannya.
"Saya sering bepergian keluar Samarinda. Mobil berbahan bakar masih lebih nyaman karena SPBU mudah ditemukan dan isi bensin hanya beberapa menit," ungkapnya.
Rudi mengakui, biaya operasional kendaraan berbahan bakar memang lebih besar dibandingkan mobil listrik. Namun, menurutnya, kemudahan mendapatkan BBM menjadi nilai lebih yang sulit tergantikan. Ia menjelaskan bahwa perjalanan ke sejumlah wilayah di Kalimantan masih belum sepenuhnya didukung fasilitas SPKLU.
"Kalau tujuan perjalanan jauh atau masuk daerah yang infrastrukturnya belum lengkap, saya merasa lebih tenang menggunakan mobil berbahan bakar minyak," tuturnya.
Secara umum, mobil listrik menawarkan biaya energi sekitar Rp180–Rp300 per kilometer, sedangkan mobil berbahan bakar minyak berada pada kisaran Rp850–Rp1.050 per kilometer.
Selain itu, kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi gas buang langsung saat digunakan dan memiliki biaya perawatan yang lebih rendah. Di sisi lain, mobil berbahan bakar minyak masih unggul dari segi kecepatan pengisian energi, ketersediaan infrastruktur, serta fleksibilitas untuk perjalanan jarak jauh.
Karena itu, pilihan antara mobil listrik dan mobil konvensional masih sangat bergantung pada kebutuhan, pola mobilitas, serta kemampuan finansial masing-masing pengguna.
Seiring bertambahnya jumlah kendaraan listrik dan pembangunan SPKLU di berbagai daerah, masyarakat diperkirakan akan memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan kendaraan yang paling efisien untuk digunakan. Namun, hingga saat ini, kendaraan listrik dan kendaraan berbahan bakar minyak masih sama-sama memiliki keunggulan sesuai kebutuhan penggunanya. (*Abi)