• Senin, 27 Juli 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Suasana Walking Tour dan Mini Festival Heritage, Minggu (26/7/2026).(Foto: Yudi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Pengurus Cabang Samarinda, menggelar Walking Tour dan Mini Festival Heritage bertajuk "Harmoni Mahakam: Muara Lintas Budaya", Minggu, (26/7/2026).

Kegiatan ini mengajak masyarakat menelusuri sejarah kawasan Pecinan Samarinda, menikmati kekayaan kuliner, serta memperkuat harmoni masyarakat multikultural yang tumbuh di kawasan tepian Sungai Mahakam.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penelusuran kawasan bersejarah Citra Niaga Samarinda dan berakhir di klenteng sebrang pelabuhan, tempat peserta disambut pertunjukan barongsai sebagai simbol pelestarian budaya Tionghoa yang telah menjadi bagian dari sejarah Kota Samarinda.

Ketua KAGAMA Samarinda, Raynold Tumbo Panggalo, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian pra-Dies Natalis Universitas Gadjah Mada (UGM) ke-77 dan Dies Natalis KAGAMA ke-67 yang diperingati tahun ini.

Menurutnya, setiap pengurus cabang diberikan keleluasaan menentukan kegiatan sesuai karakteristik daerah masing-masing. KAGAMA Samarinda memilih mengangkat tema pelestarian budaya dan sejarah lokal sebagai bentuk kontribusi kepada masyarakat.

"Kegiatan ini merupakan rangkaian pra-Dies Natalis UGM ke-77 sekaligus Dies Natalis KAGAMA ke-67. Kami memilih mengenalkan kawasan Pecinan Samarinda karena memiliki nilai sejarah dan budaya yang penting untuk terus dilestarikan, sekaligus menjadi bentuk kolaborasi bersama pemerintah dalam mengembangkan potensi budaya daerah," ujar Raynold.

Ia menjelaskan, kegiatan bertema budaya tersebut bukan satu-satunya agenda yang disiapkan KAGAMA Samarinda. Pada rangkaian peringatan Dies Natalis tahun ini, pihaknya juga akan melaksanakan program reboisasi di kawasan bekas tambang yang telah rutin dilakukan selama tiga tahun terakhir, serta bersilaturahmi dengan para alumni senior UGM di Kalimantan Timur.

Ia menambahkan, KAGAMA Samarinda terus menunjukkan perkembangan organisasi yang cukup pesat. Saat ini komunitas alumni yang tergabung dalam grup komunikasi mencapai sekitar 500 orang, sedangkan data keseluruhan alumni UGM yang berada di Samarinda dan sekitarnya telah menembus lebih dari 1.000 orang dari berbagai angkatan.

"Harapan kami, KAGAMA Samarinda semakin solid dan terus memberikan manfaat bagi daerah tempat kami tinggal. Melalui berbagai kegiatan seperti ini, kami ingin terus hadir dan berkontribusi bagi masyarakat," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Timur, Muhammad Faisal, menilai kegiatan tersebut menjadi langkah awal membangun ekosistem wisata sejarah yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari akademisi, komunitas budaya, pemerintah, hingga organisasi masyarakat.

Menurutnya, kolaborasi tersebut penting untuk menggali kembali sejarah lama Kota Samarinda yang memiliki nilai warisan budaya (heritage) sekaligus mengembangkannya menjadi destinasi wisata edukatif.

"Ini menjadi awal yang baik untuk menggali sejarah Kota Samarinda yang merupakan warisan budaya. Kalau dikembangkan dengan baik, kawasan Pecinan dapat menjadi destinasi wisata yang menghadirkan sejarah, kuliner, dan terhubung dengan kawasan Citra Niaga, pelabuhan, hingga wisata Sungai Mahakam. Potensinya sangat besar dan pemerintah provinsi siap mendukung," ujarnya.

Dirinya menambahkan, pengembangan sektor pariwisata tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, komunitas, akademisi, dan pelaku budaya menjadi kunci dalam menciptakan destinasi wisata yang berkelanjutan.

"Yang paling penting adalah membangun ekosistem bersama. Dengan kolaborasi, pengembangan pariwisata akan lebih kuat, apalagi di tengah kondisi keuangan yang menuntut semua pihak saling mendukung," katanya.

Senada dengan itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kalimantan Timur sekaligus pengurus KAGAMA Kaltim, Ririn Sari Dewi, mengapresiasi inisiatif KAGAMA Samarinda yang mengangkat wisata budaya sebagai bagian dari peringatan Dies Natalis.

Ia menilai kegiatan tersebut menjadi media edukasi yang efektif untuk memperkenalkan sejarah kawasan Pecinan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

"Kami mengapresiasi program kerja KAGAMA Samarinda yang membangun kolaborasi dengan pemerintah dalam mengembangkan pariwisata budaya. Melalui kegiatan ini, masyarakat dapat mengenal sejarah kawasan Pecinan dan nilai-nilai budaya yang menjadi bagian dari perjalanan Kota Samarinda. Ini merupakan edukasi wisata yang sangat baik untuk terus disosialisasikan kepada masyarakat Kalimantan Timur," ujar Ririn.

Melalui kegiatan Walking Tour dan Mini Festival Heritage tersebut, KAGAMA Samarinda berharap kawasan Pecinan tidak hanya dikenal sebagai pusat perdagangan, tetapi juga berkembang menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya yang mampu memperkuat identitas Kota Samarinda sebagai kota multikultural di tepian Sungai Mahakam. (*Yud)



Pasang Iklan
Top