• Kamis, 16 Juli 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kegiatan tarian adat Dayak, yang setiap minggu dilkukan di Rumah Adat Dayak, Desa Budaya Pampang, Kota Samarinda. Rabu (15/07/2026).(Foto:Abi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Upaya pelestarian kebudayaan di Kota Samarinda terus diperkuat melalui berbagai kegiatan seni, tradisi, hingga kolaborasi antara pemerintah, komunitas budaya, dan kalangan akademisi. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga identitas daerah di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan modernisasi.

Salah satu bentuk upaya nyata yang dilakukan melalui penyelenggaraan Festival Budaya Dayak Kenyah di Desa Budaya Pampang yang menjadi agenda tahunan Pemerintah Kota Samarinda. Festival tersebut tidak hanya menampilkan pertunjukan seni dan tradisi, tetapi juga menjadi ruang promosi bagi pelaku UMKM, kerajinan lokal, serta kuliner khas Kalimantan Timur.

Namun, terlepas dari agenda Festival tersebut, masyarakat Desa Budaya Pampang, hampir setiap minggu mengadakan tarian dan kegiatan yang berkaitan dengan warisak kebudayaan di rumah adat Dayak tersebut.

Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Disporapar Kota Samarinda, Diana Pida, mengatakan festival budaya merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga keberlanjutan budaya daerah sekaligus meningkatkan daya tarik wisata.

"Festival Budaya Dayak Kenyah bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi wadah untuk melestarikan budaya sekaligus memperkenalkan identitas Samarinda kepada masyarakat luas," ujarnya, Rabu (15/7/2026).

Menurut Diana, keterlibatan masyarakat, pelaku seni, dan berbagai organisasi menjadi modal penting agar warisan budaya tetap lestari dan mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

"Penting sekali, warisan budaya saya rasa tidak cukup jika di sampaikan pada mata pelajaran saja, perlu ada agenda-agenda yang berfokus pada kebudayaan," tegasnya.

Tidak hanya itu, dirinya juga menilai rumah adat dan ruang budaya harus dimanfaatkan sebagai pusat aktivitas masyarakat.

"Rumah adat harus menjadi ruang belajar bersama, tempat komunitas berkegiatan, serta media untuk mengenalkan adat dan tradisi kepada generasi muda," katanya.

Ia menambahkan, pelibatan sekolah, keluarga, dan komunitas menjadi faktor penting agar generasi muda tidak kehilangan kedekatan dengan budaya lokal.

"Semua elemen saya rasa harus melampirkan agenda-ageda yang berkaitan dengan pengetahuan budaya alokal. Ruang lingkup paling kecil misalnya, seerti keluarga saya rasa juga punya peran penting untuk memberikan edukasi ya. Sekolah atau bahkan komunitas, juga baigan dari gerakan untuk tetao menjaga pemahamna budaya lokal ke generasi," jelasnya.

Sementara, Pengamat budaya dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman, Irma Surayya Hanum, menilai Samarinda memiliki kekuatan pada keberagaman etnis yang selama ini mampu melahirkan identitas budaya yang khas. Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui festival, tetapi juga harus diperkuat melalui pendidikan, penelitian, dan dokumentasi budaya.

"Keberagaman budaya di Samarinda merupakan modal sosial yang sangat besar. Budaya lokal harus terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga tidak hanya menjadi tontonan saat festival, tetapi juga menjadi identitas masyarakat," ujarnya.

Hanum menjelaskan, karakter multikultural masyarakat Samarinda justru menjadi kekuatan dalam membangun harmoni sosial. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku seni, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar warisan budaya dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

"Seiring perjalanan waktu, kebudayaan juga harus terus terjaga, dengan keterlibatan pemerintah, budayawan, akademisi, para pelaku seni dan masyarakat adat itu sendiri, tentu itu menjadi satu kolaborasi yang lengkap saya rasa untuk terus menjaga warisan kita," paparnya.

Untuk itu, ia berharap, berbagai event atau acara yang digelar di Kota Samarinda, turut mencantumkan narasi kebudayaan. Hal ini, sebagai slaah satu langkah konkret untuk terus menjaga kebudayaan di Kota Samarinda. (*Abi)



Pasang Iklan
Top