• Minggu, 26 Juli 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Potret antrian di SPBU Jl. Kesuma Bangsa (depan Hotel Mesra). Rabu (22/07/2026).(Foto: Abi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar jenis Pertalite kembali terjadi di SPBU Jalan Kusuma Bangsa, tepatnya di depan Hotel Mesra, Samarinda, Rabu (22/7/2026).

Panjangnya antrean bahkan mengular hingga mendekati akses masuk Balai Kota Samarinda dan menyebabkan arus lalu lintas di kawasan tersebut melambat.

Pantauan di lokasi sejak siang hari memperlihatkan deretan kendaraan roda dua maupun roda empat memenuhi jalur menuju pintu masuk SPBU. Sebagian pengendara tampak harus menunggu cukup lama sebelum akhirnya dapat mengisi bahan bakar.

Kondisi ini membuat sejumlah pengguna jalan mengeluhkan lamanya waktu antre serta dampaknya terhadap aktivitas harian mereka. Selain memperlambat perjalanan, antrean juga menyebabkan kepadatan di ruas Jalan Kusuma Bangsa yang menjadi salah satu jalur utama di pusat Kota Samarinda.

Salah seorang pengendara mobil, Yudi, mengaku telah menunggu hampir setengah jam untuk mendapatkan Pertalite. Menurutnya, antrean panjang seperti ini bukan kali pertama terjadi dan cukup menyita waktu masyarakat.

Yudi mengatakan, dirinya sudah berada di barisan antrean sekitar 30 menit, namun kendaraan di depannya masih bergerak sangat lambat.

"Saya sudah hampir setengah jam mengantre, tetapi antreannya belum juga banyak bergerak. Padahal saya hanya ingin mengisi Pertalite untuk keperluan bekerja," ujarnya.

Ia menilai, kondisi tersebut seharusnya dapat diantisipasi agar masyarakat tidak terus mengalami kesulitan memperoleh bahan bakar.

"Kalau seperti ini terus, tentu sangat mengganggu aktivitas. Banyak orang yang punya pekerjaan dan harus mengejar waktu, tapi malah habis di jalan karena antre bensin," katanya.

Yudi menyayangkan, antrean panjang kembali terjadi di salah satu SPBU yang berada di pusat kota. Menurutnya, kondisi tersebut juga berpotensi memicu kemacetan yang lebih panjang.

"Saya berharap ada solusi supaya antrean tidak sampai memanjang ke jalan raya. Kasihan pengguna jalan lain yang ikut terdampak," ungkapnya.

Ia berharap, pasokan Pertalite dapat tetap terjaga sehingga masyarakat tidak perlu menghabiskan waktu lama hanya untuk mendapatkan bahan bakar.

"Harapan kami sederhana, stok Pertalite tetap tersedia dan distribusinya lancar. Jadi masyarakat tidak perlu berebut atau mengantre selama ini," tuturnya.

Keluhan serupa juga disampaikan pengendara sepeda motor, Humairah. Ia menilai Pertalite masih menjadi pilihan utama masyarakat karena harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan BBM nonsubsidi.

Humairah menjelaskan bahwa, kenaikan harga Pertamax membuat banyak masyarakat beralih menggunakan Pertalite untuk menekan pengeluaran harian, terutama bagi pekerja dan pelajar yang menggunakan kendaraan setiap hari.

"Sekarang Pertalite memang jadi harapan masyarakat. Tidak semua orang mampu membeli Pertamax karena selisih harganya cukup terasa," ucapnya.

Menurutnya, ketika stok Pertalite di SPBU terbatas atau harus mengantre panjang, sebagian masyarakat terpaksa membeli BBM eceran meski harganya jauh lebih mahal.

"Kalau sudah tidak sempat mengantre, mau tidak mau beli eceran. Selisihnya bisa sampai sekitar Rp3.000 per liter, tapi itu terpaksa karena kendaraan harus tetap jalan," katanya.

Humairah juga berharap, distribusi Pertalite di Samarinda dapat berjalan lebih lancar agar masyarakat tidak lagi dihadapkan pada pilihan antara mengantre berjam-jam atau membeli BBM eceran dengan harga yang lebih tinggi.

"Mudah-mudahan ke depan stoknya lebih stabil sehingga masyarakat bisa mengisi bahan bakar dengan normal tanpa harus menghabiskan banyak waktu di antrean," pungkasnya. (*Abi)



Pasang Iklan
Top